Kepemimpinan, Investasi dan Pengaruh Hari Ini

Kegemaran kita membicarakan  kepemimpinan  sebagai penyebab  masalah yang terjadi  di lingkungan Polri.  Kadang kita  lupa  bahwa kita sudah  tidak kanak-kanak lagi, yang selalu terpikat oleh dongeng-dongeng tentang orang-orang yang hebat, Polisi-polisi hebat, Konsep-konsep hebat  tentang  kepolisian, kadang kita juga masih punya kegemaran  memuja siapa yang menyelamatkan kita dari keruwetan hidup, mengangkat jabatan dialah pahlawan.  Gejala-gejala ini akan menjamur pada kondisi kita yang selalu menggantungkan diri pada orang lain, yang selalu mengharapkan datangnya pemimpin, persis seperti dongeng datangnya “Ratu Adil“. Kita juga selalu mengharapkan petunjuk, arahan bahkan minta jabatan,  tetapi melupakan integritas, prioritas dan wawasan sebagai bekal yang diperlukan pemimpin.

Cara berpikir  tersebut  membebankan solusi masalah  pada pemimpin. Kita tahu orang-orang hebat, Polisi-polisi hebat, Polisi-polisi   itu adalah  manusia  biasa seperti kita dan kita juga tahu beberapa polisi lebih hebat dibandingkan yang lain. Namun kita enggan melihat fakta bahwa lulusan  sekolah apa saja, bahkan lulusan seorang Bintara sekalipun bisa menjadi  apa saja tergantung  seberapa kuat komitmennya pada  kepemimpinan diri dan  pengembangannya serta  seberapa serius dan  konsisten kita mengabdi pada Polisi yang tugasnya melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat serta menegakkan hukum.

Pembicaraan kita kali ini tentang kepemimpinan yang berakar pada “kepercayaan“.    Banyak  orang yang terbalik  pendekatannya dalam Visi kepemim-pinan, mereka percaya bahwa  jika tujuan baik  otomatis orang akan  percaya dan  mengikutinya, namun bukan begitulah cara kerja kepemimpinan yang sesungguhnya. Orang tidak akan mengikuti tujuannya lebih dulu, namun mereka mengikuti pemimpin yang dapat dipercaya, yang melontarkan tujuan-tujuan  yang layak.     Orang akan percaya pada sang pemimpin ”siapa dia pemimpin itu”  baru  visinya.  Dengan  demikian kita tidak akan mengejar jabatan namun sebaliknya  menyiapkan diri  untuk membangun  kredibilitas dengan tampil “cantik“ didepan rekan-rekan sekantor, atasan dan masyarakat.

INTEGRITAS

Integritas dalam bahasa kamus  “keadaan menjadi lengkap“ merupakan kesatuan, kita punya integritas kalau ucapan dan perbuatan kita sesuai, Integritas tidak membagi loyalitas  ataupun hanya pura-pura tapi integritas bukanlah apa yang kita lakukan melainkan ”siapa kita“  yang akan menjadi sistem navigasi yang membimbing kita dalam menetapkan prioritas dalam  kehidupan kita dan  menilai apa yang akan kita terima atau kita tolak. Kita semua setiap hari perang menghadapi keinginan yang saling bertentangan, tak  peduli  betapa ” Spritual ” dia. Tidak ada yang  sanggup menghindar dari  perang ini.  Namun jangan sampai kita jadi “Wayang kalahan” kalau ini terjadi maka kita akan masuk kotak, mutar-mutar didalam kotak seperti obat nyamuk.

Integritas itu menentukan mana yang akan menang  perang, karena  integritas  menetapkan  alasan  dasar apa yang  kita katakan, kita pikirkan dan kita  lakukan kedalam diri yang utuh. Ketika  Integritas menjadi wasit,   kita akan konsisten, tidak akan membiarkan bibir kita mengkhianati hati. Setelah semua itu kita menangkan tentu membutuhkan waktu yang cukup lama.   Giliran berikutnya disiplin menjadi pilihan untuk mencapai apa yang kita inginkan dan lakukan.  Saya benar-benar mempercayai  kita bisa disiplin dan  menikmatinya setelah lebih dari 20 tahun mempraktekkan.  Semua pemimpin besar  memahami bahwa tanggung jawab utamanya adalah disiplin dan pengembangan pribadinya.   Kalau tidak dapat memimpin diri sendiri mereka tidak akan bisa membawa orang lain lebih jauh dari pada yang  mereka tempuh sendiri, itulah  harga yang  harus dibayar oleh  seorang pemimpin. Saya menyebutnya “Kepercayaan“ Barang siapa mengambil jalan pintas tidak akan menghasilkan apa yang dicari dalam jangka panjang.

