Polisi Ditantang Keringatan

Ini adalah Bab 3 dari buku saya yang berjudul Catatan Kapolda Jambi ; “POLISI ditantang kringetan”

beri penghargaanKalau diibaratkan lingkaran, maka sistem di Polda Jambi bisa dianggap lingkaran besar. Di dalam lingkaran besar itu, ada pula lingkaran-lingkaran kecil sebanyak 32 buah  – sesuai jumlah Satker di jajaran Polda Jambi – yang merupakan sub sistem. Nah, keseluruhan sistem inilah yang bergerak terus menerus menyokong kemajuan Polda Jambi secara general.

​Pertanyaannya, bagaimana seluruh sub sistem ini bisa bergerak sesuai sistem utama yang saya bentuk? Jawabannya ada pada program dan evaluasi. Setiap hari, harus ada program yang bergerak untuk menciptakan simpul prestasi. Dan tiap minggu, harus ada pula evaluasi sebagai kunci keberhasilan program yang sudah berjalan.

​Saya jelaskan satu-satu sistem yang kini sedang berjalan di Polda Jambi.

Pertama, sistem yang kita bangun adalah membangun keyakinan masyarakat. Karena, sistem ini tidak akan jalan kalau tidak ada masyarakat yang percaya. Supaya Polisi bisa sinergi dengan masyarakat, muncullah satu program bernama Focus Group Discussion (FGD).  FGD diharapkan bisa menjadi wadah bagi masyarakat untuk bersuara. Intinya, semua bebas bicara di dalam forum FGD. Supaya puas, FGD tahun ini ditargetkan sebanyak 1.848 kali dengan pelaksanaan tersebar di seluruh Satker kewilayahan Polda Jambi. Berbagai persoalan dibahas, berbagai solusi dicari bersama, dan berbagai keluh kesah selama ini yang mengganjal di dada dikeluarkan.

FGD memiliki beberapa tujuan. Antara lain, menemukan solusi, alternatif solusi dan melahirkan ide solusi. Semua hasil diskusi nantinya akan sangat bermanfaat bagi masyarakat. Minimal bisa menambah wawasan bagi peserta diskusi. Tujuan lain, yakni sebagai jembatan komunikasi antara masyarakat dengan pemerintah atau Polisi, dan masyarakat dengan masyarakat. Efek akhirnya, persoalan yang mengkristal di masyarakat bisa dipecahkan secara bersama-sama.

​Forum diskusi ini juga berfungsi ganda: proses pembelajaran, sosialisasi terhadap permasalahan yang muncul, dan sebagai proses adu argumentasi. Jika ini berjalan, dipastikan seluruh peserta diskusi yang hadir akan membawa banyak ilmu sepulang dari FGD, karena narasumber yang dihadirkan adalah orang-orang berkompeten di bidangnya masing-masing sesuai pokok diskusi. Polisi berperan sebagai fasilitator dengan narasumber ditunjuk langsung oleh panitia dari kepolisian. Inilah program atau sistem pertama, FGD.

Sistem kedua adalah latihan, baik berupa penegakan hukum, preventif maupun preentif. Seluruh kegiatan personil Polri di jajaran Polda Jambi, merupakan latihan panjang dalam waktu cukup lama. Hari ke hari, personil yang sedang bertugas dianggap sedang berlatih menyempurnakan kemampuannya demi penciptaan kamtibmas di masyarakat. Ini bisa dikatakan sebagai latihan outbound terpanjang.

cat 2​Outbond Polda Jambi agak berbeda karena aktivitasnya diberi muatan kepemimpinan dengan tujuan meningkatkan kemampuan, ketrampilan, tim building, keberhasilan pelaksanaan  tugas , dan membangun diri agar mampu mengaplikasikan nilai – nilai keteladanan.

Keempat sasaran ini digarap secara serius dalam beragam aktivitas outbond. Saya menganggap tugas Polisi di Jambi sebagai latihan. Saya sebagai tutor sedang seluruh jajaran adalah peserta latihan. Sebagai tutor, saya bertugas merencanakan/menempatkan kondisi tertentu untuk memunculkan kemampuan, pengetahuan dan keterampilan serta karakter anggota dalam hubungan dengan tata kerja dan masyarakat. ​Kemampuan peserta kadang tampil kedodoran, maka tugas saya yang harus mempercantik. Jika sudah cantik, tugas saya pula memaintance-nya supaya bertahan lama. Sistem kedua, latihan.

Masih ada sistem lagi yang kami bentuk. Sistem ketiga adalah Patroli Multi Sasaran (PMS). PMS sebetulnya kegiatan rutin yang sasarannya adalah kasus-kasus yang tidak ada korban atau pelapornya. Dengan adanya PMS, itu berarti ada dua tugas rutin jajaran Polda Jambi. Kegiatan rutin seperti penindakan kriminal murni dan PMS.

​Fungsi-fungsi personil tetap sama. Tim PMS menggelar operasi secara patroli dan ovensif, tim penyidik rutin menindaklanjuti hasil operasi PMS. Dua-duanya saling mendukung. Dua-duanya menargetkan mengurangi angka kriminalitas di Jambi. Dan, dua-duanya mempengaruhi kinerja secara keseluruhan Polda Jambi.

​Satu tim PMS rata-rata berisi 10 personil dengan gugus fungsi masing-masing. Setiap hari, tim ini bergerak dalam dua cara kerja, sweeping (patroli) dan ovensif (penindakan). Jam kerjanya full, dari pagi sampai malam. Supaya personil tak kelelahan, tiap tim bertugas selama setengah hari. Setengah hari lagi diisi oleh tim yang lain. Total tim yang bergerak di seluruh Satker dalam jajaran Polda Jambi, berjumlah dua.  Jadi, jika satu tim terdiri dari 10 personil, maka dalam satu hari 20 personil Polisi berjaga-jaga penuh untuk keamanan dan kenyamanan masyarakat Jambi.

​Tidak ada kata libur. Senin sampai Minggu, semua tim bergerak di wilayah kerja masing-masing. Bahkan ketika masyarakat sudah tidur karena kelelahan di malam hari, personil PMS masih berkeliaran di jalan-jalan, mencari dan menjaga stabilitas keamanan di Provinsi Jambi. Istirahat hanya berlaku ketika pergantian shift atau ketika pergantian personil tim. Pergantian personil tim ini biasanya dilakukan setiap satu minggu sekali. Sehingga, seluruh jajaran Satker bisa merasakan pernah terlibat dalam PMS.

