Catatan saya ketika jadi kapolda jambi

Banyak yang Tak Percaya Bisa Lulus Murni

​Ini adalah catatan saya diambil dari tulisan-tulisan yang dimuat di media masa tentang tanggapan para brigadir yang lulus tidak menggunakan uang pelicin , atau lobi . Mereka lulus murni. Syukurlah.
Mereka bercerita tentang perjuangan hidup sebelum dinyatakan lulus sebagai calon Brigadir Polisi . Apalagi, beberapa lulusan terbaik berasal dari keluarga biasa. Salah satunya Umi Nurjanah (19), anak pedagang ayam potong di Sarolangun :

Saat berjumpa dengan Jambi Independent di Mapolda Jambi Thehok Kota Jambi, Rabu (29/2), kenangan Umi – saat itu mengenakan kemeja putih dan rok hitam- empat tahun lalu kembali muncul. Ketika itu dia masih kelas 1 SMA Negeri 1 Sarolangun.
Setiap hari, Umi bangun pada pukul 03.00. Waktu bangun yang terlalu pagi bagi anak sekolah kebanyakan. Tapi itu lah yang dialami Umi selama bersekolah di SMAN 1 Sarolangun.
Setelah cuci muka dan minum segelas air, dengan tubuh lunglai karena masih mengantuk, Umi mulai membantu pekerjaan ayah dan ibunya yang pedagang ayam potong di Pasar Sarolangun itu.
Dengan telaten, anak pasangan Sumaryanto (43) dan Kusmawati (38) itu mencabuti bulu-bulu pada ayam yang sudah dipotong, lalu membersihkan usus dan hati ayam itu sampai tak ada kotoran lagi. Umi terus melaksanakan tugasnya hingga fajar mulai tampak, dan baru berhenti ketika waktu bersekolah mulai dekat. Setelah mandi dan siap-siap, barulah dia berangkat ke sekolah.
Di sekolah, gadis kelahiran Bernai 23 Mei 1992 itu berusaha untuk tampil seperti anak-anak lain yang keluarganya berekonomi mampu dan setiap pagi tak wajib bangun jam tiga, lalu membersihkan ayam-ayam sebelum dijual ayahnya ke pasar. Dia berusaha tegar, riang tapi giat belajar. Diam-diam, dia memupuk semangatnya untuk jadi Polisi dengan sepenuh jiwanya.
“Aku mau mengabdi pada nusa dan bangsa, aku mau memberantas para koruptor!” tekad lulusan terbaik kedua pada penerimaan Bintara Polri tahun 2012 itu, kepada Jambi Independent.
Keinginannya yang besar untuk jadi Polisi ditunjang dukungan yang besar pula dari ayah dan ibunya. Bahkan, ayahnya selalu menjadi pendamping terbaik di saat-saat Umi butuh latihan fisik.
Setiap kali latihan berlari, Umi didampingi ayahnya. Ayahnya menyemangati Umi dengan teriakan-teriakan, “ayo lari nak, lari…”, hingga membuat lelahnya hilang berganti energi.
Begitu lulus SMA tahun 2011, Umi menunggu penerimaan bintara Polri sambil berkuliah di Universitas Jambi Fakultas Hukum. Latihan fisik tak pernah lupa dilakukan warga Jalan Tambak Sari RT 02 Bernai Luar Kecamatan Sarolangun itu.
Saat yang ditunggu-tunggu tiba, pengumuman penerimaan Bintara Polri tahun 2012 dibuka. Umi semangat. Dia langsung mendaftar. Kepercayaan dirinya semakin meningkat begitu mendengar janji Kapolda Jambi Brigjen Pol Anang Iskandar yang menyatakan penerimaan bintara kali ini akan transparan, humanis, akuntabel dan “bersih”.
Begitu lulus seleksi administrasi, Umi mulai menjalani serangkaian tes yang dirasanya sangat transparan. Dari psikotes sampai tes jasmani, dia dan ratusan peserta tes yang lain diperlihatkan perolehan nilai pada layar infokus beberapa saat setelah tes dilaksanakan. Setiap peserta disarankan mencatat perolehan nilai masing-masing, lalu mencocokkannya pada hari penentuan akhir.
“Kami puas dengan tes kali ini, sangat transparan,” beber Umi, diamini beberapa rekannya yang lain sore itu di Mapolda Jambi.
Setiap tes, Umi mencurahkan fokus dan semangatnya dengan sungguh-sungguh. Tekadnya membara, niatnya tak terbendung, Polisi adalah kata akhir pencapaian cita-cita yang sejak kecil sudah dipupuknya dalam hati. Hasilnya, pada sidang penentuan kelulusan akhir calon Brigadir Polri Jumat 24 Februari 2012, dia dinyatakan lulus dengan predikat nilai kedua terbaik! Dia berhasil! Dia lulus tanpa mengeluarkan “uang pelicin” sepeser pun!
Ayahnya yang ikut menyaksikan sidang itu langsung terharu. Usai sidang, Sumaryanto memeluk haru putrinya yang membanggakan itu dengan air berlinangan di pipi.
Anak pedagang ayam potong yang setiap pukul tiga dini hari membersihkan ayam itu, kini telah menjadi calon Brigadir Polisi. Ya, seorang calon Polisi wanita (Polwan) yang tangguh dan semoga bisa mengharumkan nama Jambi dengan semangatnya yang juga tangguh itu. Selamat, Umi…

