Dari Kandang Ayam Menjadi ‘Kampung” Termegah di Eropa

Memasuki kawasan San Patrignano yang megah itu, hanya decak kagum yang terucap. Bangunan-bangunan megah berdiri, hamparan kebun anggur membentang luas, menyebarkan aroma khas buah anggur, sejuk dan segar. Lenguh sapi dan lolong anjing serta suara khas ringkik kuda balap bersautan menimpali desis angin yang semilir berhembus, menghantarkan aroma roti yang lezat.

San Patrignano bukan suatu firdaus, tempat istirahat, maupun suatu klinik untuk pecandu narkoba, San Partignano hanyalah hamparan oasis yang tidak tenang, gemuruh bergolak tidak beraturan, tetapi di tempat itu mereka berpikir dan didorong untuk menemukan kembali kepercayaan diri, nilai-nilai kepribadian mantan pecandu narkoba dan membangkitkan semangatnya, serta menggali potensi-potensi yang ada, untuk diberdayakan, sebagai bekal mereka di kemudian hari, dalam menyongsong masa depannya, setelah mereka kembali di tengah-tengah masyarakat.

“San Patrignano bukan sekedar program perawatan dan pengobatan, tetapi lebih pada penerapan kasih sayang, pemahaman, dan pengenalan jiwa orang lain serta pengertian dari rasa hormat dan kesadaran betapa berartinya hidup ini,” kata Andrea Muccioli, sebagai lurahnya San Patrignano Community, yang meneruskan pekerjaan sang Ayah, Vincenzo Muccioli.

San Patrignano, dulunya adalah sebuah kandang ayam, yang terletak di wilayah pegunungan sekitar satu jam perjalanan dari daerah wisata pantai panjang Rimini, ketika saya beserta rombongan datang ke sana, dengan suhu udara sekitar 7 derajat celcius, dingin sehingga rombongan BNN harus pakai jaket penahan dingin. Sekitar tahun 1978, di tempat itu, banyak para remaja yang kecanduan narkoba, hingga pada tingkat yang sangat kronis. Melihat kenyataan itu, Vincenzo Muccioli, merasa prihatin dan hatinya tersentuh, ingin membebaskan para remaja itu dari jeratan narkoba. Berbekal niat dan tekad yang kuat, serta komitmen yang tinggi, Vincenzo mengajak teman-temannya untuk berbuat sesuatu demi menyelamatkan masa depan para remaja pecandu narkoba.

Tidak mudah memang memulai suatu pekerjaan yang menentang tradisi yang sudah mengakar di masyarakat. Apalagi saat itu, memakai narkoba di kalangan remaja merupakan trend dan gaya hidup. Tapi niat Vincenzo sudah bulat ingin menyelamatkan generasi muda itu dari bahaya penyalahgunaan narkoba, seberat apapun pekerjaan itu, akan selalu ia hadapi bersama teman-temannya.

“Pada awal-awalnya memang berat, sulit membujuk mereka para pecandu narkoba itu, meskipun semua layanan yang kami tawarkan sepenuhnya gratis. Karena misi kami adalah sosial, bukan profit oriented,” cerita Andrea Muccioli, sambil mengantarkan kami melihat-lihat fasilitas yang ada di San Patrignano.

Tidak ada kesan sedikitpun nuansa tempat rehabilitasi pecandu narkoba, sepanjang yang kami temui, orang-orang yang tinggal di San Patrignano, adalah orang-orang ramah dan tidak memperlihatkan bahwa mereka mantan pecandu narkoba. Wajah-wajah mereka cerah, riang dan bersemangat.

“Kami membebaskan mereka dari kecanduan narkoba, dengan sentuhan kasih sayang, menanamkan nilai-nilai seperti martabat, kejujuran, tanggung jawab dan rasa hormat untuk diri sendiri dan orang lain. Sedangkan untuk membangkitkan semangat dan menggali potensi yang dimiliki, kami melakukan pelatihan-pelatihan sesuai dengan bakat mereka. Program pelatihan ini dilakukan secara profesional sebagai persiapan dan bekal mereka, kalau suatu saat nanti mereka kembali ke tengah-tengah masyarakat,” jelas Andrea Muccioli.