​Target operasi terdiri dari beberapa tindak kriminal crime without victim. Seperti narkoba, miras, judi, ilegal logging, ilegal mining, pupuk ilegal, BBM ilegal, PETI, senjata tajam (sajam), prostitusi dan berbagai kejahatan jalanan lain. Makanya, sejak tiga bulan terakhir, dari Januari hingga Maret 2012, sudah ribuan kasus serupa itu yang ditindak aparat kepolisian dalam wilayah Polda Jambi.

​Detail cara kerja, tiap Satker membentuk tim PMS. Tim terdiri dari berbagai fungsi di Satker masing-masing, mulai dari krimum, krimsus, sampai inteligen dan ops. Setelah tim terbentuk, personil inteligen bergerak mengumpulkan informasi-informasi dari masyarakat. Selain itu, Mabes masing-masing Satker juga menampung informasi dari masyarakat. Setelah informasi didapat dan mendekati kebenaran, barulah tim PMS bergerak untuk sweeping. Biasanya, jika cara ini diterapkan, tim PMS yang sweeping akan membuahkan hasil.

​Begitu hasil didapat, tim PMS akan menyerahkan hasil penindakan kepada fungsi masing-masing di Satker. Misalnya penangkapan narkoba, maka BB dan pelaku diserahkan kepada Satuan Narkoba. Begitu juga dengan sajam, miras dan semacamnya, diserahkan kepada Satkrimum. Selanjutnya, fungsi-fungsi inilah yang menjalankan tugas penyidikan sampai akhirnya penahanan serta pemberkasan. Semua dilakukan dalam waktu bersamaan, cepat dan penuh nuansa kerja keras. Tak ada yang boleh bersantai-santai. Semua harus keringatan dan penuh tanggungjawab. ​Ini sistem ketiga, PMS.

Sistem keempat, penindakan. Sistem ini adalah tugas rutin seluruh personil Polri. Fungsi-fungsi Polisi bergerak sesuai koridornya, mulai dari proses intelijen, penyelidikan, penyidikan, sampai tindaklanjut ke jalur hukum atau pengadilan. Tiap kasus, diupayakan sampai pada titik akhir pemberhentian, yakni pengadilan atau meja hijau.

​Seluruh personil berusaha keras memperjuangkan kasus-kasus bisa tuntas, tak hanya sampai sebatas penyelidikan atau penyidikan. Rasanya belum maksimal kalau PMS berjalan, tugas rutin berhasil, tapi tidak sampai ke pengadilan. Sistem ini sangat mendukung sistem-sistem sebelumnya. Sangat penting. Inilah sistem keempat, penindakan.

Keempat sistem itu ditutup dengan sistem kunci dan sebagai roh dari seluruh sistem, yakni, analisa dan evaluasi (anev).

​Secara simultan, seluruh sistem digerakkan oleh evaluasi. Makanya anev menjadi sistem yang membuat setiap hari personil di seluruh Satker Polda Jambi keringatan.

Dalam anev yang dilaksanakan setiap hari Jumat, dinilai proses (manajerial), hasil (kinerja/fisikal) dan dampak (roh giat Polisi). Dalam anev, ada fungsi koreksi, dorongan atau motivasi, justifikasi, ren, or, lak dan wasdal. Ibarat main bola, anev adalah gelandangnya. Bisa mengoper bola ke mana saja, supaya bola tersebut bisa menjurus ke gawang atau target pencapaian.

Kekuatan anev adalah serius dan konsisten. Istilahnya, the power of consistency. Leadership adalah kuncinya. Di sinilah letak peran saya selaku Kapolda Jambi. Jika saya tidak konsisten melaksanakan anev, bisa-bisa seluruh sistem yang telah terbentuk dan berjalan tidak akan jelas arahnya.

Sebab, dengan adanya anev, seluruh pesonil bisa melihat arahan yang jelas mau ke mana mereka bergerak. Dengan begini, saya tidak akan takut bawahan saya kesasar, tidak pula takut mereka kehabisan ongkos saat di perjalanan, karena mereka kini telah terarah dengan jelas!

Dengan arah yang jelas, saya juga tidak khawatir kalau masing-masing Satker punya sistem masing-masing. Sebab, aligmentnya telah terbentuk. Apapun sistem yang dibuat atau berjalan di 32 Satker jajaran Polda Jambi, arahnya sudah pasti: kinerja, roh dan manajerial. Semua itu dalam upaya menuju Polisi yang bersih, transparan, akuntabel dan humanis (BETAH).

Evaluasi adalah kunci atau sistem utama dari seluruh sistem di Polda Jambi yang saya rancang. Kebanyakan orang, sering lupa tentang evaluasi ini. Kebanyakan mengandalkan sub sistem atau program-program, tapi mengabaikan evaluasi. Padahal, jalan atau tidaknya sistem, semua tergantung evaluasi yang dilakukan manajer atau pimpinan. Di dalam evaluasi inilah, setiap pimpinan bisa memberi perannya yang sangat penting sebagai penjaga sistem supaya berjalan maksimal dan sesuai arah yang diinginkan.

Jika hanya mengandalkan sub sistem atau program, maka hasil yang dicapai tidak akan maksimal dan berimbang. Dengan membiarkan program yang berjalan, akan timbul satuan-satuan yang menonjol, pada waktu bersamaan akan muncul pula satuan-satuan yang meredup. Masing-masing satuan berebut meraih prestasi, tapi kehilangan arah dalam hal pembinaan sumber daya manusia (SDM) di dalam satuannya. Ini yang memprihatinkan.

Menurut penilaian saya pribadi, tugas seorang pemimpin yang paling berharga adalah mewariskan SDM kepada bawahan. Prestasi memang perlu, tapi, jauh lebih perlu lagi penciptaan SDM di seluruh jajaran staf. Yang bodoh dipintarkan, yang lemah dikuatkan, yang belum pengalaman diberi pelatihan, sehingga seluruh personil benar-benar kuat sehingga membawa pengaruh sangat kuat bagi keseluruhan satuan. Makanya, dalam memimpin, saya memperhatikan yang lemah, bukan yang kuat. Dengan menguatkan yang lemah, otomatis dia akan melengkapi kekuatan seluruh tim.

