Menang Tanpo Ngasorake…

Untuk mengerjakan sebuah proyek yang besar, harus dimulai dari hal yang kecil-kecil. Itulah dasar pemikiran Khun Chai, saat mulai berpikir untuk membebaskan rakyat dari belenggu opium yang dikendalikan kelompok Khun Sa.

Perasaan takut dan ngeri sempat menghantui Khun Chai, saat memulai misinya. Mengingat begitu besarnya kekuasaan Khun Sa saat itu, seolah tak bisa dikalahkan oleh siapa pun juga. Tapi disisi lain, keinginan untuk menyelamatkan rakyat dari cengkeraman kemiskinan akibat opium begitu menggebu-gebu. Disamping itu, ia memiliki keyakinan yang sangat kuat, bahwa tidak ada manusia yang jahat. Yang membuat manusia menjadi jahat itu karena kemiskinan.

Dengan keyakinannya itu, Khun Chai mulai bergerilya di kawasan Chiang Rai, sebelah utara Thailand untuk membantu rakyat yang sangat bergantung kepada pertanian opium. Chiang Rai termasuk kawasan Golden Triangle yang menjadi daerah kekuasaan Khun Sa, dan mampu memasok 70 persen kebutuhan opium di dunia.

Mula-mula Khun Chai bersama yayasan Mae Fah Luang, membantu rakyat dengan melakukan bhakti sosial mengadakan pengobatan gratis, memberikan bantuan sembako dan mendidik mereka agar bertambah wawasannya.

Banyak masalah dan kendala yang dihadapi Khun Chai, saat melakukan gerilya bersama timnya. Berbagai penolakan dan pengusiran dilancarkan para petani opium. Selain itu, ancaman kekerasan juga digelorakan pasukan Khun Sa, untuk menghalang-halangi misi yayasan Mae Fah Luang. Tapi berbagai penolakan, pengusiaran dan ancaman kekerasan dengan menggunakan senjata itu, tak mampu merontokkan semangat Khun Chai yang ingin menyelamatkan rakyat dari kungkungan kemiskinan dan kebodohan.

Dengan ketekunan dan penuh kesabaran serta tulus ikhlas, Khun Chai mencoba mengurai permasalahan yang membelit rakyatnya. Ia berusaha berbicara dari hati ke hati, menampung keluhannya, memahami kesulitannya, mendengarkan cita-cita dan harapannya.

Sedikit demi sedikit, pengaruh Khun Chai mulai merasuk ke relung hati para petani opium. Tanpa dipaksa mereka mulai menyadari bahwa apa yang dikerjakannya selama ini, hanya akan membuat mereka sengsara. Khun Chai sering mengingatkan bahwa mereka tidak akan pernah kaya kalau mengandalkan hidupnya hanya dari opium, bahkan pedagangnya sekalipun.

Setelah rakyat mulai percaya, Khun Chai lantas mendirikan pos-pos pengobatan, mendirikan sekolah dan memberikan bantuan makanan.

Sementara Khun Sa dengan pasukannya terus melakukan perlawanan dengan mengintimidasi para petani untuk tidak mengganti tanaman opium dengan jenis tanaman lain. Meskipun masih ada petani yang patuh pada kelompok Khun Sa, tapi jumlahnya sudah jauh berkurang. Akibatnya produksi opium di wilayah itu terus merosot dari tahun ke tahun, dan bahkan hilang sama sekali.

Menghadapi situasi seperti itu, kelompok Khun Sa mulai terdesak dan frustasi. Berbagai manuver dan strategi perlawanan yang dilakukan tak mampu menghadang misi penyelamatan yang dilakukan Khun Chai dan timnya. Selain itu, ia juga mulai kesulitan mendapatkan pasokan opium dan ditambah dengan semakin lesunya pasar gelap senjata.

Kondisi ini membuat kelompok Khun Sa yang dikenal sadis dan memiliki pengaruh yang sangat kuat di kawasan segitiga emas itu, benar-benar putus asa dan memaksa mereka untuk menyingkir dari wilayah itu. Berbagai jenis senjata yang selama ini digunakan untuk berperang melawan aparat pemerintah yang berusaha menghalang-halangi bisnis opiumnya, tak berfungsi sama sekali menghadapi perlawanan Khun Chai yang bersenjatakan hati.

Hanya dalam waktu dua tahun program Sustainable Alternative Livelihood Development (SALD) ini berjalan, tanaman opium di kawasan Golden Triangle, sudah berganti dengan tanaman kopi, kacang makademia dan sayur mayur. Para pedagang opium pun beralih menjadi pedagang kopi. Pabrik-pabrik pengolahan opium yang berjajar di sepanjang perbatasan wilayah itu berganti menjadi pabrik pengolahan kopi dan kacang makademia. Pasar senjata tak ada lagi.

Atas keberhasilan itu, UNODC menyampaikan penghargaan kepada Mae Fah Luang Foundation dan Khun Chai sebagai arsiteknya.

Semua itu mungkin tidak akan pernah berhasil jika Khun Chai tidak bisa mengambil hati masyarakat dengan memenuhi semua kebutuhannya. Karena itu, sejak awal dalam menjalankan programnya Khun Chai tidak pernah menyalahkan masyarakat yang menanam opium dan tidak pernah memusuhi Khun Sa. Keadaanlah yang memaksa mereka melakukan kegiatan menanam opium dan memperdagangkannya.

Khun Sa yang telah tersingkir dan merasa kalah, menyeberang ke Myanmar dan  minta perlindungan pemerintah Myanmar.

Dengan senjata kerendahan hati dan mau mendengar keluhan dan memenuhi keinginan rakyat, Khun Chai mampu mengalahkan Khun Sa, raja sindikat opium yang menguasai Golden Triangle, sekaligus merubah kawasan yang dikenal dengan opiumnya itu menjadi kasawan pertanian dan industri serta pariwisata.

Sindikat Khun Sa, memang begitu hebat dan menakutkan sehingga menjadi legenda. Ironisnya, meskipun namanya berarti ”pangeran kemakmuran”, namun dalam kehidupannya Khun Sa, malah banyak membuat susah dan sengsara rakyat.

Tapi, kebencian kepada Khun Sa tidak dibawa-bawa selamanya. Bahkan, aset milik Khun Sa di Thailand dimanfaatkannya untuk objek pariwisata. Kamp Khun Sa di Doi Tung dipertahankan. Tidak dihinakan apalagi dihancurkan. Kamp itu dirawat, diperbaiki, dan sekalian dijadikan museum Khun Sa. Bahkan, di depan museum Khun Sa itu kini berdiri patung Khun Sa sedang menunggang kuda dengan gagahnya dengan pistol di pinggang.

Kini, Golden Triangle telah berubah. Hutan menghijau kembali tercipta, sumber air melimpah, Tak kuatir dengan ancaman banjir dan longsor, kebun bunga dan tanaman produktif tumbuh subur di mana-mana, industri pengolahan berputar, pariwisata berjalan. Khun Chai telah memenangkan pertarungan itu tanpa harus merendahkan musuhnya. Jadi menang tanpo ngasorake. (*)

Kata Kunci

  1. Setiap kehidupan pasti ada tantangannya, setiap tantangan pasti mengerikan
  2. Hanya HATI yang jernih yang menang tanpo ngasorake.

About anangiskandar

sabar itu indah sabar itu tanpa batas sabar itu jimat menghadapi ujian dunia sabar itu mata hati dalam menjalani kehidupan
This entry was posted in Narkoba. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s