Kepemimpinan, visi dan konpensasinya

Perubahan terus menerus terjadi tidak hanya di lingkungan Polri, tetapi juga terjadi di departemen lain di Republik ini.  Sejak dulu begitu dan akan selalu begitu Machiavelli berkata perubahan tidak mempunyai distrik pemilih namun perubahan itu sendiri akan selalu terjadi.

Hari itu saya membaca harian Kompas yang terbit pada tangggal 11 Maret 2004 ada berita tentang perubahan situasi karena dimulainya kampanye Pemilu 2004, ada mutasi Pejabat dilingkungan Polri, ada peluncuran buku mengenai Khotbah Jum’at oleh Kapolda Metro Jaya, yang sebelumnya belum pernah terjadi seorang Kapolda meluncurkan buku tentang Khotbah Jum’at dan di Stasiun Televisi Swasta saya mendengar Menkopolkam mengundurkan diri.

Perubahan semacam ini akan selalu mewarnai Organisasi Polri baik mengenai Sumber Daya Manusia, Peralatan, Sistem dan Metoda serta situasi masyarakatnya. Perubahan-perubahan tersebut bagi kita dapat berbentuk suatu tantangan, hambatan, gangguan ataupun persaingan atau apa saja tergantung bagaimana kita mensikapi. Dapatkah kita berhasil menghadapi perubahan dan persaingan masa depan yang memiliki semangat global jika ada alasan untuk putus asa dan bergabung dengan para pesimis yang memprediksi masa depan dengan keprihatinan, dimana penganut aliran ini hanya punya satu cara, sedangkan kita punya banyak cara menuju ke Roma.

Persaingan hidup dan kesulitan kita memang cukup serius. Jika kita dapat memainkan peran dengan benar, pasti kita akan sukses. Tetapi peran kita selalu berubah, aturan baru bermunculan, badut juga bertambah banyak. Kita tidak pernah menghadapi kesulitan dan tantangan hidup sebanyak itu sebelumnya dan belum pernah ada begitu banyak pilihan untuk menghadapi tantangan tersebut. Satu hal yang pasti adalah ketidak pastian. Hampir sama dengan apa yang  tertulis pada prasasti di pintu masuk Ksatrian Sangga Bhuana Secapa Polri Sukabumi. “masa depan tidaklah seperti dulu dan memang selalu berubah”.

Dengan mempertimbangkan sifat dan ketidak pastian perubahan serta tantangan yang kita hadapi, maka kunci untuk membuat pilihan yang tepat akan berasal dari sinergi mutu kepemimpinan, Visi dan kepribadian.

KEPEMIMPINAN ALA HASTA BRATA

Karena seringnya nonton wayang kulit saya terobsesi ajaran Prabu Rama Wijaya kepada Raden Wibisono yang akan memimpin Kerajaan Alengka. Ajaran ini terjadi setelah perang antara Rama melawan Rahwana Raja Alengka dikenal dengan sebutan Hasta Brata yaitu delapan penjuru angin, yang merupakan sifat dan manifestasi dari kebesaran Tuhan YME di alam semesta ini yaitu berupa sifat Tanah, api, angin, air, angkasa, bulan, matahari dan bintang.  Rama memulai dengan wejangannya : Sebagai pemimpin kita dituntut senantiasa memberi bukan meminta persis seperti sifat tanah.  Apapun yang ditanam di tanah akan berbuah berlipat ganda bagi penanamnya bahkan apabila di eksploitasikan dengan baik akan menambah kesejahteraan pengelolanya. Sedangkan api  dapat membakar kekurangan-kekurangan dan menggodok diri kita agar matang yang digambarkan sebagai sifat pemimpin yang berani, tegas dan benar dalam menegakkan hukum secara tuntas tanpa pandang bulu.

Waktu rama menyampaikan wejangan tentang sifat angin, saya masih bisa merasakan sebab ketika itu saya meneteskan air mata karena disampaikan dengan kalimat yang menyentuh kalbu.  Sifat angin dijelaskan ada dimana-mana, tidak membedakan tinggi rendah apalagi di kota atau di desa.  Pemimpin diminta mencontoh sifat angin yang selalu dekat dengan staf dan masyarakat tanpa membedakan derajat dan martabatnya sehingga dapat mengetahui langsung keadaan, keinginan staf dan masyarakatnya.