Semua fasilitas yang dibangun di San Patrignano, memang diperuntukkan bagi mereka mantan pecandu narkoba. Mereka diberi kebebasan untuk menentukan sendiri kegiatan dan pelatihan yang ia inginkan. Memang berdasarkan pengalaman saya, sebagai Kepala Sekolah sekaligus tutor out bound, di Sekolah Polisi Lido, kalau masyarakat dididik kemudian mengerti serta paham tentang bahaya narkoba, kemungkinan terjerumus masih ada. Tapi kalau pengetahuan tentang bahaya narkoba  itu merupakan temuannya sendiri, saya yakin, masyarakat tidak akan menyalahgunanakan narkoba.

Saya jadi teringat Golden Triangle yang pernah dikenal sebagai pusat opium dunia, yang belum lama ini saya kunjungi. Pasar gelap itu kini sudah tidak ada lagi. Karena di wilayah itu sudah tidak ada lagi opium. Semua pabrik candu juga sudah tutup. Berbagai kejahatan dan kekerasan sudah hilang sama sekali. Wilayah yang dulunya ladang opium itu, kini telah berubah menjadi kawasan wisata di Thailan yang mampu menyedot jutaan wisatawan, baik dari dalam maupun luar Thailan.

Semua petani yang dulu menanam opium berubah total: tidak terbelit kemiskinan lagi. Ladang-ladang opium sudah berubah jadi perkebunan teh, ladang kopi, hutan macadamia, atau kebun bunga. Tapi, perubahan itu tidak dilakukan dengan mudah. Ini karena dalam proses perubahan itu Khun Chai sang konseptor menghindari jauh-jauh model paksaan, kekerasan, serbuan, atau penggunaan senjata.

Inti pendekatannya hampir sama dengan yang dilakukan Vincenzo Mucciloi, mengambil hati petani, merubah pola berkebun dan memperhatikan kesejahteraannya. Khun Chai, menyimpulkan penyebab ruwetnya urusan Golden Triangle, entah itu persoalan opium, kriminalitas, pelacuran, kerusakan lingkungan, bahkan terorisme, semua itu bermula dari kemiskinan.

Argumen  Khun Chai itu sudah dibuktikan, dan mampu mengatasi semua persoalan itu dengan kiat soft power-nya, ia tidak pernah mencela kehidupan lama, tidak pernah memojokkan orang, tidak pernah merusak opium mereka, tidak pernah memusuhi pedagang senjata – apalagi memerangi mereka secara bersenjata pula. Yang dia lakukan adalah “merebut hati dan mengisi perut” mereka.

Melihat keadaan San Patrignano sekarang, memang tak terbayangkan bahwa wilayah ini dulunya adalah kandang ayam yang seram, kotor, dan bersemak-semak. Begitu tidak berdayanya negara saat itu sampai-sampai kalah dengan daya tarik narkoba dan jaringannya.  Upaya melawannya pun sudah dilakukan dengan banyak cara. Menyerang dan membasmi. Terbuka dan tertutup. Secara intelijen sudah tidak kurang hebatnya. Toh mereka gagal total. Kontak-kontak senjata yang pernah terjadi juga hanya menimbulkan banyak korban.

Sebuah kecurigaan ternyata hanya menimbulkan kebencian. Persenjataan ternyata hanya menimbulkan perlawanan. Hati ternyata harus diperhatikan dengan hati. Mulut harus disambung dengan perut.

Bagian 1 dari 7 tulisan perjalanan saya ke San Patrignano Community Italy

About anangiskandar

sabar itu indah sabar itu tanpa batas sabar itu jimat menghadapi ujian dunia sabar itu mata hati dalam menjalani kehidupan
This entry was posted in Narkoba. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s