Pada seleksi calon Bintara Polri di Jambi bulan lalu, banyak yang bertanya-tanya siapa peraih nilai tertinggi alias juara pertama. Dia adalah Indra Adi Prawira (20). Di posisi kedua, Rachmat Hidayat (20). Indra anak sipir Lapas sedang Rachmat anak pedagang cabai di Pasar Angsoduo.
Indra dan Rachmat punya pengalaman yang sama. Sama-sama pernah ikut tes masuk Polri. Indra Akpol sedang Rachmat calon bintara tahun 2011 lalu. Dan, dua-duanya gagal. Dinyatakan tidak lulus dengan nilai mengecewakan. Tapi itu tak membuat mereka putus asa, hingga di ujung-ujungnya mereka meraih prestasi yang membanggakan seperti saat ini –predikat nilai terbaik pada tes calon Bintara Polri di Jambi tahun 2012.
Masih berkesan di ingatan Indra ketika sang ibu, Komdyawati (45), menyarankan ia berhenti kuliah untuk kemudian mengejar cita-cita sebagai abdi masyarakat di bidang hukum, Polisi. Padahal sewaktu itu baru tahun pertama dia kuliah di salah satu universitas setempat pada fakultas administrasi bisnis.
“(Lulus) kuliah belum tentu dapat pekerjaan, ingat adikmu yang masih banyak kebutuhan sekolah,” ujar ibunya seperti ditirukan Indra kepada Jambi Independent.
Kondisi itu membuat Indra harus memutuskan, lanjut kuliah dengan resiko pengeluaran keluarga terus membengkak dan biaya sekolah adik terancam, atau berhenti kuliah lalu mengikuti tes Polri dengan harapan lulus dan bisa membantu perekonomian keluarga. Pilihannya jatuh pada opsi kedua. Dia harus tes Polri, bekerja sebagai Polisi pengayom masyarakat.
Tiga bulan sebelum tes Akpol di awal tahun 2011, Indra, remaja kelahiran Blitar 15 Juni 1991 itu akhirnya merantau ke Kota Jambi. Dia menginap di rumah kakaknya. Sambil menunggu pendaftaran, Indra terus mengasah kemampuannya. Latihan-latihan fisik tak pernah luput dari hari-hari lulusan SMAN 3 Blitar itu.
Hari tes Akpol pun tiba. Indra mengikuti serangkaian tes dengan semangat, dengan harapan lulus setelah mendapat dukungan penuh dari ibunya. Ayahnya, Supriyadi (46), sipir lembaga pemasyarakatan di Blitar, pada akhirnya ikut mendukung keputusannya.
Tapi nasib baik belum berpihak kepada dirinya. Dia gagal pada tes penerimaan Akpol dengan nilai tak memuaskan. Item tes shuttle run (berlari mengikuti rute berbentuk angka 8), tak bisa dilaluinya dengan sempurna. Indra kecewa tapi tak putus asa.