Jadi, keseluruhan sistem, mulai dari latihan, FGD dan PMS, dikunci dengan sistem anev. Dalam anev ini pelaksanaan dan manajerial dikupas. Di sini pulalah saya sempat memberi feedback kepada personil soal latihan, FGD, PMS dan penindakan.

Sistem ini saya temukan dari literatur bisnis, bukan dari literatur Polisi. Juga dari pengalaman-pengalaman saya selama bertugas di kepolisian. Fungsi leadership inilah yang melekat dalam evaluasi. Sebab, leadership itu bukan konsep, tapi bagaimana menerapkan ilmu yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari. Ini pula saripati ajaran Begawan Kesowosidi, Hasto Broto.

Hasto Broto atau Hasta Brata adalah ajaran Begawan Kesowosidi kepada Arjuna dan dapat dipakai oleh siapapun yang ingin menjadi pemimpin. Pada intinya, kita diminta untuk belajar dan menerapkan delapan sifat alam semesta. Dan menemukan sendiri titik keseimbangan keberhasilan dalam praktek kehidupan sehari-hari. Apapun jenis kelamin kita, apapun profesi kita, siapapun diri kita dan bagaimanapun kondisi kita.

Pemimpin, pria atau wanita, pemimpin negara atau pemimpim partai, pemimpin perusahaan atau pemimpin keluarga diharapkan menemukan dan menjalankan sifat kedelapan unsur alam semesta yaitu :

1. Kismo. (Bumi)

Kismo artinya bumi, seorang pemimpin harus murah hati, bagaikan bumi/tanah, siapa orang yang mau mengolah dan menanaminya maka bumi/tanah memberikan hasil panennya. Siapa yang bersemangat menanam, dialah yang akan memanen hasilnya.

2. Maruto (Angin)

Maruto artinya angin, seorang pemimpin harus entengan, peduli,  harus tahu sampai jajaran yang paling bawah dan paling jauh (seperti angin berada di mana-mana). Siapa yang mudah menolong orang lain tanpa pamrih, dialah yang menerima pahalanya.

3. Samodro (Laut/Air)

Samudro artinya laut , seorang pemimpin harus legowo menampung apa saja. Sifat laut airnya bening dan rata jika tidak kena tekanan atau ombak, seorang pemimpin harus bening dan lembut tutur katanya serta adil. Siapa yang bijaksana dalam menjalankan tugas, ia yang akan mendapatkan hikmahnya.

4.Condro (Rembulan)

Condro artinya rembulan, seorang pemimpin harus mampu memberi penerang kepada yang gelap, memberi pintar kepada yang bodoh, memberi penyejuk bagi yang kegerahan. Siapa di antara kita yang memberikan arah/berdakwah untuk membimbing umat, dialah yang diberi tongkat.

5. Suryo (Matahari)

Suryo artinya matahari selalu menyinari laut, awan dan alam semesta sehingga tercipta keharmonisan alam. Seorang pemimpin harus dermawan, senang memberi, sering menugaskan anak buahnya untuk pekerjaan yang ia sendiri menyukai. Siapa yang disiplin dan konsisten, dialah yang menerima reward.

6. Angkoso (Angkasa/langit)

Angkoso/angkasa artinya langit selalu melindungi seluruh jagat seisinya, seorang pemimpin harus mampu melindungi bawahannya dengan tak kecuali/siapapun. Siapa yang memegang teguh keyakinan, dialah yang mudah sukses.

7. Dahono (Api)

Dahono artinya api, seorang pemimpin harus berani mengambil resiko, jika ada anak buah yang salah tetap harus dihukum walaupun masih saudaranya. Siapa yang tidak KKN, dialah yang selamat dan menemukan kebahagian.

8. Kartiko ( Bintang/ lintang)

Kartiko artinya lintang, seorang pemimpin harus sehat jasmani dan rohani karena akan menjadi panutan anak buahnya. Seperti sifat lintang menjadi pedoman/patokan. Seperti zaman nenek moyang kita, jika hendak berlayar, bertani dan sebagainya, terlebih dahulu melihat lintang. Siapa yang bisa menjadi teladan, dialah yang memimpin.

Pertanyaannya, adakah di antara kita yang bisa memahami Hasta Brata ini? Di jaman kapitalis seperti sekarang ini dan perbandingan pria dan wanita yang hampir sama, dimana uang sebagai komoditas utama dan kemewahan sebagai pakaian sehari hari, apakah di antara kita ada yang menjalani?

Saya percaya, ada di antara kita yang memahami dan menjalani Hasta Brata ajaran Begawan Kesowosidi. Pada hakekatnya alam ini dihuni oleh pemimpin dan pecundang. Sadar atau tidak kita sudah terploting sebagai pemimpin atau pecundang

Masalahnya kita masuk yang mana? Kalau masuk ke dalam kelompok pemimpin ya tinggal memantapkan, kalau masuk kelompok pecundang ya tinggal hijrah dengan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruknya. Kepemimpinan model Hasta Brata tentu tidak dibentuk dan dibangun tapi diinspirasi oleh pemimpin di atasnya. Dia muncul karena kebutuhan alam semesta.

Itu sebabnya, banyak di antara kita yang masih mengharapkan datangnya satria piningit yang akan menjadi pemimpin untuk mewujudkan negeri yang gemah ripah lohjinawi toto tentrem kerta raharja.

Makanya, dalam sistem yang saya rancang ini, saya mementingkan manusianya, dari pimpinan sampai operatornya. Jadi, seorang pimpinan yang sungguh-sungguh adalah pemimpin yang menanamkan SDM. Karena investasi SDM itulah yang menjadi beban seorang pemimpin.

Lalu ada pertanyaan, apakah dengan sistem yang keringatan ini personil terbebani, atau tersemangati? Jawaban saya sederhana. Hidup ini adalah beban, justru dengan adanya beban itulah yang harus kita tumbuhkan kreatifitas untuk mendapat hasil maksimal. Makanya, kita harus gagah membawa beban.

