Breakhtrough PMS

Ini adalah Bab 4 dari buku saya yang berjudul Catatan Kapolda Jambi ; “POLISI ditantang kringetan”

Berawal dari Keresahan Masyarakat

20100121070119Yang dimaksud dengan Patroli Multi Sasaran (PMS) adalah operasi rutin yang dikenal di lingkungan kepolisian, plus diberi roh proaktif dengan sasaran kejahatan-kejahatan tanpa korban (crime without victim). Giat ini dikenal juga dengan operasi sapu jagat, apa saja tindakan kriminal, akan ditindak oleh Polisi. Patroli Multi Sasaran (PMS) ini adalah terobosan yang saya buat di beberapa tempat setiap saya bertugas. Idenya berasal dari masalah-masalah yang kerap dialami masyarakat, tapi tidak dilaporkan ke Polisi. Keresahan masyarakat ini membuat saya harus bertindak cepat. Harus ada terobosan baru, harus ada giat lain selain operasi rutin yang dilakoni Polisi sehari-hari, ini karena perasaan saya selama bertugas di kepoliasian mengatakan operasi rutin saja tidak dapat dijadikan simpul prestasi polisi . ​Beruntung, saya mendapat pencerahan dari literatur yang mengupas keberhasilan salah satu perusahaan kosmetik – saya lupa persisnya nama perusahaan itu, kalau tidak salah Merry Cosmetic. Di buku itu dibeberkan bagaimana perusahaan tersebut mencapai kesuksesan setelah memperhatikan 3 hal: proses, hasil dan dampak. Ada pula penekanan pada faktor the power of consistency (kekuatan konsistensi).

​Ditambah pengalaman selama bertugas di kepolisian, membuat ide Patroli Multi Sasaran lahir. Inilah agenda rutin Polisi untuk menangani persoalan-persoalan di masyarakat yang cenderung kurang diperhatikan selama ini. Misalnya, Judi, Narkoba, Miras, Minyak Subsidi, Prostitusi, Pupuk Subsidi, penadahan dan kepemilikan senpi/sajam ilegal dan penyakit masarakat (pekat) lainnya.
​Konsep giat mengatasi crime without victim (kejahatan tanpa korban) ini, mulai saya terapkan ketika bertugas di Polsek Taman Sari Jakarta Barat sebagai Kapolsek pada tahun 1994. Waktu itu, saya memakai nama Operasi Kilat Jaya. Tahun 1999, ketika menjabat sebagai Kapolres Blitar (1999), saya menggunakan nama Rayonisasi. Nama ini melekat pula ketika saya menjabat Kapolres Kediri (2000). Penamaan Kilat Jaya, kembali saya pakai ketika menjabat Kapolres Jakarta Timur (2005). Nah, multi sasaran, baru dipakai sewaktu menjabat Kapolwiltabes Surabaya (2006), begitu pula ketika dipercaya menjabat Kapolda Jambi (2011), multi sasaran kembali saya gunakan.
​Awal pelaksanaan giat ini memang susah, bercucuran keringat, bermandi keluh kesah personil, tapi, setelah lama-lama dan konsep disempurnakan, sistem Patroli Multi Sasaran sudah bisa berjalan dengan baik. Sambutan masyarakat di tiap daerah tempat saya bertugas, rata-rata bagus. Mereka merespon baik kegiatan ini.
​Di Jambi, multi sasaran telah disempurnakan. Di sini saya melibatkan seluruh jajaran Polda, Polres dan Polsek dalam wilayah hukum Polda Jambi. Ada 10 Polres, masing-masing menurunkan 2 tim patroli setiap hari. Polsek ada 97 , masing-masing 1 tim. Total polisi yang berkeliaran di jalan dalam upaya memberantas segala macam penyakit masyarakat (Pekat), dalam sehari bisa mencapai ratusan orang! Hasil giat juga banyak, hampir di tiap Polsek ada saja penindakan terhadap pelaku Pekat. Karena selama multi sasaran ini, Polisi didorong melaksanakan patroli dan penangkapan terhadap segala macam sasaran .
​Tiap personil yang bertugas diberi uang saku bervariasi kisaran Rp 10.000 per hari. Dana ini dicairkan bagian ops setiap satu atau dua minggu sekali. Rasanya, dana ini sudah cukup untuk membuat operasi besar ini berjalan. Apalagi ditambah semangat jajaran Polisi yang kuat, menambah kuat giat kemasyarakat ini.
​Setiap minggu, giat PMS dievaluasi. Evaluasi dilakukan di Mapolda Jambi tiap hari Jumat usai Sholat. Pimpinan Polda, Polres dan Polsek dihadirkan, termasuk gugus kerja di masing-masing satuan ikut dilibatkan. Paparan dilakukan, penilaian dilaksanakan.
​Nah, di sinilah terminal akhir segala giat yang dilaksanakan jajaran saya. Dengan analisa dan evaluasi, saya bisa melihat langsung apa-apa saja yang mereka kerjakan dalam seminggu. Ketika Karo Ops memaparkan, begitu mencermati ada yang mengganjal, saya akan potong lalu memburu dengan pertanyaan-pertanyaan detail proses pelaksanaannya.
​Seperti saya ceritakan di atas, ada tiga penilaian unstructure yang saya terapkan pada anev. Proses kegiatan, hasil kegiatan dan dampak kepada masyarakat dan personil Polisi. Ya, ketiga penilaian ini tidak ada patokan baku, hanya bisa didapat dari pengalaman-pengalaman selama menjalani karir Polisi yang telah saya tekuni. Kuncinya pada praktek.
​Pada anev, saya bisa pula tahu bahwa Polisi itu berbohong atau tidak. Pernah satu kali ada satuan yang mengaku menangkap pemilik senjata tajam, setelah saya kejar pertanyaan, lalu mengkroscek kepada tim yang menangkap, saya langsung tahu bahwa dia berbohong. Ternyata yang diamankan itu senjata tajam jenis cutter (pisau kecil pemotong kertas). Begitu tahu, saya tak bisa menahan tawa. Sajam yang dimaksud ternyata cuma cutter.
​Balik ke penilaian. Ada tiga, proses, hasil dan dampak. Ketiganya saling terkait. Jika proses baik, tapi hasil jelek, berarti tugas belum terlaksana dengan baik. Jika hasil baik, tapi proses jelek, begitu juga, belum berjalan baik. Lebih parah lagi jika dampaknya buruk, walau proses dan hasil baik, itu berarti kerja Polisi masih sangat buruk.
​Ya, dampak kepada masyarakat usai Polisi melaksanakan tugas, adalah yang paling penting saya tekankan kepada jajaran kami. Saya berusaha menegaskan, apapun yang dilakukan, harus berdampak positif kepada masyarakat. Hal-hal kecil seperti Polisi terlihat arogan saat bertugas, akan menjadi catatan tersendiri bagi saya. Makanya, tiap anev, saya berusaha untuk selalu memimpin sendiri, ini menjadi bentuk konsistensi saya sebagai pencetus terobosan. Saya tak pernah absen sekalipun. Pada bagian di bawah ini akan saya jelaskan alasannya.
​Selain fokus pada PMS, operasi rutin juga diperhatikan. Operasi rutin Polisi semisal curas, curat, curanmor, penganiayaan, penipuan dan berbagai kejahatan lain yang ada pelapor/korban dan terlapor/pelaku. Skemanya, Polda mengurusi pembinaan sumberdaya manusia secara humanis, sedang Polres dan Polsek lebih menekankan pencapaian success story (keberhasilan pelaksanaan tugas ) yang berpatok pada teknik dan taktik tugas dilapangan.