Rama juga menjelaskan keunggulan sifat air yang warata waratani, yang berarti dapat rata dan bersimbah kemana-mana secara seimbang. Implementasinya, pemimpin wajib mengusahakan meratanya kemakmuran, keselamatan, kesejahteraan staf dan masyarakatnya.  Saya mengikuti dan mem-perhatikan ketika Wibisono menanyakan apa relefansi sifat Angkasa, Bulan, Matahari dan Bintang dengan kepemimpinan.   Dengan tangkas sang guru menjelaskan, Pemimpin hendaknya mempunyai kemampuan pengendalian diri yang kuat sehingga dengan sabar mampu menampung pendapat staf dan masyarakatnya, yang bermacam-macam ragam keperluan, persepsi dan posisinya.  Bahkan pemimpin harus menampung berita apapun mengenai dirinya baik negatif ataupun positif tanpa kehilangan landasan berpijak, sabar dan tawakhal persis seperti sifat angkasa : luas, apa saja tertampung disana.

Pemimpin juga mempunyai kewajiban memberikan sinar yang menimbulkan semangat serta rasa percaya, agar terhindar dari kegalauan dan ketidak berdayaan. Lihatlah kearah bulan hai Wibisono, bulan di malam yang gelap ini memberikan sinar terangnya, sehingga malam ini terasa terang benderang.

Sekarang tengoklah bintang di Timur itu.  Bintang itu senantiasa mempunyai tempat di langit, sehingga dapat menjadi pedoman bagi siapa saja. Ini juga berarti seorang pemimpin diharapkan menjadi pedoman, tauladan bagi staf dan masyarakatnya, tidak ragu menjalankan keputusan serta tidak mudah terpengaruh oleh orang lain yang menyesatkan.

Tapi sebaliknya, bayangkan matahari di siang hari, yang merupakan sumber energi kehidupan alam semesta, dimana mahkluk-mahkluk alam dapat tumbuh dan berkembang.  Pemimpin diharapkan seperti itu.

VISI  TRIBRATA

Kita dituntut memiliki gagasan yang jelas mengenai apa yang kita lakukan untuk bertahan terhadap ancaman, gangguan dan hambatan bahkan kegagalan. Kita juga dituntut untuk mewujudkan visi.  Visi kita adalah Tribrata, yang menggambarkan dimensi hubungan individu Polri sebagai hamba Allah dengan masyarakat dan negara.

Visi adalah impian. Dan tugas kita adalah mengubah impian menjadi kenyataan. Tribrata telah menyediakan “ Jalan ” yang ditandai dengan jelas sehingga setiap individu Polisi dapat melihat ke arah mana kita berjalan.

Kalau kita mengamalkan Tribrata sebagai hal yang kita yakini dan dijalankan secara serius dan konsisten, tentu akan menghasilkan rasa senang dalam menempuh perjalanan. Apalagi kalau rencana perjalanan itu berpedoman pada keputusan yang berdasarkan aturan yang berlaku, rasional dan sesuai dengan hati nurani, tentu akan menghasilkan keteraturan, menanamkan keyakinan dan kepercayaan serta menawarkan kriteria kesuksesan.

Jika kita tidak yakin dengan visi Tri Brata bagaimana kita bisa enjoy di Polri, kita harus memiliki peta yang tepat sebelum memulai perjalanan. Kalau tidak, kita akan menghindar, mengelak, berkelit, berputar-putar bahkan masuk gang buntu.

PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

Menurut Frend dalam Psychology, kepribadian didefinisikan sebagai gabungan karakteristik / ciri fisik, dapat berupa penampilan mata, telinga dan postur ataupun gerakan tubuh dengan karakteristik mental seperti kesadaran, toleransi dan bijaksana.   Kepribadi-an tersebut dapat mempengaruhi pola tingkah laku tertentu seseorang dalam menentukan penyesuai-an diri dengan lingkungannya. Ketika masih kanak-kanak, orang kita dan lingkungan sangat dominan dalam mengarahkan, mengasuh bahkan memberikan pelajaran dan pengalaman. Setelah menginjak dewasa, pengalaman masa kanak-kanak menjadi dasar berperilaku, selanjutnya menggali sendiri pengetahu-an dan ketrampilan serta sikap mental positif sebagai faktor utama yang menentukan agar kita memiliki kepribadian, yang pada gilirannya tinggal melatih kecerdasan emosional maupun spiritualnya.

