Latihan Jadi Pemimpin

Catatan ini adalah catatan pribadi saya ketika menjadi Kapolwiltabes Surabaya.

Hari pertama setelah memegang Tongkat Komando Polwiltabes Surabaya, Saya berdiri dipintu lobi kantor dan melihat keadaan Surabaya. Dalam hati saya berkata : Walau awannya tebal tapi bukan berarti tidak ada matahari. Saya berharap matahari bersinar terang, setelah itu saya beranjak menuju kendaraan kemudian mengelilingi wilayah tugas untuk mengejar gadis manis yang namanya sukses.

Sebagai pimpinan formal langkah awal adalah melakukan komunikasi kepada seluruh keluarga besar Polwiltabes Surabaya agar seluruh anggota Polri yang jumlahnya 6 ribu lebih, mau dan mampu menggunakan segala teknik dan taktik mengatur warga Surabaya yang tingkat heterogenitasnya sangat tinggi sehingga gadis yang kita cari bersama yang namanya sukses dapat ditemukan.

Identitas gadis cantik telah saya informasikan pada awal penyampaian visi dan misi dan secara detail dijelaskan melalui gelar oprasional atau analisa dan evaluasi yang dilaksanakan setiap jumat malam secara terus menerus dan juga disampaikan ciri-cirinya lewat pelatihan out bound. Memang pada akhirnya menemukan atau tidak kesuksesan tersebut tergantung pada diri sendiri, karena kita merdeka, bebas memilih tergantung semangat kita masing-masing.

Semangat ini dapat menjadi keyakinan  yang dapat tumbuh menjadi spiritualitas yang berbasis pada diri sendiri. Inilah yang dapat menjadi pembimbing dan mengarahkan tindakan kita memilih jalan menuju tiga pilihan yaitu sukses, mandeg atau malapetaka dalam menempuh pengabdian melalui Polri dikelak kemudian hari.

Modal dasar untuk menjadi sukses  adalah harus bersedia untuk menerima siapa diri kita, apa jabatannya, ditempatkan dimana sekarang, serta kesadaran bahwa kejadian yang menimpa kita adalah produk langsung dari keputusan diri sendiri sebelumnya. Baru setelah itu kita hijrah kearah yang dapat membuat kita dipercaya oleh masyarakat.

Disini diperlukan kesiapan mental bersama dari para pemimpin polisi disemua strata untuk mengatakan secara jujur tentang budaya polisi yang ingin dirubah. Karena tantangan perubahannya sangat besar baik tantangan budaya Polri, struktural maupun penolakan masyarakat yang terlanjur menikmati kemudahan dengan prinsip ekonomi yaitu mengeluarkan sedikit mendapatkan pemasukan yang banyak.

Kunci utamanya kita harus menerima diri sendiri apa adanya, sama seperti ketika kita menerima anggota team ekspedisi darat dalam latihan out bound yang dilakukan oleh para Kapolres dan pejabat utama Polwiltabes Surabaya beberapa waktu yang lalu. Kesediaan kita  untuk menerima ketidak sempurnaan anggota team membuahkan hasil perubahan yang menakjubkan. Ada anggota team yang gemuk, ada yang penampilannya tidak meyakinkan, ada juga anggota yang usianya sudah mendekati pensiun, asal mempunyai harapan dan semangat yang baik disertai motivasi yang sesuai dengan pengembangan dirinya maka yang gemuk berubah menjadi enerjik, yang kelihatan tidak mampu menjadi lincah, yang tua menjadi lebih muda. Jika perubahan tidak ditekan justru perubahan akan terjadi. Aneh tapi ini benar.

Oleh karena itu selaku Kapolwiltabes Surabaya saya menyampaikan tentang  model kepemimpinan Polwiltabes yang dikenal dengan model bulat-bulat empat. Model ini diadopsi dari teori kepemimpinan dari Inggris dengan modivikasi dan improvisasi yang disesuaikan dengan alam Suroboyo.

