Masyarakat Adalah Subyek Dalam Pencegahan Dan Pemberantasan Narkoba

AE9W7197Saya menyadari bahwa kita harus bersama melawan peredaran narkotika di Republik ini. Kita sudah terlanjur kebobolan 4 Juta orang yang terlanjur mengkonsumsi narkotika, 4 Juta orang inilah yang harus kita pulihkan. Saya telah mengambil langkah-langkah strategis dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat dalam melakukan pencegahan, pemberantasan dan merehabilitasi pengguna narkoba, karena yang tahu persis lingkungannya adalah masyarakat itu sendiri. Masyarakat itu yang tiap hari bergaul dengan lingkungannya karenanya dia harus  menjadi subyek dari pencegahan, pemberantasan dan rehabilitasi penyalahgunaan narkoba.

Saya mendorong kepada masyarakat secara perseorangan, secara kelompok, perkumpulan atau paguyuban untuk mengambil peran. Misalnya dengan menjadi penyuluh atau motivator kelompok remaja di sekolah yang terjangkau dengan tempat tinggal, atau membuat berbagai kegiatan tentang pencegahan narkoba di lingkungan tempat tinggalnya. Silakan, BNN akan mendukung dan memfasilitasi. Kalau melihat ada peredaran narkoba di sekitar masyarakat silakan dilaporkan ke BNN atau ke Kepolisian terdekat supaya mendapatkan penanganan. Jadi intinya kita harus bergerak bersama-sama, sebab kalau tidak akan timpang.

Mengenai ulah bandar Narkoba memang sangat berwarna, mereka juga menyusup ke para Aparat penegak hukum dengan uang yang dimiliknya, masuk ke Pengacara untuk meloloskan jerat hukum, mereka masuk ke para pengambil kebijakan di negeri ini, dengan lihainya dia bisa mempengaruhi masyarakat agar mengkonsumsi narkoba.

Tapi berkaitan dengan target Indonesia negeri bebas narkoba tahun 2015, saya tetap optimis, karena  saya selaku Kepala BNN akan tetap pada sikap kelembagaan, yakni berperang terhadap penyalahgunaan narkoba dengan tiga jurus, yaitu yang belum terlibat menggunakan narkoba kita lakukan dengan pencegahan, yang sudah terlanjur menggunakan kita rehabilitasi, bisa dibayangkan apabila empat juta orang pengguna narkoba itu mendadak sembuh karena direhabilitasi secara serempak, tentu Indonesia akan terbebas dari narkoba, karena tidak ada yang mengkonsumsi, dan yang berakibat tidak ada peredaran, namun kenyataannya kita belum punya tempat rehabilitasi yang memadahi. Khusus kepada pengedar jurus yang paling ampuh adalah kita tindak dan kita penjarakan. Selain itu BNN akan kerjasama dengan negara-negara Asean dan negara di dunia yang terkenal sebagai produsen narkotika.

Kita akan optimalkan peran masyarakat. Dengan melihat kinerja BNN selama ini yang sudah serius dan dibantu oleh masyarakat, saya yakin untuk mencapai target Indonesia negeri bebas narkoba akan terwujud.

Dalam menjalankan kehidupan sehari – hari apalagi mengemban sebuah amanah sebagai Kepala BNN saya menyadari betul tantangan tugas baik dari dalam maupun dari luar organisasi yang dapat menjadi penghalang setiap saat, oleh karena itu didasari atas keyakinan beragama saya, saya juga memanfaatkan ajaran Hasto Broto oleh Begawan Kesowo Sidi, yang konon kabarnya adalah penjelmaan Tuhan yang Maha Esa di dunia, ajaran tersebut intinya  kita diminta belajar dari alam semesta, khususnya delapan sifat benda besar alam semesta, yaitu Matahari, Bumi, Bulan, Bintang, Api, Air, Angin dan Angkasa, “Benda-benda alam ini punya takdir dan fungsi masing-masing. Sejatinya kita semua juga punya takdir dan berpulang pada nasib kita masing-masing, itu perlu keyakinan untuk dijalankan atau tidak.

Dari ajaran tersebut dapat diambil kesimpulan ada empat unsur yang harus dijalankan seorang pemimpin untuk mencapai keseimbangan dalam memimpin dan menjalani kehidupan. Unsur pertama adalah ketauladanan meliputi  kejujuran, keberpihakan kepada masyarakat, kesederhanaan, keseriusan dan konsistensi dalam memimpin dan menjalani kehidupan,

Kedua, menciptakan “team building” yang solid, penjabarannya dengan sungguh-sungguh menanamkan sifat tidak boleh saling iri, tidak boleh mengeluh, harus sadar bahwa kekuatan dan keberhasilan seorang pemimpin terdapat pada anggota terlemah. Intinya, pusatkan perhatian pada anggota terlemah.  Ini inti dari pada misi seorang pemimpin.

Belajar memimpin itu dimulai dari ketika ia menjadi anak buah. Kita harus sungguh-sungguh dan total menjadi anak buah yang baik. Karena kalau tidak bisa menjadi anak buah yang baik, tidak akan bisa menjadi pemimpin yang baik.

Ketiga meningkatkan kemampuan anak buah, ini adalah investasi, investasi itu panennya jangka panjang, oleh karena itu kita harus meningkatkan kemampuan pengetahuan, ketrampilan dan perilaku anak buah agar makin lama makin matang dalam menjalani kehidupan.

Keempat, keberhasilan pelaksanaan tugas untuk mencapai misi yang kita inginkan. Misi kita sejatinya adalah memilih jalan hidup bahagia yang berorientasi pada kebahagiaan akherat, “Intinya kita itu penyelam. Sebagai penyelam kita boleh “sambil menyelam minum air” tapi jangan banyak-banyak, kalau kebanyakan  kita bisa tenggelam. Intinya pemimpin itu lakunya mengorbankan “miliknya” demi kemanusiaan.

 

 

About these ads

About anangiskandar

sabar itu indah sabar itu tanpa batas sabar itu jimat menghadapi ujian dunia sabar itu mata hati dalam menjalani kehidupan
This entry was posted in Hukum, Inspirasi, Kepolisian, Leadership, Narkoba and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s