PRIORITAS

Prioritas untuk  menjelaskan  konsep bekerja yang baik. Saya teringat Instruktur Susjab Kapolres di Sespim Lembang yang selalu wanti-wanti kepada para peserta agar kalau jadi Kapolres jangan seperti  “Ndoro“ artinya duduk manis, segala keperluannya dilayani oleh staf alias tinggal perintah.   Instruktur  tersebut mulai dengan ceritanya, ada seorang polisi diberitahu bahwa kalau dia bekerja keras jabatannya akan menjadi bagus. Pekerjaan  paling keras yang  diketahuinya adalah  menggali lubang   besar di kebun lingkungan kantornya. Tetapi jabatannya tidak menjadi bagus,   dia hanya sakit pinggang.  Dia bekerja keras tetapi tanpa prioritas.    Prioritas  tugas yang  kita pelajari di sekolah  tidak sekedar memilah-milah menjadi sangat penting dan kurang penting, mendesak dan kurang mendesak, namun untuk menangkap prinsip-prinsip prioritas yang menjadi rambu-rambu proses kita bekerja.

Kebanyakan kita ingin memiliki semua kehidupan dengan cepat seperti kehidupan Jet set, ingin menjadi jenderal, ingin  mendapat  jabatan yang  strategis, ingin menguasai semua  ilmu, ingin bermewah–mewahan.  Namun perlu  diingat ”perjalanan kita” tidak memerlukan  semuanya  itu.    Kita harus  memilih  prioritas mana yang  diperlukan, karena terlalu banyak prioritas menyebabkan ketidak berdayaan untuk bertindak.  Demikian pula sebaliknya,  kalau  prioritas rendah  menuntut terlalu banyak energi dari kita maka masalah besar yang timbul.   Kerap kali hal-hal kecil dalam  kehidupan  membuat kita  terpeleset dan  jatuh.   Contoh segar, seorang Kasatwil karena sibuk olah raga sambil rekreasi diluar wilayah  kerjanya,  sehingga melupakan tugas melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat.  Pada saat ada kejadian yang memerlukan kehadirannya, Kasatwil  tersebut tidak dapat hadir dan memberikan petunjuk-petunjuk untuk antisipasi  sehingga  oleh atasannya, Kasatwil tersebut dicopot hanya gara-gara rekreasi dan olah raga. Pertanyaannya  kenapa olah raga / rekreasi saja  mesti  harus keluar  wilayahnya ?   Masih banyak contoh-contoh riil yang telah dan akan terjadi apabila kita mengabaikan prinsip prioritas.

WAWASAN

Dalam buku “The Power Principle“ wawasan adalah petunjuk yang dimiliki pemimpin, begitu pemimpin kehilangan petunjuk maka banyak peristiwa akan menimpa pada dirinya. Peminpin  tanpa  wawasan adalah pemimpin yang  bereaksi  terhadap peristiwa   yang muncul seketika, sebenarnya dia tidak  memimpin namun hanya secara formal mereka disebut pemimpin, dan mereka mungkin tidak lama menjadi pemimpin.

Banyak  contoh tentang kehilangan kepemim-pinan berasal dari kegagalan berfikir,  apa yang  seharusnya diputuskan secara masuk akal dan apa yang seharusnya dilakukan berdasarkan apa yang dia ketahui.   Sementara pemimpin punya kebebasan bertindak. Tanpa wawasan   pemimpin  menjadi  tidak fokus,    semangat  menjadi  menurun,   batas waktu tidak dapat dipenuhi,   agenda pribadi muncul, produktifitas rendah dan staf bekerja sendiri-sendiri.  Sedihnya,  terlalu  banyak  orang  yang  ditempatkan  sebagai  pemimpin  tanpa  wawasan.

INVESTASI PALING BAIK ADALAH PENGARUH HARI INI

Cara kita memandang kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mendapatkan kedudukan menyebabkan kita mengejar pangkat dan jabatan. Setelah berhasil kita bersyukur bahwa sudah menjadi pemimpin.  Penilaian ini membuat masalah bagi kita yang mempunyai jabatan pemimpin, sering mengalami frustasi karena tindakan, perilaku  dan keputusan kita tidak diikuti oleh  anak buah / staf.  Sebagai makluk sosial kita dipengaruhi dan mempengaruhi orang lain. Itu berarti bahwa kita semua pemimpin dalam beberapa bidang, sementara dibidang yang lain kita dipimpin, tidak seorangpun yang dikecualikan dari menjadi pemimpin dan staf.

Pemimpin kelompok mudah ditemukan, perhatikan mereka kalau berkumpul, kalau ada persoalan yang harus diputuskan, siapa yang pandangannya tampak paling berharga, siapa yang paling diperhatikan, siapa yang paling cepat disetujui, yang paling penting, siapa yang paling dihormati, tidak mesti senior atau pangkat dan jabatannya paling tinggi. Jawaban terhadap pertanyaan tersebut akan membantu kita mencarikan siapa pemimpin yang sesungguhnya.  Itulah pengaruh.  Menurut saya tidak seorangpun yang bisa memahami hal misterius yang kita sebut pengaruh. Setiap orang diantara kita terus menerus memberikan pengaruh. Yang menjadi persoalan pengaruh macam apa yang akan kita berikan kepada staf?  Ingat! Pengaruh hari ini adalah investasi yang paling baik bagi potensi kepemimpinan kita kedepan.

About anangiskandar

sabar itu indah sabar itu tanpa batas sabar itu jimat menghadapi ujian dunia sabar itu mata hati dalam menjalani kehidupan
This entry was posted in Kepolisian, Leadership. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s