Penyampaian tentang model kepemimpinan ala Polwiltabes ini karena adanya kesadaran agar para pemimpin dibawahnya baik Kapolres, Kabag, Kasat maupun Kapolsek memahami wilayahnya bahwa apa yang dilakukan pada masa yang akan datang adalah mengkreasi masa depan untuk kesuksesan Polri dan menemukan kesuksesan pribadi, dan itu akan membuat perbedaan yang amat besar dan terekam dalam jejak kita sebagai seorang pemimpin. Hal tersebut akan ditinggalkan sebagai warisan untuk generasi polisi berikutnya dan yang dibawa hanya semangatnya.

MODEL KEPEMIMPINAN

Model kepemimpinan bulat – bulat empat adalah model kepemimpinan perubahan yang memfokuskan pada keseimbangan aksi antara bulatan pertama berisi keteladanan, bulatan kedua berisi peningkatan kemampuan dan bulatan ketiga berisi team building selanjutnya bulatan keempat berisi keberhasilan pelaksanaan tugas Polwiltabes Surabaya. Kunci suksesnya bukan terletak kehebatan pada masing-masing bulatannya tapi terletak pada keseimbangan aksi dari  keempat bulatan tersebut.

Bulatan pertama berisi keteladanan dari seluruh angota Polwiltabes Surabaya khususnya para pejabatnya. Kepemimpinan bukan hanya melekat kepada para pejabat tetapi juga ditemukan pada pelaksana dibawah. Karena mereka harus memimpin diri sendiri ketika melakukan tindakan-tindakan kepolisian yang harus disesuaikan dengan nilai-nilai yang wajib dipegang teguh. Nilai-nilai tersebut adalah secara proaktif menjaga keamanan dan ketertiban menjadi penegak hukum yang ikhlas, melindungi, mengayomi masyarakat dengan semangat memberi, bukan minta. Menyuarakan nilai-nilai ini menjadi tugas para pejabat karena tantangan mereka sehari-hari adalah harus menghadapi godaan yang mengakibatkan anggota polri dapat kehilangan arah.

Menjadi teladan menuntut kejelasan nilai yang dapat memberikan tanda-tanda secara jelas kearah mana anggotanya akan dibawa. Pemimpin secara pribadi merupakan bagian yang esensial dalam memberikan contoh kepada orang lain. Apabila kita tidak memiliki bawahan, satu-satunya orang yang kita pimpin adalah diri kita sendiri. Oleh karena itu kita dituntut bisa memimpin diri sendiri baru memimpin orang lain. Nilai ini tidak bisa dipaksakan tapi harus dibentuk. Kalau kita ingin menjadi pemimpin dilingkungan polri yang sukses perlu dikomunikasikan secara terus menerus dan diperlukan kesabaran karena kadang-kadang sukses memerlukan waktu yang panjang.

Keteladanan seorang pemimpin diharapkan dapat juga memberikan inspirasi  bagi yang dipimpin yang mencakup berbagai bidang, kadang-kadang dapat juga memberi inspirasi diluar bidang tugas Polisi termasuk inspirasi tentang hal-hal kecil yang dapat membuat perbedaan yang sangat besar apabila dilakukan secara terus menerus. Dari 17 butir hasil tangkapan extasi bisa dikembangkan kemudian diungkap pabriknya. Dari hanya sekedar menangkap pelaku pembawa senjata tajam bisa diungkap kasus perampokan dan kejahatan lain yang lebih besar.

Keteladanan juga menyangkut keterbukaan baik proses maupun hasilnya, keterbukaan merupakan budaya yang paling sulit untuk dirubah karena harus menentang proses budaya lama. Kita menyadari banyak orang tidak menyukai perubahan tersebut karena dapat mem-pengaruhi prestasi, harga diri dan periuk belanga mereka namun keterbukaan juga perlu pengorbanan pribadi untuk mencapai tujuan yang lebih berharga serta mulia dengan cara-cara kreatif dan inovatif sehingga berkembang menjadi lebih baik.

Bulatan kedua adalah peningkatan kemampuan. Untuk meningkatkan kemampuan seluruh anggota Polwiltabes Surabaya dilaksanakan pelatihan melalui kegiatan operasional sehari-hari. Kegiatan Polwiltabes dalam segala aspek mendapat perhatian yang serius dari unsur pimpinan, diberikan evaluasi setiap minggu dan juga diberikan feed back berupa penekanan-penekanan agar kegiatan operasional maupun pembinaan menjadi sarana proses belajar bagi seluruh anggota. Kegiatan anggota yang baik dan bersifat prestatif untuk dicontoh sedangkan kegiatan-kegiatan yang tercela juga dijadikan pelajaran untuk tidak dicontoh.

