Kawah Condrodimukonya Pecandu Narkoba

San Patrignano adalah ruang baru di alam yang mengajarkan untuk selalu mencontoh sifat-sifat bumi. Belajar seni ketekunan dan harapan. Belajar untuk menghargai hasil bumi. Belajar untuk berkebun, bertani dan beternak. Setiap hari terlihat beberapa kelompok, tiap kelompok terdiri sekitar tiga puluh anak-anak muda, laki-laki dan perempuan, ada yang berkutat dengan alat-alat pertanian, mengolah tanah, ada yang menanam rumput untuk makanan ternak, ada juga yang menyiapkan festival makanan dengan mengedepankan hasil bumi San Patrignano.

Ketika saya melihat batas wilayah San Patrignano yang luasnya 130 hektar, pikiran saya langsung menerawang ingat ajaran Hasta Brata yang disampaikan Begawan Kesowo Sidhi, dimana ajaran tersebut mengajak kita untuk mencontoh sifat-sifat bumi. Kita memang perlu menemukan sifat-sifat bumi yang dapat kita manfaatkan untuk kesejahteraan umat manusia. San Patrignano telah menemukan dan sudah diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

San Patrignano yang dikelilingi tanaman yang menghijau seolah terbenam dalam alam dengan vegetasi alternatif tradisional seperti pertanian tanaman pangan dan perkebunan anggur, bunga beraneka macam, dan groves zaitun, khas dari daerah perbukitan yang menghadap ke laut.

Sejak dulu masyarakat di sekitar situ, kegiatan utamanya adalah berkebun dan bertani mengolah tanah. Budaya tradisi leluhur itu dimanfaatkan oleh Andrea Muccioli, untuk menarik para pemuda pecandu narkoba dengan menyalurkan bakat dan minat berkebunnya di San Patrignano.

“Di dalam berkebun mereka belajar seni ketekunan dan harapan, serta  belajar untuk menghargai hasil bumi. Setelah tekun menanam, mereka harus bersabar untuk mengharapkan hasil yang diinginkan, setelah berhasil mereka harus menghargai hasilnya itu. Denga belajar melalui proses itu, lamban laun mereka akan kembali menemukan dirinya, setelah menemukan dirinya, mereka akan terdorong untuk merawatnya dan tidak akan membiarkan dirusak oleh narkoba,” urai Elisa sembari mengantarkan kami melihat-lihat groves zaitun.

Ratusan jenis bunga tertanam di kebun itu, dengan tekun mereka merawat dan menyiraminya. Tidak ada keluh kesah, tidak kata menggerutu, mereka tampak menikmati pekerjaan yang dijalaninya itu. Wajah-wajah cerah dan sumringah serta senyum yang ceria menyembul diantara hamparan berbagai tanaman seakan menyongsong musim semi.

“Pada musim bunga, ada bermacam-macam jenis bunga  yang dihasilkan dari kebun ini, semua itu sudah ada yang memesan, setiap pekan pedagang bunga dari luar datang untuk mengambil pesanannya. Pada hari-hari besar biasanya banyak permintaan, seperti hari raya natal, bunga yang berwarna merah, menjadi idola dan kadang kami kewalahan memenuhi pesanan,” terang Elisa lagi.

Di San Patrignano, bukan hanya menanam bunga saja, tapi juga mengadakan pelatihan merangkai bunga, untuk dekorasi gedung atau ruang-ruang pertemuan. Bagi yang tidak suka berkebun, tapi suka merangkai bunga, disediakan fasilitas untuk kursus dekorasi dan merangkai bunga. Riccardo Baratta Armani Fiori, mantan pecandu yang kini mahir mendekorasi ruangan dengan aneka bunga.  “Karangan bunga, centritavola, dalam komposisi yang bijaksana dan menggambarkan kerukunan serta menggabungkan gaya elegan dalam bermain warna. Itu adalah karya Riccardo, yang dapat Anda lihat di Restoran SP Accio,” kata Elisa lagi.

Di sebelah kebun bunga, juga terdapat rumah-rumah (greenhouses) yang dipenuhi dengan pot-pot bunga. Bunga dan tanaman yang ada di pot itu, tumbuh subur mengikuti irama alam.

Semua itu karena sentuhan tangan-tangan manis dan terampil para remaja-remaja putri yang dengan tekun merawat dan menyiraminya. Mereka merawat tanaman itu, seperti merawat dirinya.

Di sini saya menemukan berbagai ruangan yang penuh dengan tanaman bunga yang disusun bertrap-trap, dengan berbagai ukuran, masing-masing dirawat dengan penuh semangat dan teliti.

Dalam melakukan pencegahan dan pemulihan mantan pecandu narkoba, San Patrignano, mengembangkan metode pendidikan dalam arti luas. Dan metode itu telah dijalankannya selama 30 tahun dan terbukti berhasil. Banyak kaum muda yang telah berhasil bebas dari kecanduan narkoba, dan kini mereka menjelma menjadi insan-insan profesional yang mandiri, dengan keahlian yang didapatnya di San Patrignano.

San Patrignano merupakan kawah Condrodimuko, tempat menempa para pecandu narkoba, untuk menemukan kembali identitas dirinya, semangatnya dan motivasi hidupnya. Dengan bimbingan dari para mentor, mereka belajar berbagai hal tentang hidup dan makna kehidupan, berlatih keterampilan, dan bekerja sesuai dengan keinginannya. Mereka terlahir kembali sebagai manusia yang benar-benar merdeka. Mereka bisa mengatur dirinya sendiri, memenuhi keinginannya, dan menentukan masa depannya.

Ini semua seakan mengajarkan kepada kita semua, tidak saja kepada mereka yang sedang menjalani terapi, tetapi juga kepada kita yang ingin sukses menjalani kehidupan. Ketika saya mengelilingi San Patrignano perasaan saya seperti sedang menjalani out bound untuk menemukan spirit dan emosi, bagaimana San Patrignano bisa sukses seperti itu.

Bagian 3 dari 6 Tulisan perjalanan saya ke San Patrignano Community italy

About anangiskandar

sabar itu indah sabar itu tanpa batas sabar itu jimat menghadapi ujian dunia sabar itu mata hati dalam menjalani kehidupan
This entry was posted in Narkoba. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s