Pembukaan calon Bintara Polri di awal tahun ini, menumbuhkan kembali semangat Indra yang mulai turun. Dia kembali berjuang. Bekal kegagalan pada tes Akpol lalu, dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Indra. “Saya masih khawatir gagal lagi di shutlle run,” tuturnya.
Namun berkat perjuangan dan latihan-latihan rutin yang dilakukannya, Indra berhasil dengan gemilang. Ketika sidang penentuan kelulusan, dia dinobatkan sebagai peraih rangking tertinggi. Juara pertama ditangannya. “Ndak nyangko dapat juara satu,” jelasnya.
Karena lulus di brigadir, Indra, anak sipir penjara ini bertekad merangkak di karir Polisi. Dan, dia sudah berhasil membuktikan bahwa dirinya bisa mandiri, tidak lagi membebani orang tuanya.
Seperti Indra, Rachmat Hidayat juga pernah gagal mengikuti jalur tes masuk Polri. Tahun lalu, dia mencoba peruntungan di bintara Polri. Rangkaian tes dilakoni anak pedagang cabai di Pasar Angsoduo itu, tapi gagal. Pada tes saat itu, dia hanya mendapat ranking 51 ke bawah. Sementara, yang diterima 51 calon brigadir.
Tapi dia tak mau mengalah dengan nasib. Makanya, ketika pembukaan calon bintara kembali dibuka awal tahun ini, lulusan SMA At Taufiq itu langsung mendaftar dengan semangat yang menggebu-gebu.
Padahal, pada waktu itu dia sudah terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Unja semester III. “Waktu tes bae aku masih kuliah, tapi minta libur sebentar,” jelas bungsu lima bersaudara ini.
Seperti peserta tes lain, Rachmat mengaku tenang. Sebab, seluruh proses tes berlangsung transparan dan terlihat adil. Sejak awal tes dia sudah mendapat gambaran nilai yang diraihnya. Makanya, semangatnya makin bertumbuh dari tahap per tahap sampai akhirnya dia dinyatakan lulus sebagai peraih nilai tertinggi kedua setelah Indra.
“Waktu lulus, Mak aku datang, dio nangis nengok aku lulus, juaro keduo pulok,” kenang Rachmat.
Kini, kedua calon brigadir Polisi ini bertekad untuk menjadi pelayan masyarakat, mengayomi dan menciptakan keamanan bagi masyarakat. Mereka juga berpesan agar adik-adik letingnya nanti, bisa mengikuti tes calon bintara dengan keyakinan dan semangat juang tinggi. “Ndak mungkin (lulus) pakai duit. Bapak aku pedagang cabe, Mak dulu bukak warung makan di Angsoduo,” tandas Rachmat.