Dengan sistem ini, personil yang terjauh bisa terakomodir. Sistem ini menjadi rambu-rambu bagi seluruh Polisi yang ada di Jambi. Proses, hasil dan dampak, adalah arah jelas yang harus dilakukan dan dipahami bagi seluruh personil.

Lalu dalam penerapannya, bagaimana dengan keterbatasan personil? Mulai FGD, PMS sampai fungsi rutin Polisi, harus bergerak dengan personil yang sedikit? Jawabannya, tak ada rotan akar pun jadi. Jangan menunggu semuanya perfect, karena hidup di dunia tidak ada yang sempurna. Lakukan yang bisa dilakukan, tapi sesuai arah yang ingin kita capai. Itu saja.

Berikut adalah komentar dan pendapat-pendapat tentang sistem yang dibangun di tubuh Polda Jambi selama kepemimpinan saya.

Anev Jadi Kursi Panas

Polisi itu memang harus berkeringat dalam melaksanakan tugasnya, untuk mensikapi tuntutan masyarakat supaya terwujud Polisi pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat. “Polisi harus berkeringat dan bekerja secara serius sesuai dengan tupoksinya masing-masing. Kalau tidak berkeringat ya bukan Polisi. Masak Polisi kerjanya hanya duduk-duduk terus. Jangan-jangan nanti semboyan, sebagai pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat hanya jadi slogan saja,” ungkap Dir Pol Air Polda Jambi Kombes Pol Bambang.

​Begitu juga dengan adanya analisa dan evaluasi (anev) yang sudah berjalan setiap hari Jumat sore di ruang Siginjai Polda Jambi, sangat baik dan bagus untuk dilaksanakan. “Karena dalam anev tersebut semua di evaluasi. Berdasarkan anev itulah bisa memicu dan menunjang kinerja anggota dalam melaksanakan tugas dengan serius dan penuh keringat,” katanya.

Selain itu, menurutnya, anev sesuai dengan managemen operasi Polri, karena tidak boleh terlepas dari renorlagdal, sehingga dengan adanya anev tersebut, kekuarangan dalam giat selama satu minggu bisa dievaluasi untuk bahan evaluasi satu minggu berikutnya agar menjadi sempurna.

Bagi Bambang, anev yang dihadiri para Kasatker, Satker dan lainnya, termasuk ketua tim, bukan hanya berkeringat, tapi merupakan kursi panas. “Di situ (anev), semua hasil kinerja dalam satu minggu masing-masing fungsi Kasatker akan dipaparkan. Disinilah timbul kursi panas,” ujarnya.

Artinya bagi Satker operasi kalau dalam satu minggu tidak ada hasil, maka masing-masing Kasatker teresebut duduknya akan tidak nyaman, dan  serasa duduk di atas bara api yang mencekam. “Pasalnya hasil-hasil kerja tersebut di dengar seluruh peserta gelar dan disaksikan Kapolda langsung. Ibaratnya, seperti seorang terdakwa duduk di depan hakim. Apa bila mereka dapat hasil, saat mengikuti anev terasa sejuk duduknya, walau AC tidak dingin dan tidak malu. Coba kalau tidak ada hasil, kursi makin panas dan muka kita mau disimpan dimana, karena malu,” tandas Bambang.

Dia juga mengakui secara moral ada beban, karena dituntut bekerja serius dan mendapatkan hasil yang tentunya sesuai dengan ketentuan dan kewenangan Polri, serta berdasarkan Undang-Undang Kepolisian.

Bambang juga mengkritik para Satker dalam mendapatkan hasil terkesan tidak memperhatikan kualitas maupun kuantitas, hanya untuk mengejar laporan. Ia mencontohkan, di beberapa wilayah yang menangkap tuak. Padahal belum ada Perda atau Undang-Undangnya. “Meraka hanya untuk mengejar target hasil, dari pada mendapatkan malu. Terkadang ujung-ujungnya hanya pembinaan. Inilah kelemahannya,” tukasnya.

Karena itu, Bambang meminta kepada Kapolda Jambi Brigjen Pol Anang Iskandar, agar konsep anev itu harus ditindaklanjuti lagi. “Pastinya sangat bagus dan diteruskan, tentunya ada penyempurnaan dari setiap evalusai, dengan memperhatikan saran dan hasil mingguannya, agar ke depannya lebih baik, tepat sasaran dan kepercayaan masyarakat kepada Polisi makin meningkat,” tandasnya.

​Sudah Jadi Kebutuhan

Polisi keringatan bukanlah menjadi momok dan menjadikannya malas-malasan bekerja. Namun bagi Kompol Slamet Widodo, Kabag Ops Polresta Jambi merupakan suatu kebanggaan, karena Polisi  seharusnya berkeringatan.

Ini semua Kembali kepada amanat Undang-Undang No. : 2/2002 tentang Kepolisian, bahwa Polri sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat. “Setuju diterapkan oleh Kapolda. Karena sebelumnya, keringat Polisi belum sepenuhnya mengucur. Polisi masih landai-landai dalam melaksanakan rutinitasnya,” paparnya.

Dengan adanya program FGD dan PMS ini, yang semula Polisi bekerja secara rutinitas, dengan adanya program tersebut setiap personil Polri setiap harinya sudah merencanakan kerjanya dan mengerjakan rencananya. “Di mana pada tiap minggunya akan di anev di tingkat Polresta dan di Polda Jambi. Ini mau tidak mau setiap personil Polri harus bekerja sampai berkeringat agar mendapatkan hasil anev yang positif,” ungkapnya.

Diakui Slamet Widodo, Anev itu meski hanya duduk-duduk saja, tapi keringatan. Karena pada saat anev akan ditampilkan hasil kinerja kita selama satu minggu. “Malu apabila kita tidak ada hasil. Contoh bila tidak ada hasil, atau kalah dengan personil lain, tentunya kita akan ditertawakan dan diejek bahwa satu minggu kemarin kita tidak bekerja alias bobok, he..he..he,” tukasnya.

Dengan adanya enev ini, selanjutnya akan terpacu untuk lebih giat lagi dalam melaksanakan program PMS dan FGD dengan segala daya dan upaya, sehingga anev minggu depannya dapat membanggakan.

