Mencari Alternatif Pendapatan

Bagian ke 3 dari 4 tulisan saya ketika mengunjungi Doi Tung Chiang Rai Thailand

Sekilas, tidak ada yang luar biasa dari hutan di lereng pegunungan Doi Tung. Provinsi Chiang Rai, itu. Di daratan setinggi 1.100 meter di atas permukaan laut itu, pohon lebat menghijau sejauh mata memandang. Jika diperhatikan baik-baik, barulah tampak deretan pohon kopi disela pepohonan, terlindung dari sengatan matahari. Ada ratusan ribu pohon kopi di area seluas lebih dari 400 hektare itu. “Ini kami namakan hutan ekonomi,” kata Kun Chai arsitekĀ  proyek Doi Tung

Hutan ekonomi Doi Tung, yang terdiri dari atas kopi dan kacang makademia, adalah bagian dari inisiatif Kerajaan Thailand untuk menyelamatkan hutan diperbatasan Thailand-Myanmar. Dua dekade silam, hampir separuh wilayah seluas 150 kilometer persegi itu gundul akibat perladangan berpindah. Sekarang, selain hutan ekonomi yang disebut Kun Chai, ada hutan lindung sekitar 1.400 hektare di puncak-puncak perbukitan. Sulit menyangka daerah asri ini dulu perbukitan meranggas yang penuh debu.

Penghutanan kembali Doi Tung bukan pekerjaan mudah. Kawasan ini dulu masuk area Segitiga Emas-daerah delta Sungai Mae Kong yang mempertemukan perbatasan Thailand, Laos, dan Myanmar-yang tenar dengan opiumnya. Tidak kurang dari 150 ton opium dihasilkan daerah ini setiap tahun. Chiang Rai terletak 830 kilometer di sebelah utara Bangkok.

Perlahan, para peladang opium ini insaf. Sebagian besar dari mereka berasal dari suku Shan, Akha, dan Lahu-penduduk pegunungan yang miskin dan berpendidikan rendah. Ada juga yang merupakan pelarian Kuomintang dari Tiongkok. “Kuncinya adalah menyediakan alternatif pendapatan untuk mereka. Ini bukan soal Opium, melainkan soal ekonomi,” jelas Khun Chai.

Alhasil, hidup banyak orang berubah drastis. Sekarang lebih dari 2.500 keluarga suku-suku pegunungan yang semula menggantungkan hidup pada opium beralih menanam kopi, kacang makademia, sayur-mayur, dan komoditas pertanian lain. Penghasilan warga pun meroket sepuluh kali lipat dari 3.500 baht per tahun per orang pada 1988 menjadi 30.700 baht pada 2008.

Untuk memastikan keberhasilan program ini, lebih dari 10 ribu penduduk di kawasan itu di data. “Nama, sidik jari, dan foto setiap orang disini, dari balita sampai orang tua, tercatat dalam database kami,” katanya. Data itu diperbarui setiap lima tahun. Dengan demikian, kesehatan, kesejahteraan, dan masalah mereka bisa dipantau dan dicarikan solusinya.

Sejak itu, Doi Tung beralih rupa, menjadi pusat agrobisnis di sisi paling utara Thailand. Jalan penghubung Kota Mae Chan, Chiang Rai, dengan puncak Doi Tung mulus di aspal. Rumah-rumah warga tertata rapi dan bersih. Ini kontras dibanding dua dekade lalu. “Saat itu klinik, sekolah, dan jalan raya tidak ada,” kata Khun Chai.

Hasil panen kopi dan kacang makademia dari Doi Tung tidak dijual dalam bentuk mentah. Semuanya diolah dan dikemas apik sebelum dipasarkan. “Pengolahan penting untuk mendongkrak harga,” kata Khun Chai.

Pohon makademia setinggi rambutan dan butuh 8-10 tahun untuk berbuah. Namun sekali berbuah, dengan perawatan baik, makademia bisa berproduksi sampai lebih dari 80 tahun.

Kata Kunci

  1. Mencari penghasilan alternatif sebelum benar – benar target terwujud
  2. Menanam kopi hasilnya kopi juga, yang penting proses pengolahannya yang bisa mendongkrak harga.

About anangiskandar

sabar itu indah sabar itu tanpa batas sabar itu jimat menghadapi ujian dunia sabar itu mata hati dalam menjalani kehidupan
This entry was posted in Narkoba. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s