Ricci Barus (19), lulusan SMKN 1 Muara Bungo adalah seorang lagi calon brigadir Polri yang lulus berkat perjuangan dan pengorbanan. Anak buruh perusahaan Sawit ini, sudah biasa hidup dengan keprihatinan. Keuletannya membawa dia menjadi peraih juara tiga pada tes calon Bintara Polri di Jambi yang lalu.
Ia lahir di Pematang Sapat 1 Juli 1992, Ricci dibesarkan dalam keluarga sederhana pasangan (alm) Jony Barus dan Masani Purba. Bungsu dari dua bersaudara ini sudah terbiasa hidup prihatin. Apalagi ayah dan ibunya hanya pekerja kasar di salah satu perkebunan Sawit setempat.
Sejak kecil, tiap liburan, Ricci selalu meluangkan waktu membantu ibunya bekerja di kebun. Apalagi ketika ayahnya wafat di tahun 2006, kehidupan keluarganya kian prihatin. Gaji ibunya yang hanya Rp 15.000 per hari, memaksa dia harus turun tangan.
Tugas menebas semak belukar, rumput-rumput, membersihkan sampah di sekitar pohon Sawit, menjadi rutinitas bagi Ricci di waktu-waktu tertentu. Ketika dia bersekolah di Muara Bungo, dia selalu memikirkan nasib ibunya yang tinggal sendiri di Jalan PTP RT 003 Kelurahan Sungai Ginjai Kecamatan Bathin III Bungo. Kakaknya sudah bekerja di salah satu dealer di Kota Bungo.
Saat praktek kerja lapangan, penyuka olahraga sepak bola ini merasa tertantang untuk mempelajari ilmu media massa. Makanya, harian Radar Bute (grup Jambi Independent), dijadikan tempat PKL yang tepat baginya.
“Banyak pengalaman yang didapat dari media, misalnya jadi tahu desain grafis,” jelas Ricci, semangat.
Menimbang finansial keluarga yang prihatin, begitu lulus SMK, Ricci tidak melanjutkan kuliah ke jenjang perguruan tinggi. Setiap ada waktu, dia selalu membantu pekerjaan ibunya di kebun, sebagai buruh tani. Sampai akhirnya dia melihat penerimaan calon Bintara Polri di internet.
Begitu dapat info itu, Ricci langsung mencari data-data tambahan dan contoh-contoh soal tes Bintara. Cukup cerdik. Bekal itu lah yang dibawanya ke Kota Jambi.
Cerita kepergiannya dari kampung ke Kota Jambi masih menyisakan keprihatinan. Bagaimana tidak, uang yang dibawanya ke Jambi hanya cukup untuk ongkos. Andalannya setiba di Kota Jambi adalah keluarganya yang siap mendukung perjuangannya di jalur Bintara Polri.
Akhirnya, setelah serangkaian tes diikutinya, Ricci berhasil meraih posisi ketiga perolehan nilai tertinggi di tes Bintara Polri yang lalu. Dia sempat kaget. Ibunya lebih kaget lagi. Apalagi upaya masuk Polisi dengan uang pelicin, adalah sesuatu yang tidak mungkin bagi diri dan keluarganya.
“Waktu pengumuman kelulusan, kulihat ibu menangis. Tapi kami ndak sempat pelukan, karena ibu sudah pulang duluan,” kenang Ricci.
Kini, Ricci sudah jadi calon Brigadir Polisi. Siap mengabdi kepada masyarakat meskipun, dulu, sewaktu kecil, dia bercita-cita jadi pendeta. “Itu dulu, sekarang saya mau jadi Polisi biar bisa melayani masyarakat,” tegasnya.
Begitulah, baik Umi, Indra, Rachmat maupun Ricci, bisa dijadikan sampel bahwa tes kepolisian di wilayah hukum Polda Jambi, masih bisa dikategorikan “bersih”. Sogok, titip menitip dan cara-cara kotor lain dalam penjaringan anggota Polri, tampaknya memang sudah saatnya dihapus.