The Power Of Consistency (Kekuatan konsistensi)
bedah anggaran
Ini menjadi roh pelaksanaan Patroli Multi Sasaran. Saya harus kukuh, tak tergoyahkan dan tak tergoda dengan apapun. Bahkan, saya harus bisa puasa dari hal-hal yang buruk dan “menggoda”, agar sistem yang dibentuk bisa berjalan maksimal.
​Bahkan, saya berusaha hadir tiap kali anev dilakukan. Tak pernah absen. Sewaktu konsep multi sasaran dimulai dibuat konsensus di jajaran pimpinan Polda, Polres dan Polsek . Bunyinya, jika ada kegiatan keluarga, siapapun harus bersedia memindahkan jadwalnya di luar hari Jumat. Kecuali ada tugas-tugas kepolisian, baru boleh tidak hadir pada hari Jumat beragenda anev.
​Ketika awal pelaksanaan, saya mendengar banyak keluhan dari berbagai lini pelaksanaan tugas . Ya, saya langsung paham dan merasa wajar. Toh, apapun kerjaan, awal-awalnya pasti sulit. Tapi lama-lama, setelah terbiasa, akan lebih ringan, bahkan menjadi kebutuhan. Terlebih ketika lelah, tahu-tahu dapat hasil, biasanya personil akan mendapat semangat baru. Keberhasilan tugas adalah kebahagiaan tersendiri bagi siapapun termasuk Polisi.
​Setelah berjalan beberapa bulan, saya melihat semangat kami terus terpacu. Personil dari berbagai jajaran tampak tak mau berhenti bertindak, bergiat dan berprestasi. Mereka telah terpicu, terpacu dan terbiasa. Saya yakin, bulan ke delapan dan selanjutnya, sistem multi sasaran ini akan berjalan sendiri seiring berjalannya kebiasaan.
​Soal konsistensi, ini menjadi keharusan untuk diterapkan. Setelah menetapkan diri agar selalu hadir pada anev, saya kembali menetapkan diri agar tak tergoda pada apapun dan dalam bentuk apapun.
​Soal “godaan”, saya pikir semua bisa memaklumi. Mulai dari judi, minyak, prostitusi, dan beberapa macam pekat lainnya, selalu membawa “godaan” sangat besar bagi anggota Polisi dalam pangkat apapun. Atas dasar itu, saya bersikukuh untuk tidak “tergoda”. Ya, tidak akan tergoda meski resikonya sangat besar yang akan saya dan kami tanggung di belakang hari. Ini demi semangat multi sasaran , ini demi berjalannya sistem, ini demi menciptakan citra Polri yang baik di mata masyarakat. Dan ini, semestinya didukung oleh siapapun dan
institusi manapun.
​Disini saya mengisi dengan praktek praktek pemolisian yang baik . Filosophi manajemen leadership, penekanan pimpinan polri tentang pelayanan prima , anti KKN dan anti kekerasan peran polisi sebagai konsultan dalam pemecahan masalah , penjamin kwalitas kinerja , berusaha saya terapkan di Polda Jambi. Literatur-literatur filsafat kepemimpinan, teori-teori manajemen, motivasi-motivasi kepemimpinan, sangat berperan besar dalam pembentukan sistem Pemolisian baik di Polda Jambi. Dan saya berharap Polri bisa dinilai baik di mata masyarakat.  Berikut adalah tanggapan dan pendapat tentang sistem PMS yang saya rancang di Polda Jambi.