Peningkatan kemampuan juga dimotifasi dengan cara memberikan penghargaan kepada mereka yang melaksanakan tugas melebihi panggilan tugasnya, sedangkan yang tercela juga diberikan hukuman melalui proses sidang yang adil sehingga dapat memberikan inspirasi bagi seluruh keluarga besar Polwiltabes Surabaya.

Dalam menciptakan iklim ikut handarbeni terhadap kesuksesan Polwiltabes Surabaya dalam melaksanakan tugas menjaga keamanan, menegakkan hukum, melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat. Mereka perlu diberdayakan dengan memberikan kewenangan penuh yang patut diberikan kepada seorang polisi. Secara organisatoris polsek dan polres boleh menangani kasus apa saja, asal mampu melakukan.  Dalam arti Polsek dan Polres punya kewenangan yang besar, termasuk kewenangan mengaktualisasikan kesatuannya kepada publik terhadap prestasi yang dicapainya tanpa harus meminta ijin kepada kesatuan atas.

Peningkatan kemampuan juga dilakukan melalui Unstructure Learning dimana anggota Polwiltabes Surabaya terus menerus mendapat pelatihan mengenai peningkatan kemampuan fungsi maupun peningkatan kemampuan managerial dan leadership disela-sela kegiatan terstruktur baik dalam bidang operasional maupun pembinaan sehingga timbul pameo tiada hari tanpa investasi.

Untuk menjaga agar moral anggota tetap tinggi diperlukan energi yang besar untuk secara terus menerus membangkitkan semangat tersebut. Setiap pemimpin dan seluruh anggota di semua tingkatan, melalui sentuhan kemanusiaan, perintah-perintah serta feed back bahkan kadang berupa konfrontasi dengan semangat hari esok lebih baik, semangat berubah untuk lebih baik inilah yang secara konsisten harus disampaikan.

Bulatan berikutnya, berisi tentang team building. Dalam mencapai tujuan bersama guna membangun kepercayaan antara pimpinan dan yang dipimpin didasarkan pada budaya air mengalir yang berarti spontan apa adanya dengan tingkat kejujuran yang tinggi. Penciptaan kondisi ini untuk menangkal setiap gelombang issue yang menerpa Polwiltabes Surabaya baik yang timbul dari luar maupun dari dalam.

Kepercayaan tumbuh tidak secara ujuk-ujuk, namun muncul bersamaan dengan bergulirnya waktu. Ketika saya dilantik sebagai Kapolwiltabes Surabaya kemudian menyampaikan Visi, Misi dan program-program operasional dan pembinaan, anggota didalam hatinya belum tentu percaya dengan apa yang saya sampaikan tersebut namun setelah melihat keputusan-keputusannya realistis, berfihak kepada anggota yang dipimpin dengan tingkat kejujurannya yang relatif tinggi serta dapat membawa Polri sukses, baru mereka mempercayai dan mengikuti Kapolwiltabes sebagai pemimpinya.

Inti dari team building adalah kepercayaan. Kebijaksanaan pimpinan polwiltabes Surabaya diarahkan pada membantu terwujudnya iklim saling percaya dengan memberikan kebebasan kepada pemimpin dibawahnya untuk berinovasi dan mengambil resiko dengan memelihara  keterbukaan dalam bertindak untuk mencapai kesuksesan.

Upaya menumbuhkan dan mempertahankan team building diperlukan usaha secara terus-menerus untuk menumbuhkan rasa saling membutuhkan dan menanamkan perasaan bahwa kita semua berada disini untuk satu tujuan yang sama. Jika salah satu selalu memberi dan yang lain selalu menerima ini dapat membuat organisasi tak berdaya. Oleh karena itu kadang kadang dibuat keputusan yang mengagetkan berupa merusak tatanan yang ada, kemudian mengganti kebijakan yang dapat mendukung terbentuknya team building yang bagus.