Mengambil pelajaran dari alam mirip seperti wejangan hasta brata dan menggabungkan dengan visi Tribrata, selanjutnya dikembangkan secara empirik di SPN Lido berupa pelatihan Out  Bound, yang dirancang secara “khusus“ termasuk keterbatasan fasilitas, kesahajaan, keadaan cuaca, demografi dan alam bebas yang ada disekitarnya, memberi pelajaran bagi kita untuk terus menerus mengasah kecerdasan emosi dan spiritnya dalam bentuk pelatihan kehidupan nyata.  Dimana muatan latihannya adalah pengem-bangan diri, leadership, team building, problem solving dan membina sikap positip untuk mengetahui siapa diri kita, serta membentuk perilaku kita yang tidak saja mahir, tetapi juga bermartabat dan berkepribadian matang.

KOMPENSASI

Sebelum melangkahkan kaki menuju penugasan pertama setelah lulus Akpol, saya mendapat pesan dari almarhum ayah untuk selalu diingat dalam bentuk pertanyaan pilihan ganda “Apa yang kau cari“ ananda? jenang (makanan) atau jeneng (nama).  Sekarang ini tentu tidak jenang atau jeneng lagi pilihannya melainkan sukses atau mencari alasan ketidaksuksesan.  Sukses itu sangat mudah, tetapi tidak semudah membalik telapak tangan, karena memerlukan perjuangan dan membutuhkan waktu yang  panjang.  Sukses itu kebanyakan subyektif sifatnya. Juga ada banyak tipe sukses, kita bisa sukses meraih derajat pendidikan, sukses soal jabatan, sukses soal keuangan dan sukses membimbing keluarga. Yang jelas sukses menurut saya adalah mencapai kebahagian dunia akhirat.

Ada yang menganggap sukses sebagai akumulasi uang, ini akibat ego kita yang tidak dikekang.  Ego itu artinya mementingkan diri sendiri. Itu sebabnya banyak orang bekerja melihat uangnya dulu.  Kadang saya sampaikan dengan kalimat Vulgar “Bekerja jangan mencari uang“. Kalau bekerja mencari uang maka uang akan lari.   Saya pernah juga mendapat reaksi yang pedas, “bekerja tidak mencari uang namanya munafik”.  Komentar ini yang harus kita kendalikan, karena komentar itu adalah suara dari ego kita yang memandang bekerja agar mendapatkan uang yang banyak.  Berbeda kalau bekerja dengan ikhlas, motivasinya ingin menambah ilmu pengetahuan. Teman-temannya tahu kalau dia pekerja trampil dan profesional, sehingga dia dipercaya menduduki jabatan-jabatan yang strategis.   Jabatan yang memang diperuntukkan bagi orang yang dapat dipercaya karena pengetahuan, skill dan moralnya baik. kalau sudah demikian, kini giliran rejeki, atau mendapat durian runtuh atau apa saja namanya akan mengalir kearah kita.  Itulah yang saya tangkap ketika saya bertugas di Polda Bali, sebagai karma pala, yang merupakan hukum kompensasi, bahwa tidak ada perbuatan yang tidak mendapat balasan, tidak ada perbuatan yang sia-sia.   Perbuatan yang baik akan mendapat balasan yang baik, perbuatan yang jelek akan mendapatkan balasan yang jelek pula dan hukum ini selalu efektif.   Jadi hati-hatilah terhadap benih yang ditaburkan hari ini.  Benih-benih itu yang akan menentukan panennya entah 1, 5, 10 atau 20 tahun yang akan datang.

Kata Kunci :

  1. Kepemimpinan bukan rumusan sebuah konsep, melainkan gabungan visi pribadi dan aksi dalam kehidupan nyata,
  2. Sukses itu mudah, tetapi tidak semudah telapak tangan, harus diperjuangkan setiap hari secara terus menerus.

About anangiskandar

sabar itu indah sabar itu tanpa batas sabar itu jimat menghadapi ujian dunia sabar itu mata hati dalam menjalani kehidupan
This entry was posted in Kepolisian, Leadership. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s