Kerja Full Time, Tak Ada Waktu Libur

​Karo Ops Polda Jambi Kombes Pol Iskandar MZ menjelaskan, Patroli Multi Sasaran (PMS) sebetulnya kegiatan rutin yang sasarannya adalah kasus-kasus yang tidak ada korban atau pelapornya. Dengan adanya PMS, itu berarti ada dua tugas rutin jajaran Polda Jambi. Kegiatan rutin seperti penindakan kriminal murni dan PMS.
​Fungsi-fungsi personil tetap sama. Tim PMS menggelar operasi secara patroli dan opensif, tim penyidik rutin menindaklanjuti hasil operasi PMS. Dua-duanya saling mendukung. Dua-duanya menargetkan mengurangi angka kriminalitas di Jambi. Dan, dua-duanya mempengaruhi kinerja secara keseluruhan Polda Jambi.
​Satu tim PMS rata-rata berisi 10 personil dengan gugus fungsi masing-masing. Setiap hari, tim ini bergerak dalam dua cara kerja, sweeping (patroli) dan opensif (penindakan). Jam kerjanya full. Dari pagi sampai malam. Supaya personil tak kelelahan, tiap tim bertugas selama setengah hari. Setengah hari lagi diisi oleh tim yang lain. Total tim yang bergerak di seluruh Satker dalam jajaran Polda Jambi, berjumlah 119 tim Jadi, jika 1 tim terdiri dari 10 personil, maka dalam satu hari 1190 personil polisi berjaga-jaga penuh untuk keamanan dan kenyamanan masyarakat Jambi.
​Tidak ada kata libur. Senin sampai Minggu, semua tim bergerak di wilayah kerja masing-masing. Bahkan ketika masyarakat sudah tidur karena kelelahan di malam hari, personil PMS masih berkeliaran di jalan-jalan, mencari dan menjaga stabilitas keamanan di Provinsi Jambi. Istirahat hanya berlaku ketika pergantian shift atau ketika pergantian personil tim. Pergantian personil tim ini biasanya dilakukan setiap satu minggu sekali. Sehingga, seluruh jajaran Satker bisa merasakan pernah terlibat dalam PMS.
​Target operasi terdiri dari beberapa tindak kriminal crime without victim. Seperti narkoba, miras, judi, ilegal logging, ilegal mining, pupuk ilegal, BBM ilegal, PETI, senjata tajam (sajam), prostitusi dan berbagai kejahatan jalanan lain. Makanya, sejak tiga bulan terakhir, dari Januari hingga Maret 2012, sudah ribuan kasus serupa itu yang ditindak aparat kepolisian dalam wilayah Polda Jambi.
​Detail cara kerja, tiap Satker membentuk tim PMS. Tim terdiri dari berbagai fungsi di Satker masing-masing, mulai dari Krimum, Krimsus, sampai inteligen dan ops. Setelah tim terbentuk, personil inteligen bergerak mengumpulkan informasi-informasi dari masyarakat. Selain itu, masing-masing Satker juga menampung informasi dari masyarakat. Setelah informasi didapat dan mendekati kebenaran, barulah tim PMS bergerak untuk sweeping.
​Begitu hasil didapat, tim PMS akan menyerahkan hasil penindakan kepada fungsi masing-masing di Satker. Misalnya penangkapan narkoba, maka BB dan pelaku diserahkan kepada satuan narkoba. Begitu juga dengan sajam, miras dan semacamnya, diserahkan kepada Satkrimum. Selanjutnya, fungsi-fungsi inilah yang menjalankan tugas penyidikan sampai akhirnya penahanan serta pemberkasan. Semua dilakukan dalam waktu bersamaan, cepat dan penuh nuansa kerja keras. Tak ada yang boleh bersantai-santai. Semua harus keringatan dan penuh tanggungjawab.
​Selain mendapat informasi dari inteligen dan informasi masarakat, tim PMS juga melakukan tugas patroli. Nah, khusus cara kerja satu ini, dituntut kejelian dan keaktifan masing-masing tim. Istilah lain jemput bola. Jika tidak aktif dan tidak jeli, otomatis tim tidak akan berhasil mengungkap kasus-kasus jenis crime without victim. Ini pulalah yang menjadi acuan penilaian saat analisa dan evaluasi (anev) pada tiap Jumat di Mapolda Jambi.
​Jadi begitulah, ketika PMS bergerak dan berhasil, sementara fungsi-fungsi rutin lain bergerak dan juga berhasil, maka akan tercipta efek domino di seluruh Satker jajaran Polda Jambi, mulai dari Polsek, Polres sampai Polda. Semua berlomba-lomba mengungkap kejahatan. Dan ketika semua berhasil, hasil akhirnya diharapkan tercipta situasi Provinsi Jambi yang aman, nyaman dan kondusif. Efek lain adalah membawa pengaruh (detern effeck) bagi pelaku kejahatan lain.
​Dengan adanya patroli dan kegiatan aktif tim PMS, pelaku-pelaku kejahatan akan berpikir panjang melaksanakan aksinya. Mereka akan hati-hati, bahkan, mereka akan ketakutan setengah mati mengadakan aksi kejahatan. Tindakan-tindakan merugikan masyarakatpun bisa berkurang dengan sendirinya, akibat shock therapy yang diciptakan tim-tim PMS jajaran Polda Jambi.

