Kepompong Menjadi Kupu-Kupu

Catatan ini adalah  tulisan Pertama saya ketika mengunjungi Kampung Bonang, Matraman Jaya, Jakarta Pusat, yang dulunya terkenal sebagai Kampung rawan tawuran dan rawan peredaran gelap narkoba.

Rombongan  diterima oleh Ketua Yayasan Nurani Dunia, DR. Imam Prasojo, di restoran Vietopia, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat. Restoran ala Vietnam ini suasananya enak, dengan sentuhan dekorasi dan ornamen tempo dulu, seolah kita terbawa pada suasana jaman dulu yang serba alami. Tidak terasa hidangan mie yang disajikan restoran Vietopia, tinggal kuahnya.

Disela menyantap mie seafood, Imam Prasojo menjelaskan panjang lebar tentang latar belakang dan proses-proses bagaimana merubah Kampung Bonang yang dulu terkenal sebagai daerah rawan tawuran dan rawan peredaran gelap narkoba, menjadi daerah bebas dari masalah narkoba.

Sekitar awal tahun 2000-an sebelum Yayasan Nurani Dunia turun di Kampung Bonang, kondisi Kampung itu sangat memprihatinkan, setiap minggu paling tidak ada dua orang yang meninggal dunia akibat mengkonsumsi narkoba. Masyarakatnya cenderung apatis, tidak berdaya, dan malas, akibatnya setiap ada masalah selalu diselesaikan dengan cara tawuran, yang sudah menjadi tradisi turun temurun, sehingga banyak jatuh korban, bahkan sampai ada yang meninggal dunia.
Langkah-langkah yang dilakukan Yayasan Nurani Dunia adalah pengorganisasian masyarakat sesuai dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat Kampung Bonang. Awalnya menggelar senam pagi bersama ibu-ibu, yang kemudian berkembang pada kegiatan lain, seperti ketrampilan merangkai bunga kering (oshibana), kreativitas melukis anak, membangun Rumah Belajar Komunitas Proklamasi, membangun Gardu Ilmu, komunitas Daerah Pinggiran Rel (komunitas kreatif), Pos Ilmu, Taman Tarsan dan Taman Sehat.
Senam pagi yang semua hanya diikuti enam orang, berkembang menjadi 30 orang dan bahkan kini telah mencapai ratusan orang. Dan atas permintaan dari ibu-ibu dari kampung seberang yang dulu menjadi musuhnya, kegiatan senam dan ketrampilan merangkai bunga kering digelar secara bergiliran di Kampung Bonang dan Kampung Menteng Jaya, hal itu dimaksudkan untuk menyambung interaksi atau silaturahmi antar warga yang dulu sering terlibat tawuran.

Kandang ayam yang terletak di RT 16, dulunya menjadi tempat para pecandu untuk melakukan pesta narkoba, kini tempat itu telah berubah menjadi Taman Tarsan dan Taman Sehat, serta tempat untuk menggelar berbagai kegiatan, diantaranya terapi bagi mantan pecandu narkoba dengan menggunakan media lintah, menggelar pengajian dan latihan marawis. Sedangkan Taman Sehat yang dulunya menjadi tempat transaksi narkoba, juga telah dirubah menjadi tempat terapi lintah dan tempat olahraga tenis meja.
Setelah menjelaskan berbagai langkah yang dilakukan Yayasan Nurani Dunia, Imam Prasojo yang didampingi Koordinator Rumah Belajar Komunitas Proklamasi (RBKP), rombongan BNN diajak berkeliling Kampung Bonang untuk melihat dan berinteraksi dengan warga.

Sarana untuk Interaksi

Saat anak-anak lain seusianya sudah mandi dan siap menonton televisi, Vira (15) yang masih duduk di bangku kelas tiga SMP ini sedang asyik membaca buku pilihannya dari perpustakaan yang sederhana. “Kita sedang menunggu guru yang akan mengajar bahasa Inggris,” jelasnya.

Bersama teman-temannya, ia me ngisi waktu luang untuk belajar tambahan di luar jam sekolah. Kegiatan ini adalah salah satu contoh kegiatan belajar di Rumah Belajar Komunitas Proklamasi, yang terletak di Jalan Bonang RT 18/06 No 38 Matraman Jaya, Jakarta Pusat, dekat dengan Tugu Proklamasi, di luar jam sekolah setiap harinya.

Mulai dari pukul 16.30 anak-anak sekolah sudah berkumpul di satu ruangan selebar 7 kali 4 meter. Di dalamnya terdapat satu white-board, beberapa rak buku berisi buku-buku bacaan, dan beberapa meja tulis untuk para murid yang belajar.

Terdapat dua kamar, yang satu digunakan untuk ruang komputer, dan kamar yang lain untuk menyimpan alat-alat lukis dan sablon yang mereka gunakan setiap minggunya.