Saya Sendiri Tidak Tahu

Kepada wartawan saya memang menegaskan bahwa tes calon bintara Polri kali ini berlangsung secara transparan, humanis, akuntabel dan “bersih”. Anak siapapun, kini punya peluang untuk masuk dengan jalur yang “bersih”, asal punya kemauan, kemampuan dan tekad yang kuat.
Sistem penjaringan kali ini dirancang sangat hati-hati. Dari segi penilaian atau scoring, tiap kali tes selesai, maka peserta tes akan diperlihatkan hasil perolehan nilai oleh dewan penguji. Ini berlaku dari tiap tahapan tes : psikotes, akademik, jasmani dan kesehatan.
Masing-masing tahapan tes memiliki bobot berbeda: psikotes 25, akademik 25, kesehatan 30 dan jasmani 20 (total 100 untuk semua tahap). Jadi, scoring didapat dari nilai yang diperoleh dikali bobot dibagi 100 (nilai x bobot / 100 = nilai peserta tes).
Setelah seluruh tes terlaksana, dan masing-masing peserta mendapat nilai tes, maka akan ditotalkan pada sidang kelulusan calon bintara yang dilakukan secara transparan. Seperti sidang kemarin, seluruh peserta dan keluarga peserta diundang hadir. Beberapa pejabat juga diundang menyaksikan sidang itu.
Tahap terakhir, nilai peserta diutarakan tiap penguji, diketik atau diinput ke komputer, lalu ditampilkan di layar infokus. Begitu data nilai tes seluruh peserta sudah diinput, maka komputer akan menghitung lalu mengurutkan dari nilai tertinggi sampai terendah. 44 peraih nilai tertinggi, otomatis diterima sebagai calon brigadir Polri 2012.
“Saya saja tidak tahu siapa yang juara satu juara dua, yang jelas, sewaktu diumumkan, lalu dicetak, baru saya tandatangani,”
Lalu, adakah kemungkinan nilai tes peserta diubah? . Peluangnya sangat kecil. Soalnya, tim pengawas, seorang dari panitia, seorang dari internal Polda dan seorang dari eksternal Polda, diberi kata sandi yang berbeda.
Maksudnya, jika pasword di komputer tercatat 9 digit, tiap pengawas diberi 3 digit. Ketika akan mengubah data di dalam komputer pengujian, maka ketiga pengawas harus ada pada tempat yang sama. “Ini sangat efektif. Yang megang pasword cuma tiga orang itu,”
Program yang dirancang untuk tes, dibuat khusus oleh programer dari STIKOM DB Jambi.
Jadi, untuk penjaringan calon Bintara Polri tahun depan, Saya berharap kepercayaan masyarakat bisa bangkit lagi kepada Polri melalui Polda Jambi. Soal titip menitip dan sogok menyogok, diharapnya tidak akan ada lagi di tahun mendatang. Tujuannya supaya seluruh masyarakat Jambi yang berminat bergabung menjadi personil Polri, mendapat kesempatan yang sama. Yang penting, harus ada semangat dan tekad menjadi abdi negara di bidang hukum yang bersih jika kelak menjadi anggota Polri.
“Tahun depan kita akan banyak menerima calon brigadir, bagi orang tua yang punya anak ingin jadi Polisi, persiapkanlah dari sekarang. Latih lah kemampuan anak supaya bisa lulus lewat jalur yang bersih,”