“Konsep anev adalah konsep managerial yang bagus apalagi dipimpin langsung oleh Kapolda. Maka akan memberikan dampak yang besar terhadap peningkatan kinerja bagi semua personil Polda Jambi dan jajarannya sampai kepada unsur pelaksana,” katanya.

Secara pribadi, Slamet menilai anev itu sangat banyak manfaatnya bila dikuti secara serius. “Di sana kita dapat banyak ilmu, terutama ilmu managerial yang dimiliki oleh seorang Kapolda yang bisa kita rasakan dan bisa diikuti,” ungkapnya.

Yang penting menurut Slamet, harus berasal dari niat yang ikhlas dan semangat anev tidak akan terbebani. “Saat ini, anev bukan menjadi kewajiban akan tetapi sudah menjadi kebutuhan saya,” pungkasnya.

Managemen Luar Biasa dan Modern

Seorang pemimpin, apapun yang dipimpinnya harus memiliki konsep atau managemen yang jelas. Begitulah pendapat dari Kombes Pol Nasri Wiharto, Dirlantas Polda Jambi menanggapi sosok leadership yang berhasil dan diikuti serta dicintai bawahannya.

Sosok ini menurutnya, terdapat di diri Kapolda Jambi Brigjen Pol. Anang Iskandar, yang memimpin Jambi dengan konsep sangat jelas dan berkeringat. “Selama ini Polisi di era terdahulu terkesan nganggur, yang baca koran ya baca koran. Yang kerja ya kerja. Tapi sejak dipimpin Pak Anang semua bekerja, semua berkeringat,” tuturnya.

Ia mencontohkan, program Patroli Multi Sasaran (PMS) dan Forum Group Discussion (FGD), semua fungsi di kepolsian dari Lalu Lintas, Sabhara, Reskrim, Provos hingga Intel ikut terlibat. “Semua bekerja, tidak ada lagi Polisi yang menganggur. Karena semua kegiatan sudah ada anggarannya. Dan semua kegiatan tersebut diekspos seluruh media lokal dan nasional serta diminta pertanggungjawabannya. Polisi keringatan itu konsep yang luar biasa dan bagus sekali,” paparnya.

Nasri juga mengakui konsep dari pimpinannya adalah menagemen modern dan pertama kali diterapkan di Polda Jambi. “Saya belum  pernah mendengar seorang Kapolda memiliki konsep seperti ini. Suatu saat jika saya dipercaya menjadi pemimpin akan menerapkan konsep Kapolda ini,” tuturnya.

Kinerja pun ditujukkan. Saat ini, di Ditlantas Polda Jambi, Nasri membuat semua anggotanya tidak ada yang menganggur, semua harus keringatan. Di Satker yang dipimpimnya, semua ada wartawannya atau humasnya. Ini bertujuan agar semua kegiatan mereka bisa dihimpun dan bisa diekspos ke seluruh media. “Yang penting ada photo dan uraian singkat dari kegiatan tersebut,” paparnya.

Untuk mempermudah media mengaksesnya, Nasri sudah membuat website khusus Ditlantas Polda Jambi, yakni ditlantaspoldajambi.net. “Hasil kerja wartawannya itulah yang dikirim ke website Ditlantas dan Humas Polda Jambi, yang nantinya bisa dikirim ke media online yang ada di Jambi,” kata Nasri.

Semua tugas yang diperintahkan pimpinan tidak membuatnya terbebani dan merasa susah. “Walau Polisi tidak disebut keringatan, namun inilah tugas sebenarnya Polisi. Konsep pemberdayaan fungsi humas dalam mendukung kegaiatan operasional dan berkawan dengan media sangatlah bagus,” ujarnya.

Di mana pun instansi, menurutnya strategi humas dan komunikasi sangat ampuh. “Senjata yang ampuh bukanlah pistol, tapi komunikasi. Kalau komunikasinya bagus, baik atasan, staf, masyarakat, tetangga, keluarga, apalagi kepada Tuhannya, niscaya hasilnya akan bagus pula.”

Begitu juga dengan giat mingguan analisa dan evaluasi (anev) yang dilaksanakan setiap hari Jumat sore dan dipimpin langsung Kapolda. Baginya, sangat besar manfaatnya. “Yang semula santai jadi rajin. Apalagi yang bekerja makin rajin. Kalau bisa ke depan anev tidak saja dilaksanakan tiap minggu, tetapi ada anev harian, bulanan, triwulan dan anev tahunan, agar arah tujuan bisa cepat terlaksana dengan baik,” kata Nasri.

Anev ini sangatlah diperlukan dalam bekerja. Pasalnya, terdapat konsep pembelajaran yang luar bisa, yakni bekerja sambil belajar. “Kalau niatnya belajar dapat ilmu. Jadi dinikmati saja, sehingga tidak ada beban, tapi kalau ada anggota yang males pergi anev, pasti merasa gak enak badan, capek. Padahal anev ini membuat semua anggota menjadi giat dan pintar. Selayaknya bisa dipertahankan,” lanjut Nasri.

Baginya, Pak Anang sosok pemimpin yang bagus, tidak otoriter dan partisipatif, mau mendengar masukan bawahannya. “Pola kepemimpinan seperti ini harus dipertahankan dan tidak berubah hingga bisa mencapai titik puncak pimpinan di Polri,” harap Nasri.

Meski Berkeringat Harus Ikhlas

Pada intinya, sebagai seorang anggota Polisi di Republik Indonesia ini, harus bekerja semaksimal mungkin dengan apa yang dipercayakan oleh pimpinan. “Modal kerja saya hanya ikhlas mensyukuri apa yang ada. Jadi tidak ada beban,” kata AKP Witry Hariyono, Kasat Resnarkoba Polresta Jambi

Diakuinya bekerja sebagai Polisi membuatnya selalu berkeringat. “Ya begitulah, karena kita bekerja digaji dengan uang rakyat. Jadi tidak ada alasan untuk kita bermalas-malasan. Menunggu perintah atasan untuk berbuat. Tapi yang kita butuhkan aksen, kreatifitas agar apa yang dibebankan di pundak kita bisa terlaksana. Saya tidak ingin bekerja hanya ABS (asal bapak senang) saja. Biarlah penuh peluh dan keringat, yang penting kalau ada hasil akan hilang keringat capeknya,” tuturnya.

