Jangan Paksakan Kehendak Pada Rakyat

Bagian ke 2 dari 4 tulisan saya waktu mengunjungi Doi Tung, Chiang Rai Thailand.

Tiga puluh tahun lebih sudah proyek Doi Tung I berjalan di Provinsi Chiang Rai, Thailand Utara. Sebelumnya selama beberapa generasi, Chiang Rai merupakan bagian dari segitiga emas yang dahulu dikenal sebagai lumbung opium. Berkat proyek tersebut, ratusan orang berhasil diselamatkan dari lembah hitam kemiskinan yang lahir dari pertanian opium. Masyarakat di kaki gunung di wilayah itu bisa memperoleh kehidupan yang layak dan memiliki pekerjaan alternatif di luar opium dan prostitusi.

Siapa tokoh di balik kesuksesan proyek menghilangkan pertanian opium di Doi Tung itu? Dialah Disnadda Diskul. Pangeran dari keluarga Kerajaan Thailand itu mengerahkan seluruh waktunya untuk mengelola proyek pemberantasan kemiskinan di negerinya itu selama puluhan tahun.

Pria yang kini berusia 70 tahun itu, sejak dulu memegang prinsip yang sangat kuat dan tak bisa digoyahkan, bahwa tidak ada manusia yang jahat. “Orang menjadi jahat karena miskin. Kalau orang kesulitan mencari pekerjaan yang legal, ia akan melakukan pekerjaan yang ilegal, seperti menanam opium,” ujar Disnadda di hadapan Delegasi Indonesia yang belum lama ini berkunjung ke Doi Tung.

Disnadda yang kerap disapa Khun Chai, yang artinya pangeran dalam bahasa Thai, mengawali pengabdiannya dalam pemberantasan kemiskinan dan peredaran opium di Doi Tung, dengan menjadi sekretaris pribadi Ibu Suri Srinagarindra sejak 1967.

“Proyek ini yang merintis adalah Ibu Suri. Sejak tahun 1967 Ibu Suri sering berkeliling ke desa-desa di Chiang Rai, melihat penderitaan rakyat akibat kemiskinan, kurang pendidikan dan minim kesehatan. Melihat kondisi seperti itu, Ibu Suri merasa prihatin dan tergerak hatinya untuk membebaskan rakyat dari penderitaan,” kisah Khun Chai yang selalu mendampingi Ibu Suri kemana ia pergi.

Ibu Suri dan Khun Chai mengunjungi desa-desa di Chiang Rai menggunakan helikopter karena medannya bergunung-gunung. Usia senja tak menghalangi Ibu Suri untuk memberikan perhatian kepada rakyatnya.

Khun Chai yang menjabat sebagai Sekjen Mae Fah Luang Foundation, mengepalai langsung proyek Doi Tung. Melalui ide-idenya, Khun Chai menawarkan solusi bagaimana menekuni pekerjaan di luar opium dan prostitusi yang dapat merubah nasib rakyatnya yang menderita akibat kemiskinan.

“Kita tidak bisa memaksakan konsep kita kepada rakyat. Kita harus tahu, keahlian mereka apa. Kalau mereka ahli menenun, kita beri mereka bimbingan bagaimana cara menenun yang bisa menghasilkan uang banyak. Kita tidak bisa memaksa rakyat untuk menekuni suatu bidang yang mereka tidak suka. Kalau itu yang kita lakukan, program kita tidak akan pernah berhasil” jelas Khun Chai.

Meskipun wajahnya telah dipenuhi gurat-gurat ketuaan, tapi semangatnya masih tetap menyala-nyala. Rambut putihnya pun memonopoli kepala dan semakin mempertegas betapa pangeran asal Thailand itu kaya akan pengalaman hidup.

Namun, kesan tua dan tak berdaya tidak akan tampak saat mendengarkannya berbicara tentang pemberantasan kemiskinan. Khun Chai yang memiliki badan tegap itu, geraknya masih terlihat gesit dan lincah. Penampilannya selalu tampak sederhana, berkaos oblong dan celana berwarna gelap, tanpa embel-embel perhiasan lain kecuali kacamata yang menggantung di depan matanya.

Tak ada satu pun benda yang ia pakai bisa dijadikan petunjuk kalau Kun Chai adalah seorang pangeran, kecuali karisma dan kematangannya  dalam memimpin.

Namun, di balik kesederhanaannya itu, mengalir dari otaknya ide-ide dan strategi untuk membantu masyarakat yang menderita akibat kemiskinan dan keterbelakangan pendidikan, menjadi masyarakat yang cerdas dan mandiri.

“Selama saya masih hidup saya akan terus berpikir dan melakukan sesuatu. Ketika menolong orang, memang bukan uang yang saya dapatkan. Tapi, saya dapat kepuasan yang tidak bisa dibeli dengan uang,” ujar pria kelahiran Bangkok, 14 November 1939 itu.

Menurutnya, ada hal-hal tertentu yang tak bisa dibeli dengan uang. Karena itu, ia tidak akan berhenti berbuat dan menolong sesama hingga ajal menjemputnya. Sebab, ada dorongan yang sangat kuat dalam dirinya untuk terus menyebarkan proyek Doi Tung kepada yang membutuhkan.

“Anda akan bangga karena bisa menolong orang. Itu yang mendorong saya sangat kuat. Saya tidak akan mengambil apa pun dari orang lain. Saya sudah berkecukupan walau saya tidak kaya dan bukan miliarder,” kata lulusan Universitas Bloomington Amerika itu.

Saat ini, ia merasa uang yang ia miliki sudah cukup sehingga sudah saatnya membantu orang lain. “Kalau ada orang yang punya uang miliaran, tapi masih merasa belum cukup, mereka sebenarnya miskin!” tegas Khun Chai.

Ia mengatakan banyak orang kaya di dunia ini dan seharusnya mereka membagi harta mereka kepada orang yang lebih membutuhkan.

Khun Chai memiliki satu kunci kesuksesan dalam menjalankan proyek-proyeknya, yaitu kerja, kerja, dan kerja, “Jangan banyak ngomong, keluar dan lakukan. Jika terlalu banyak ngomong, pekerjaan tidak akan selesai,” tegasnya kepada saya.

Khun Chai merupakan pribadi yang sangat bersahaja dan sederhana, ide-ide dan pemikirannya dalam hal membebaskan rakyat dari jeratan kemiskinan dan penderitaan, pantas dijadikan teladan. (*)

Kata Kunci

  1. Kalau orang kesulitan mencari pekerjaan yang legal, maka ia akan melakukan pekerjaan yang illegal.
  2. Kalau ingin merubah harus mengetahui posisi awal dan bagaimana cara merubah.
  3. Kerja, kerja dan kerja, Jika terlalu banyak bicara, pekerjaan tidak akan selesai.

About anangiskandar

sabar itu indah sabar itu tanpa batas sabar itu jimat menghadapi ujian dunia sabar itu mata hati dalam menjalani kehidupan
This entry was posted in Narkoba. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s