Kerjasama team Polwiltabes Surabaya, dibangun melalui interaksi antar anggota dan pemimpinnya melalui kegiatan-kegiatan terstruktur maupun tidak terstruktur berupa rapat-rapat, evaluasi rutin, gelar operasional maupun pertemuan karena adanya even-even tertentu baik dalam rangka patroli bersama, makan bersama, olah raga gabungan, maupun kegitan-kegiatan yang bersifat lomba secara periodik dengan melepas atribute kebesaran masing-masing agar terjadi komunikasi yang rileks dan menggairahkan.

Yang terakhir adalah bulatan yang berisi pelaksanaan tugas. Bulatan ini dianggap paling penting karena mudah untuk diaudit dan hasilnya dapat diukur secara kuantitatif, oleh karena itu banyak pemimpin Polri yang memfokuskan diri pada pelaksanaan tugas sehingga kurang memperhatikan bulatan-bulatan yang lain, mereka tidak salah tapi mereka akan bekerja sebagai tukang silat sekaligus ahli sulap, karena akan disibukkan dengan perencanaan-perencanaan operasional tanpa action dilapangan yang efektif.

Kebijaksanaan operasional polwiltabes Surabaya adalah mensinergikan operasional kewilayahan dan fungsional yang tercermin dalam kegiatan sehari-hari. Polsek harus action setiap hari demikian juga Polres dan fungsi-fungsi operasionalnya dengan kreteria keberhasilan adalah hasil kegiatan, proses untuk mencapai hasil, dampak yang timbul, dengan semangat serius dan konsisten.

Evaluasi dilaksanakan setiap minggu secara konsisten khususnya mengenai hasil, proses dan dampaknya. Dalam rapat evaluasi tersebut dihadiri oleh pejabat Polwil sampai dengan tingkat Polsek. Ketika saya mengatakan hasil tidak penting, yang penting proses. Mereka malah bingung, bukan berarti hasil itu tidak penting sama sekali tapi apabila dibandingkan dengan proses dan dampak yang kita inginkan, hasil itu menduduki rangking dibawahnya namun hasil sangat penting ketika pimpinan ingin mengevaluasi pelaksanaan tugas operasional khususnya proses dan dampaknya. Hasilnya rendah tentu actionnya bisa dikatakan kurang serius yang berarti prosesnya berjalan bisa kurang serius pula dan dampaknya tentu rendah, anggota hanya sekedar melaksanakan tugas dari pimpinanya yang dapat menjurus asal-asalan.

Hasil secara kuantitatif bagus belum tentu mendapat penilaian yang positif. Ketika hasilnya bagus, saya akan bertanya tentang prosesnya, apabila prosesnya benar dan dampaknya secara linier bagus, secara rasional  bisa dimengerti maka baru saya nyatakan hasilnya bagus. Hal ini untuk menghindari adanya hasil akal-akalan yang cenderung menjadi budaya asal bapak senang.

Proses pelaksanaan tugas operasional menjadi hal yang terus menerus menjadi perhatian kita. Prosesnya harus sesuai dengan aturan karena pelaksanaan tugas Polri dituntut sesuai aturan yang berlaku. Dalam proses action ini dituntut profesionalitas yang tinggi. Oleh karena itu proses pelaksanaan tugas menduduki rangking pertama dalam dinamika operasional Polwiltabes Surabaya.

Proses pelaksanaan tugas diperbaiki melalui learning by doing dan belajar dari pengalaman kesatuan lain dengan memberikan feed back yang sesuai dengan kebutuhan, termasuk belajar dari kejadian-kejadian yang muncul disekitar kita dengan cara berusaha untuk menemukan learning point selanjutnya disampaikan kepada anggota secara spontan apa adanya diharapkan pelaksanaan tugas Polwiltabes Surabaya bersandar pada semangat hari ini lebih baik daripada hari kemarin.

Dampak dari pelaksanaan tugas Polisi yang kita inginkan adalah masyarakat dapat belajar melalui pertunjukan yang ditampilkan oleh polisi Polwiltabes Surabaya, oleh karena itu polisi dalam melaksanakan tugasnya harus dapat memberikan gambaran nyata bahwa yang salah katakan salah yang benar katakan benar dan action serta performance polisi dilapangan  mencerminkan polisi yang netral ketika memutuskan perilakunya sendiri saat bertindak dan perilaku masyarakat yang sedang konflik dengan hukum.