Sebagi buktinya, selama menjabat Kasat Resnarkoba Polresta Jambi, dari bulan Oktober 2011 hingga April 2012, sudah 68 kasus narkoba digasaknya dengan jumlah tersangka 78 orang. “Apa tidak keringatan kita. Bahkan papan daftar jumlah tahanan sampai over dan harus ditambahi dengan kertas polio,” jelasnya sembari menunjukan papan nama tahanan di depan mejanya.

Baginya, apa yang diterapkan atau dikonsep Kapolda Jambi Brigjen Pol Anang Iskandar, melalui PMS dan FGD sangat luar biasa, karena bisa menekan angka kejahatan di wilayah hukum Provinsi Jambi.

Hanya saja, Witry mengusulkan bila melihat kasus narkoba yang ditanganinya, ke depan agar anggaran narkoba bisa ditambah lagi. “Bayangkan dalam tahun 2012, jajarannya diberi anggaran hanya untuk lifik 12 kasus dan 14 kasus sidiknya. Coba lihat, periode Januari-April 2012 sudah 36 kasus ditanghani. Kan sudah over. Gimana 8 bulan ke depannya,” katanya.

Pada prinsipnya, bagi Witry, bekerja tidak dengan jumlah anggaran yang ada, melainkan bagaimana bekerja dengan semangat dan berdedikasi tinggi untuk mengungkap kasus yang ada, terutama kasus narkoba di Polresta Jambi.

Begitu juga di anev, banyak pelajaran yang bisa diambilnya. “Selain mendapatkan informasi, juga mendapatkan motivasi, agar bekerja lebih giat lagi dan menjadi bahan perbandingan untuk pengungkapan kasus selanjutnya,” tukas Witry.

Beban Berat dan Gudang Informasi

Program Anev tiap minggunya yang dilakukan Kapolda Jambi Brigjen Pol Anang Iskandar sangat bagus, terutama untuk bagian intelkam. “Program yang membuat seluruh personil Polisi berkeringat, karena harus mengumpulkan data full paket setiap harinya mulai dari hari Senin hingga Kamis. Ini diperlukan sekali untuk mengevaluasi data dari seluruh wilayah,” tukas Kombes Pol Bagus Kurniawan, Dir Intelkam Polda Jambi.

Menurutnya, semua data intel dari masing-masing Kasat Intel di setiap Polres, prosesnya sudah harus terkumpul dan disandingkan dari data statis yang ada dilaporan harian piket intel serta data situasi dinamis setiap hari. Informasi ini selanjutnya dijadikan data anev untuk diinformasikan ke Kapolda agar menjadi atensinya saat melakukan anev dengan seluruh jajarannya.

Hanya saja, yang menjadi perhatian Bagus, ia menyarankan agar setiap kali anev masing-masing Kasatker dalam memberikan materi laporan anev tidak terlalu panjang. “Yang penting masing-masing fungsi memberikan laporan secara singkat dan padat agar menghemat waktu, dan tidak jenuh, karena saat itu merupakan jam ngantuk,” katanya.

Baginya, anev merupakan gudang informasi dari masing-msing kesatuan unit Polda agar bisa mengukur kemampuan setiap personil dan tempat melihat keberhasilan kesatuannya. “Mereka akan bangga jika keberhasilannya ditampilkan. Namun, bagi yang tidak berhasil jangan down, karena akan mendapatkan evaluasi dan solusi serta motivasi dari Kapolda langsung,” tuturnya.

Di bagian intelkam, semua anggota sudah paham betul dengan program dari Kapolda, karena masuk sebagai anggota PMS. Selama ini, menurutnya, personil masih terlena dengan kamtibmas yang biasa, sehingga masih perlu waktu untuk melaksanakannya. “Untuk tingkat anggota masih belum maksimal, tapi ditingkat perwira sudah paham.”

Dengan adanya anev ini, membuat dirinya sedikit terbebani terutama masalah tanggungjawab. “Beban pasti ada, yakni beban dalam tugas. Ada baiknya, semua fungsi ikut terlibat dalam menangani sebuah kasus. Misal kasus demonstrasi, karena selama ini intel yang melakukan full data dan melaksanakan pendekatan serta bernegosiasi. Seharusnya, fungsi Samapta, Binmas, Brimob bisa dilibatkan untuk bernegosiasi,” ungkapnya.

Bagus tidak ingin program Kapolda hambar dan tidak dijalani sungguh-sungguh oleh anggota Polda. Pasalnya, harus ada penerus dan kesiapan kesatuan dalam menciptakan kondisi. “Inilah proses keberhasilan. Pejabat Polda harus paham dan tidak sungkan berdialog dengan pimpinan, serta tidak takut jabatannya dicopot,” katanya.

Ke depan, harap Bagus, setiap fungsi harus lebih siap dan bekerja dengan tanggungjawab secara maksimal agar program dari Kapolda bisa berjalan sukses. “Selama empat bulan ini masih belum maksimal masih perlu proses. Tapi tingkat keberhasilan sudah mencapai 40 persen itu sudah baik.”

Ada Motivasi di Anev

Polisi yang baik dan memahami kinerjanya memang harus berkeringat. Begitu penjelasan AKBP Robert A Sormin, Kapolres Batanghari ketika memberikan keterangan di sela-sela video konpers (vikon) dengan Kapolda Jambi Brigjen Pol Anang Iskandar di ruang Sepri Kapolda.

Menurutnya, Polisi sejak ia dilantik sudah harus berkeringat, karena Polisi berbeda dengan institusi lainnya yang harus bekerja hingga 24 jam. “Polisi harus melayani, mengayomi dan melindungi masyarakat. Makanya, kalau tidak berkeringat ya bukan Polisi,” katanya.

Sampai sini

Namun, ia tidak setuju jika giat analisa dan evaluasi (anev) pada tiap hari Jumat siang membuat Polisi berkeringat. Baginya, anev itu tempat kawah Candradimukanya anggota Polisi. Pasalnya, di anev itu banyak terdapat pengetahuan, pembelajaran yang diberikan Kapolda langsung. Selain itu, Sormin juga menilai anev juga tempat penilaian kinerja bagi masing-masing Kasatker di Polda.