Tes SIP ( Sekolah Perwira Polisi ) Tanpa Uang, Mulanya Tak Percaya

Salah seorang siswa SIP Angkatan XLI 2012 mengaku sangat berbahagia dengan adanya tes SIP tahun ini yang dinilainya bersih dan transparan. Mulanya ia tak percaya bahwa tes semacam ini tanpa uang, tapi, setelah menjalaninya, dia benar-benar percaya. Dia mengaku bangga bisa masuk sebagai salah satu siswa lewat penjaringan yang bersih.
Siswa itu bercerita, tahun lalu ia pernah mengikuti tes secapa tapi tidak lulus. Berbagai cara telah dilakukannya ketika itu, hasilnya nihil. Dia tetap gagal. Dinyatakan tidak lolos SIP padahal dirinya merasa sudah maksimal mengikuti tes tersebut.
Sewaktu tes SIP kembali dibuka 14 Maret 2012 lalu, dia sangat tidak tertarik. Terlanjur patah arang. Namun istrinya memotivasi dengan menyatakan bahwa tes kali ini adalah yang terakhir. Jika tak lulus juga, maka sebaiknya tak perlu lagi ikut secapa di tahun-tahun berikut.
Mendengar itu dia langsung mendaftarkan diri. Sebelum tes dimulai, 123 peserta diberi pengarahan Irwasda Polda Jambi. Pada saat mendengar pengarahan Irwasda, semangatnya kembali menggebu-gebu.
“ Irwasda bilang, bahwa naskah ujian dibuat langsung oleh Kapolda bersama timnya. Tes kali ini dijanjikan bersih, tidak akan ada kebocoran soal, dan, seluruh peserta tidak dikenakan biaya sepeserpun. Itu membuat kami semangat,” tuturnya.
Saya juga menyampaikan tes SIP kali ini berlangsung bersih dan transparan. Tidak akan ada permainan kotor selama tes berlangsung. Tahap per tahap tes dilakukan secara transparan. Meski sudah semangat, dia mengaku belum terlalu percaya janji-janji itu.
Tapi, begitu tes dilangsungkan, dia seketika percaya. Tes tahap awal adalah kesehatan. Begitu tahu bahwa tes itu gratis, alias tanpa dipungut biaya sepeserpun, dia langsung kaget. Biasanya, hampir setiap tahun calon siswa diharuskan membayar tes kesehatan.
Tahap pertama itu memberi kesan luar biasa bagi siswa itu. Apalagi ketika hasil tes kesehatan diumumkan beberapa saat usai tes, semangatnya seketika meledak-ledak.
Malam harinya dia belajar dan belajar. Saking semangatnya, ayah dua anak itu begadang untuk mempersiapkan diri menjawab soal-soal tertulis pada tahap berikutnya. Istrinya mendampingi dengan tatapan seakan tak percaya, tapi tetap memberi dukungan positif kepada dirinya.
Tes kesehatan usai, masuk ke tes psikologi, dilanjutkan tes jasmani dan diakhiri ujian materi. Di tiap tahapan berlangsung transparan. Usai tes dilaksanakan, kemudian diberi penilaian, lalu hasil penilaian diumumkan. Waktu yang dibutuhkan sangat singkat, sehingga tak mungkin ada kecurangan pada saat tes berlangsung.
Begitu seluruh rangkaian tes selesai, dan dia diumumkan lulus menjadi salah seorang calon siswa SIP angkatan 41 tahun 2012, dadanya sesak dengan keharuan mendalam. Dia, hingga ditemui wartawan beberapa waktu lalu, masih merasa tak percaya bisa lulus tanpa menggunakan uang sama sekali.
Lebih terharu lagi ketika melapor ke Kapolda Jambi , kesemua siswa diberi ongkos dan uang saku untuk berangkat ke Sukabumi. “Kami sangat bangga punya Kapolda seperti beliau,” tuturnya.
Pertemuan dengan Kapolda usai tes Secapa pun, dirasanya berlangsung menarik. Ketika duduk di hadapan Kapolda, Kapolda malah menatap pasat-pasat tubuh satu per satu siswa yang lulus. “Badan kalian menunjukkan bahwa kalian memang pantas lulus Sekolah inspektur Polisi,” tutur pria berpostur tubuh tegap dan berat badan ideal dengan tinggi badan itu, menirukan perkataan Kapolda Jambi .
Sewaktu kabar tentang tes SIP yang bersih dan transparan itu disampaikannya kepada seorang rekannya yang dinas di Polda lain rekannya itu mengaku tidak percaya. “Ah, ndak mungkin murni,” jelasnya mengulang perkataan rekannya.
Diceritakan tentang tes Bintara yang diadakan Polda Jambi beberapa waktu lalu, yang juga berlangsung bersih dan transparan, dia langsung yakin. Tak ada lagi keraguan tentang itu. “Saya sangat salut Kapolda sekarang bisa seperti itu,” tandasnya.

About anangiskandar

sabar itu indah sabar itu tanpa batas sabar itu jimat menghadapi ujian dunia sabar itu mata hati dalam menjalani kehidupan
This entry was posted in Kepolisian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s