Netralitas Action pemimpin polisi bersumber pada suara hati. Kalau sang pemimpin ada udang dibalik batu tentu action dan keputusan-keputusannya mengarah kesana yang dapat menimbulkan kesemrawutan kepentingan yang berarti kita tidak terfokus pada kepentingan masyarakat.

Action polisi dilapangan difokuskan untuk mengejar hasil, proses dan dampak yang diinginkan oleh karena itu kita perlu menata hati agar kita tidak setengah-setengah dalam melaksanakan tugas ini. Untuk itu bisa dilihat dari hasil yang ditampilkan setiap hari, yang  secara komulatif akan menampakkan kesatuan mana yang melaksanakan tugas ini secara serius dan konsisten atau  hanya sekedar melakukan untuk memenuhi perintah atasan.

SUKSES ITU TIDAK TERASA

Salah satu program pelatihan out bound yang dilakukan di Polwiltabes Surabaya adalah mengamati sebuah film dengan judul ricing stripes yang menggambarkan seekor kuda zebra sukses menjadi juara pertandingan pacuan kuda mengalahkan kuda pacu yang disiapkan untuk memenangkan sebuah pertandingan. Setelah usai menikmati tayangan film tersebut, saya selalu menanyakan pada para peserta pelatihan, bagaimana rasanya menjadi sang juara? walaupun dalam film tersebut telah disampaikan secara jelas oleh sutradaranya bahwa menjadi juara itu tidak terasa sebelumnya. Itulah gambaran yang menjadikan inspirasi bagi kesuksesan pelaksanaan tugas Polwiltabes  Surabaya.

Dalam evaluasi operasi multisasaran yang digelar setiap jum’at malam ditemukan nuansa yang sama tentang kesuksesan tersebut. Kesuksesan kesatuan dibawah Polwiltabes Surabaya yang berhasil dalam pelaksanaan tugasnya apabila ditanya pasti jawabnya sukses itu tidak terasa namun diperlukan proses yang konsisten mulai dari perencanaan sampai tindakan nyata dari kesatuan Polri baik tingkat Polsek maupun Polres untuk melakukan kegiatan secara serius.

Agar operasi multisasaran memberikan pengaruh yang positif pada proses pembelajaran kesatuan polri menuju perubahan yang lebih bagus, dan menjadi sarana pembelajaran masyarakat melalui penemuan semangat penyelenggaraan operasi multisasaran maka operasi multisasaran harus dibangun menjadi kegiatan  polisi nyata dilapangan dilaksanakan dengan benar secara yuridis, dengan etika yang baik disertai dengan tingkat kejujuran yang tinggi bagi penyelenggaranya. Roh itulah yang saat ini ditangkap oleh seluruh penyelenggara operasi dan masyarakat Surabaya.

Rambu-rambu yang jelas yang dibangun oleh polwiltabes bagi masyarakat dan penyelenggara kegiatan kepolisian ditambah dengan semangat yang serius dan konsisten secara tidak terasa telah menghasilkan situasi yang kondusif bagi terselenggaranya segala kegiatan masyarakat Surabaya baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya.

Selama saya menjadi Kapolwiltabes Surabaya, terjadi banyak kegiatan yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial, budaya maupun gangguan kriminalitas dan rongrongan terhadap proses-proses perlindungan dan pelayanan masyarakat, namun karena semangat yang ditunjukkan anggota Polwiltabes Surabaya dan keseriusan penerapan reward and punishment maka gangguan dan rongrongan tersebut dapat diatasi. Sekali lagi sukses memang tidak terasa, namun kegiatan nyata secara serius dan konsistenlah yang menyebabkan kita menemukan gadis cantik yang namanya sukses.

Inilah catatan saya ketika latihan menjadi seorang pemimpin tingkat menengah, selama hampir 3 tahun.

Kata Kunci

  1. Semangat dapat menjadi keyakinan  yang dapat tumbuh menjadi spiritualitas yang berbasis pada diri sendiri.
  2. Keteladanan berupa  keterbukaan proses maupun hasil, dan dampaknya.

About anangiskandar

sabar itu indah sabar itu tanpa batas sabar itu jimat menghadapi ujian dunia sabar itu mata hati dalam menjalani kehidupan
This entry was posted in Kepolisian, Leadership. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s