“Dengan hati yang tulus dan menyadari tugas Polisi tentu tidak membuat berkeringat. Karena anev bertujuan untuk menganalisa dan mengantisipasi suatu kasus dari mulai awal kejadian hingga tidak menimbulkan gangguan yang lebih besar lagi. Bagi yang malas–malasan anev itu membuatnya tersiksa dan enggan hadir. Tapi yang ikhlas, justru akan membuatnya bergairah dan memicu semangat kerja, karena ada motivasi kerja dari Kapolda langsung,” ungkapnya.

Sejak mengikuti kegiatan anev mingguan ini, Sormin menilai anev sangat bermanfaat dan diperlukan sekali oleh anggota Polisi, agar semua kerawanan gangguan yang terdapat di wilayah hukum masing-masing Polres bisa dideteksi sejak dini.

Dengan adanya program anev ini, ia telah mengabadikannya di kesatuan Polres Batanghari. “Saya sudah menerapkannya pola-pola yang ada di anev, sehingga menjadi acuan di dalam setiap mengambil kebijakan dan keputusan di Polres,” tuturnya.

Dalam ingatan Sormin, yang paling senang mengikuti kegiatan anev, yakni banyaknya motivasi-motivasi dari Kapolda soal kinerja anggotanya, sehingga tidak ada cela untuk menolak setiap apa yang menjadi perintah atasannya. “Apalagi setiap kali ada anggota yang berhasil dalam bertugas, Kapolda selalu memberi reawerd (penghargaan). Itu semua menjadi semangat dan pemicu kerja personil.”

“Makanya, lelah, capek tidak terasa setelah Kapolda memberi motivasi. Masalahnya, semua mekanisme sudah benar, dari intel, bagian operasional hingga ke bagian humas sudah terangkum semua, sehingga menjadi singkron dan sempurna,” paparnya.

Secara jujur, tidak ada beban dalam mengikuti giat anev. Bahkan tipe kepemimpinan dari Kapolda secara tidak langsung terirama di setiap langkah kerjanya. “Ia (Kapolda) adalah sosok panutan dan menjadi contoh bagi setiap anggota Polda. Ia pemimpin yang selain tegas dalam mengambil keputusan, ia juga tidak kaku dan humanis, suka bercanda serta berjiwa kebapakan. Tapi tetap serius,” kata Sormin.

Saat ini, menurutnya zaman sudah berubah. Untuk mengubahnya diperlukan waktu yang tidak singkat. “Mereka (anggota Polisi) masih belum terbiasa dengan pola kinerja dari Kapolda. “Jadi kebiasaan lama masih terbawa. Solusinya, semua anggota harus selalu diberi motivasi dan pemahaman yang benar agar berubah sikap dan wawasannya, sehingga menjadi Polisi yang benar di mata pimpinan dan masyarakat,” tuturnya.

Intensitas Pengawasan Internal Meningkat

​Inspektor Pengawasan Daerah (Irwasda) Polda Jambi Kombes Pol Luthfi Lubihanto, mengakui bahwa sistem yang dibentuk Kapolda Jambi Brigjend Pol Anang Iskandar bikin seluruh personil keringatan. Bahkan, bagi Itwasda, sejak program-program Kapolda berjalan, mulai dari FGD sampai PMS, intensitas pengawasan jadi meningkat.

​Intensitas pengawasan meningkat karena Itwasda harus menyesuaikan perencanaan dan anggaran sesuai banyaknya kegiatan. “Sekarang saja FGD 1.800-an kali, belum lagi giat PMS di 32 Satker, semua ini harus diawasi,” ungkap Irwasda Polda Jambi Kombes Pol Luthfi Lubihanto.

​Setiap minggu seluruh kegiatan dievaluasi dalam anev. Setiap bulan dilakukan evaluasi menyeluruh. Itwasda, fokus mengevaluasi anggaran PMS dan FGD. Hasil evaluasi terakhir, masih ada Satker yang belum pas menempatkan anggaran FGD khususnya honor bagi moderator. Selama ini, dalam FGD, honor bagi moderator belum tercantum dalam program FGD. Sehingga, pada satu waktu, honor moderator yang harus dikeluarkan itu diambil dari pos anggaran yang lain. Sehingga, terjadi kesalahan di bidang penganggaran.

​Hasil evaluasi, perlu penambahan anggaran untuk honor moderator. “Sudah dimasukkan anggarannya, jadi tidak salah lagi,” jelasnya.

​Ditanya seperti apa penilaiannya terhadap seluruh sistem yang dibangun Kapolda Jambi Brigjend Pol Anang Iskandar saat ini? Luthfi mengaku seluruh sistem membuat Polisi keringatan. Dalam artian, semua kegiatan membuat Polisi benar-benar bekerja secara maksimal. Tidak ada kata berpangku tangan lagi, semua harus bergerak cepat dan mencapai target-target yang sudah diterapkan.

​Menurutnya, Kapolda saat ini sedang fokus membangun sisi kemanusian atau SDM di tubuh jajaran Polda Jambi. Aspek-aspek manajemen seperti infrastruktur, anggaran, organisasi dan manusia, tampaknya lebih ditekankan kepada aspek manusianya.

Arah kepemimpinan Kapolda dinilainya sesuai dengan harapan Polri, yakni, perubahan perilaku personil Polri dalam berorganisasi. Dengan perilaku yang baik, diyakini seluruh personil bisa membawa perubahan di institusi Polri ke arah lebih baik. Makanya, kuncinya, harus merubah manusianya terlebih dahulu.

Untuk merubah perilaku, tidak cukup hanya mengubah maindset belaka, harus ada praktek-praktek lapangan atau perbuatan, guna melihat tugas Polisi yang efektif dan siap menjalankan perubahan. “Pak Kapolda fokus merubah manusianya, SDM personil, bukan hanya merubah maindset. Kalau merubah maindset, cukup dengan seminar-seminar atau diskusi-diskusi,” tambahnya.

​Program PMS dan FGD dinilainya merupakan pekerjaan Polisi yang menyentuh hajat hidup orang banyak. Faktual dan kinerjanya gampang diukur. Cara mengukur yang dilakukan Kapolda adalah sistem anev.

​Sistem anev, dinilainya sangat mendukung seluruh rencana mengubah perilaku personil Polri. Apalagi seluruh proses dinilai, hasil giat dan efek bagi masyarakat, selalu dibahas Kapolda tiap kali anev berlangsung.

