Team Building Jantungnya San Patrignano Community

Sejak awal berdirinya, San Patrignano selalu mengembangkan prinsip keterbukaan, kejujuran, solidaritas dan kebersamaan untuk membangun team yang sukses, termasuk dalam membangun semua fasilitas yang ada di San Patrignano. Untuk memenuhi kebutuhan tempat makan, dibangun sebuah rumah besar tanpa sekat, dilengkapi dengan meja dan kursi panjang yang sama. Itulah rumah makan untuk semua. Keluarga besar San Patrignano.

“Mereka adalah anak-kita, saudara kita, keluarga kita, jadi harus diperlakukan sama, jangan dibeda-bedakan. Taburi mereka dengan cinta dan kasih sayang. Itulah pesan almarhum ayah saya sebelum beliau tiada,” tutur Andrea, ketika mengantar kami memasuki rumah makan itu.

Saya benar-benar terkesima melihat pemandangan itu, suasana kebersamaan dan keterbukaan di antara mereka sangat terasa, tidak ada yang merasa canggung, semua terlihat akrab, saling mengasihi dan menyayangi, saling sapa dan saling tanya, mereka memang keluarga besar dalam arti yang sebenarnya, senasib dan sepenanggungan.

“Rumah makan ini adalah jantungnya San Patrignano. Rasa kebersamaan, keterbukaan, kejujuran dan kekeluargaan itu, dibangun di sini. Mereka bisa berbagai rasa, saling mencurahkan isi hati, membangkitkan motivasi dan memompa semangat untuk menatap masa depan yang lebih cerah,” ungkap Andrea.

Saya hanya mengangguk-angguk, mendengar ungkapan Andrea Muccioli itu. Dalam hati saya merasa takjup, melihat suasana kekeluargaan yang dibangun di tempat makan. Saya yakin delegasi lain pun merasakan hal yang sama melihat pemandangan di dalam rumah makan yang penuh dengan rasa kebersamaan itu.  Saya melihat Ka. UPT. Terapi dan Rehabilitasi Lido Drg. Agus Gatot Purwanto, tampak terkagum-kagum memperhatikan sikap dan tingkah laku mereka yang tidak memperlihatkan bahwa mereka adalah pecandu narkoba yang sedang menjalani rehabilitasi.  Mungkin ia teringat dengan pusat rehabilitasi Lido yang dipimpinnya, dimana suasana seperti itu tidak terdapat di Lido.

Teman sebangku saya dari Kedutaan Besar Italia, dengan berbisik bertanya kepada saya, perlu waktu berapa lama untuk bisa membangun rasa kebersamaan dan kekeluargaan diantara mereka itu?. Dia juga heran bagaimana mereka bisa dengan sigap dan cekatan menjalankan tugasnya masing-masing dalam melayani dan membereskan piring dan meja bekas makan.

Sambil makan, saya jelaskan, ini dalam bahasa pendidikan dikenal dengan out bound, atau secara awam disebut latihan dalam kehidupan nyata, untuk membangun team yang sukses dan bersemangat. Sebenarnya tidak terlalu sulit asal ketika dia melakukan kesalahan, kelambanan, ketidakakuratan, tutor secara spontan dan apa adanya memberikan feed back berupa koreksi-koreksi lapangan dan dimonitor secara terus menerus. Saya yakin, mereka yang ada di ruang makan ini pasti ada pengawas yang bertindak sebagai tutor.

Suasana seperti itu, mereka jalani setiap hari. Banyak hal baru yang mereka dapatkan setiap kali masuk ke dalam rumah makan itu. Dan hal baru itu adalah arah menuju kepada perubahan hidup.

Desain ruangan dan dekorasinya dirancang untuk menghadirkan suasana kehangatan. Warna kayu yang alami serasa menyatu dengan jiwa mereka.

Kami semua makan bersama-sama dengan mereka, menu yang kami makan sama dengan mereka. Tanpa disadari, kami juga merasakan kebersamaan dan rasa kekeluargaan itu, meskipun baru beberapa jam kami bertemu, tapi nuansa keakraban itu telah tercipta.

Menu, disiapkan oleh sekelompok koki yang profesional dan terlatih, mereka juga warga San Patrignano yang sedang mendapatkan giliran sebagai Koki. Mereka sudah mendapatkan pengetahuan dan pengalaman bagaimana memperhitungkan kandungan gizi makanan dan kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 1.600 orang yang tinggal di San Patrignano.

Menurut Elisa, setiap hari menghabiskan sekitar 300 kg roti dan 150 kilogram pasta, 150 kg daging sapi dan 250 kg unggas, serta sayuran. Disediakan pula menu khusus bagi orang-orang yang menjalani diet.

San Patrignano yang terletak di wilayah pegunungan dilengkapi berbagai fasilitas untuk masyarakat dan para pengunjung. Hotel, arena olahraga, cafe, tempat kebugaran, Teater, Restoran dan Auditorium.

“Menggelar acara di Auditorium San Patrignano, selain akan mendapatkan layanan dan fasilitas yang memuaskan, juga memiliki nilai sosial karena akan mendatangkan penghasilan bagi anak-anak. Karena semuanya dikerjakan oleh anak-anak. Mereka telah memiliki tim dan kelompok sesuai dengan keahliannya masing-masing,” promosi Elisa, saat mengantar kami memasuki Auditorium.

Struktur auditorium yang luas dengan kapasitas yang besar itu, menawarkan pilihan acara yang terbuka untuk khalayak ramai. Auditorium San Patrignano dapat menampung lebih dari seribu orang, dengan 800 kursi dan 400 kursi berdiri di samping.

Selain itu, di San Patrignano, juga memiliki ruang yang fleksibel, dapat dirancang sesuai dengan kebutuhan. Interior dan kursi-kursinya bisa dilipat dan dirubah sesuai selera dalam waktu setengah jam. Benar-benar fantastis.

Disamping Gedung itu saya melihat ada lapangan rumput yang didesain bergelombang, kata Andrea, lapangan rumput itu, untuk menggelar kompetisi balap kuda bertaraf internasional. Strukturnya terdiri dari padang rumput yang luas, dilengkapi restoran dengan sistem pencahayaan yang canggih. Tempat itu sangat mempesona, menawarkan keunikan dan sangat ideal untuk menyelenggarakan acara besar.

Kemudian kami bersama rombongan juga diantarkan melihat arena olahraga indoor. Bangunan yang megah ini selain digunakan untuk menggelar event-event olahraga, juga untuk menggelar fashion show, pameran, dan konser musik.

Ada lagi fasilitas yang dimiliki San Patrignano, yaitu Club House. Bangunan yang elegan terletak di atas bukit ini menawarkan keindahan panorama laut yang indah. Dilengkapi dengan bar, dapur besar, teras yang luas menjadi tempat untuk brunch, dan minuman cocktail.

Kami berkesempatan menikmati makan malam di Club House ini, dengan menu khas Italia yang lezat, ada hati Angsa, Pasta, dan makanan khas San Patrignano yang khusus disiapkan untuk rombongan BNN.

Bagian 4 dari 6 tulisan perjalanan saya ke San Patrignano community Italy

About anangiskandar

sabar itu indah sabar itu tanpa batas sabar itu jimat menghadapi ujian dunia sabar itu mata hati dalam menjalani kehidupan
This entry was posted in Narkoba. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s