Ketika rombongan mengunjungi tempat itu, terdapat sekitar 15 anak yang datang, terdiri dari anak kelas tiga SD hingga satu SMA. Mereka terlihat sangat antusias. “Senang dengan adanya rumah belajar ini, kita jadi bisa mengembangkan bakat, gratis lagi,” kata Vira.

Hal senada dikatakan Kiki (12). Kegiatan di rumah ini memang dibuat untuk anak-anak yang tidak mampu mengikuti kegiatan bimbingan belajar di luar sekolah mereka.

Rumah Belajar Komunitas Proklamasi, didirikan Yayasan Nurani Dunia, bekerja sama dengan beberapa perusahaan swasta seperti PT. GE Consumer Finance, Sara Lee, Majalah Tempo dan Sisindosat,  yang bersedia memberikan sumbangan.

“Rumah belajar ini didirikan, menawarkan kegiatan yang berguna bagi masyarakat sekitar. Suatu responsive community yang coba kita bangun untuk masyarakat di daerah sekitar sini. Cita-citanya ingin membuat suatu masyarakat yang disusun melalui interaksi sosial yang terjalin di antara mereka. Kepercayaan di antara mereka dibentuk, kerelaan mereka untuk membangun kondisi yang baik bagi mereka sendiri,” jelas Imam Prasojo, Ketua Yayasan Nurani Dunia, ketika mengantar  kami beserta rombongan ke Rumah Belajar Komunitas Proklamasi.

Rumah belajar itu ditujukan juga untuk meningkatkan pendidikan, tambah Imam, Hal itu didasari kenyataan rata-rata pendidikan warga di daerah itu masih rendah. Keberadaan rumah belajar menyebabkan anak-anak sekolah mendapat wadah ke mana mereka bisa bertanya mengenai pelajaran mereka di sekolah, ketika orangtuanya tidak bisa melakukannya.

“Tujuan lain, pemberdayaan ekonomi, contohnya mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos. Kemudian membudidayakan cacing untuk makanan ikan, membuat kebun tanaman keperluan sehari-hari mereka sendiri, hingga mengajarkan bagaimana menyablon agar mereka bisa menciptakan pemasukan bagi diri mereka sendiri,” jelas Imam.

Sebenarnya, sebelumnya di kawasan itu telah terbentuk wadah “Warga Cinta Damai Komunitas Proklamasi”. Wadah itu sengaja dibentuk untuk menangani masalah perkelahian antarwarga setempat. Karena dulunya kawasan ini dikenal rawan dengan masalah perkelahian antarwarga dan narkoba.

Kegiatan rutin seperti senam aerobik setiap hari Minggu, pukul 07.00, membuat interaksi di antara mereka tidak terputus. Dialog di antara mereka, mampu mengurangi kejadian tawuran ataupun maraknya narkoba di lingkungan mereka. Kegiatan seperti itu, melibatkan ibu-ibu dari warga yang saling bertikai, terlihat hasilnya efektif menangani perkelahian antarwarga.

Diharapkan Rumah Belajar Komunitas Proklamasi ini bisa terus menjalin interaksi masyarakat, menciptakan lingkungan yang dinamis, damai dan sejahtera. Rumah Belajar ini juga menciptakan sarana bagi para orang berada agar bisa melihat ada sesamanya yang kurang beruntung sehingga bisa menciptakan empati dalam diri mereka.

Imam Prasojo, sangat berharap Rumah Belajar Komunitas ini bisa menjadi center gravity, dimana menjadi pusat segala hal kegiatan positif sehingga bisa menjadi sebuah model bagi perkampungan lainnya. “Bayangkan jika setiap perkampungan memiliki semua kegiatan yang positif ini, jelas akan signifikan perubahan yang kita lakukan,” tandas Imam.

About anangiskandar

sabar itu indah sabar itu tanpa batas sabar itu jimat menghadapi ujian dunia sabar itu mata hati dalam menjalani kehidupan
This entry was posted in Narkoba. Bookmark the permalink.

3 Responses to Kepompong Menjadi Kupu-Kupu

  1. keren.. Sy sangat setuju sekali dengan adanya program ini, karena kita memang harus memanfaatkan sarana yang mungkin sebelumnya belum terpakai atau hanya digunakan untuk hal yang merugikan, seperti pesta narkoba dll.. Dengan dimanfaatkannya tempat ini sebagai hal yang positif seperti taman sehat, tampat olahraga tenis meja, dan rumah belajar, maka akan dapat dan sangat memajukan bangsa ini…
    salam ya pak Iskandar.🙂

  2. selamat dan sukses says:

    Menyampaikman selamat atas dilantiknya Brigjen Pol Anang Iskandar sebagai Kapolda Jambi. semoga sukses dan selalu mendapatkan hidayah dan berkah dari Allah SWT. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s