​Anev dianggap sangat efektif dalam mengejar perubahan bagi personil Polri. Dalam evaluasi ini, Kapolda bukan semata mengukur operasional, tapi endingnya berupa perubahan personal dan organisasi menjadi perhatian khusus. Sebagai contoh, personil sudah atau belum mengambil keputusan dengan pikiran logis dan hati nurani. Juga, berani atau tidak personil dalam bertindak ketika menjumpai resiko-resiko berbahaya. “Pada tataran perilaku inilah kita mengevaluasi personil,” jelasnya.

​Lalu, di antara seluruh sistem ini, mana yang paling membuat keringatan? Ditanya soal ini, Irwasda tak bisa memutuskan yang mana, apakah FGD, PMS atau anev. Menurutnya, semua sistem yang dibuat Kapolda membuat personil keringatan. Semua saling terkait dan terhubung.

​“Jadi semuanya bikin keringatan. Tidak anev saja, PMS dan FGD juga,” tandasnya.

Sukamto: Belum Masuk Kategori Sistem Baku

​Pengamat pemerintahan yang juga Akademisi Hukum Administrasi Negara di Universitas Jambi, Prof Sukamto Sutoto, sempat memberi penilaiannya tentang sistem yang dibangun Kapolda Jambi Brigjend Pol Anang Iskandar. Setelah membaca gagasan kebijakan Kapolda, mulai dari sistem PMS, FGD, Penindakan, Latihan sampai Analisa dan Evaluasi (Anev), Sukamto menilai ini semua belum bisa dikatakan sebagai sebuah sistem.

​Dia lebih senang menyebut ini sebagai kebijakan pimpinan. Dalam hukum pemerintahan, katanya, yang dikategorikan sistem adalah segala sesuatu pengaturan yang memuat perencanaan, pelaksanaan dan pengevaluasian. Yang terpenting, penegasan dalam bentuk peraturan.

​“Kalau ini (sistem yang dibangun Kapolda), bisa dibilang masih berupa himbauan dan kebijakan internal pimpinan. Keputusan tegasnya belum ada,” ungkap Sukamto.

​Dia mempertanyakan apakah seluruh kegiatan yang dirancang Kapolda itu sudah dimasukkan dalam aturan semacam surat keputusan atau peraturan Kapolda atau belum? “Di sini (kepolisian), mungkin agak beda dengan sistem di pemerintahan,” jabarnya.

​Kalau di pemerintahan, segala sesuatu kebijakan kepala daerah, sudah termaktub di dalam Peraturan Daerah (Perda), peraturan kepala daerah (Pergub/Perbup/Perwako), atau surat keputusan yang sudah dilegalkan dalam bentuk tertulis. Nah, pada sistem yang dibangun Kapolda Jambi Anang Iskandar ini, katanya, komponen legalitas ini yang belum ada. Makanya dia menilai program-program yang dibangun ini belum bisa dimasukkan ke dalam sistem.​

​“Di kepolisian, mungkin kebijakan bisa berjalan tanpa peraturan resmi. Pengaruh komando masih besar mempengaruhi sistem hukum internal di kepolisian,” jelasnya.

​Atas itu, dia mengaku belum bisa memberi penilaian mendalam soal sistem yang dibangun di jajaran Polda Jambi saat ini. “Mungkin yang lebih banyak tahu itu penulis-penulis atau pengamat-pengamat yang sering melakukan riset di kepolisian. Kalau di administrasi pemerintahan sistemnya baku, jadi menilainya lebih mudah,” jabarnya.

​Ketika dijelaskan bahwa sistem yang dibangun Kapolda Jambi Brigjend Pol Anang Iskandar sudah memuat perencanaan, pelaksanaan dan pengaturan, Sukamto masih kukuh menyatakan bahwa keseluruhan kebijakan yang dijelaskan tersebut belum bisa dikategorikan sebagai sebuah sistem. Dia masih menyebut itu sebatas kebijakan atau instruksi komandan.

​“Sekadar saran, mungkin bisa membaca buku-buku tentang hukum administrasi kepolisian. Masalah ini pernah juga saya bahas sewaktu ada acara tentang hukum kepolisian di Palembang,” jabarnya.

​Diceritakannya, dalam acara itu, dia mencermati adanya perbedaan besar antara sistem administrasi pemerintahan umum dengan sistem administrasi di kepolisian. Meskipun, kepolisian masih termasuk salah satu institusi pemerintahan.

​Karena Polri masih institusi pemerintah, selayaknya acuannya tetap pada sistem pemerintahan umum. Makanya, tiap kebijakan dan program, supaya bisa disebut sebuah sistem baku, harus dibuatkan legalitas atau peraturan resminya.

​Terlepas dari itu, Sukamto menilai seluruh program yang dirancang Kapolda Jambi Brigjend Pol Anang Iskandar sangat positif. Semua mengarah kepada pemolisian masyarakat. Seperti PMS, FGD, ini program-program yang baik.

​“Misalnya FGD, harusnya bisa dirancang secara pasti apa temanya, audiensnya, terus hasil akhirnya apa. Jangan sampai FGD tidak ada manfaatnya bagi masyarakat. Kegiatan FGD sebanyak 1.800 setahun ini, diharapkan tidak hanya mengejar kuantitas belaka,” tandasnya.

About anangiskandar

sabar itu indah sabar itu tanpa batas sabar itu jimat menghadapi ujian dunia sabar itu mata hati dalam menjalani kehidupan
This entry was posted in Hukum, Inspirasi, Kepolisian, Leadership. Bookmark the permalink.

2 Responses to Polisi Ditantang Keringatan

  1. Riza Efriansyah says:

    FGD is a part of communication tunnel. Justru ini yg hrs dibangun di Polri dimana saat ini masyarakat luas enggan dan sulit menyampai input kepada lembaga Polri krn akan menjadi “victim” sebagaimana sering muncul pameo “lapor kehilangan ayam malah sapi ikut hilang. Salut buat pak Anang yg membuat FGD di lingkungan Polda Jambi dan Polri pasti dicintai rakyatnya jika FGD benar-benar menjadi Corporate Culture. Selamat berjuang pak Anang…!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s