Analisa dan Evaluasi Tiap Jumat
kapolda jambi tinjau operasi lilin
​Setiap pekerjaan apapun tanpa diiringi evaluasi, hasilnya tidak akan sesuai dengan apa yang diharapkan. Makanya, Kapolda Jambi Brigjend Pol Anang Iskandar menggagas sistem evaluasi berupa rapat analisa dan evaluasi (anev) yang digelar setiap hari Jumat siang usai sholat jumat. Jajaran pimpinan Polsek, Polres dan Polda dihadirkan. Termasuk kepala tim dan wakil kepala tim PMS di masing-masing Satker.
​Sistem evaluasi dilakukan setiap Kamis oleh Ro Ops Polda Jambi. Masing-masing Kapolres diminta melapor hasil PMS ke posko Ops Polda Jambi yang dideadline tiap hari Kamis. Dengan begitu, evaluasi pertama terjadi di Polres-Polres. Setiap Kapolres harus menguasai hasil kerja bawahannya. Setelah tahu, lalu dilaporkan ke Polda Jambi lewat Biro Ops. Oleh Biro Ops, laporan-laporan dari Polres dirangkum dan dicatat serta dianalisa untuk kemudian dipaparkan pada rapat anev. Sebelumnya, Biro Ops juga merangkum kinerja Satker lewat rekam media massa.
​Khusus satu ini, Biro Ops bekerjasama dengan Bidang Humas Polda Jambi. Bidang Humas, bertugas mengkliping dan mencatat semua aksi tim PMS di seluruh Satker yang dimuat media massa. Setelah seluruhnya tercatat, pada hari Kamis Bidang Humas menyerahkan ke Biro Ops.
​Oleh Biro Ops, semua data dianalisa dan dievaluasi. Grafik turun naiknya kinerja Satker lewat tim-tim PMS nya dirancang. Penilaian juga dilakukan kepada fungsi-fungsi rutin di jajaran Satker masing-masing. Itu berarti, pada paparan tiap Jumat, akan dilaporkan kinerja tim PMS dan tim fungsi rutin masing-masing Satker di hadapan Kapolda Jambi.
​Tugas merangkum, menganalisa dan mengevaluasi, dikerjakan Biro Ops dengan sungguh-sungguh. Hasilnya dalam bentuk naskah-naskah tebal. Naskah laporan itu ditembuskan ke banyak pihak terkait. Seperti Kapolri, Satker-Satker di Mabes Polri, Kapolda dan Satker-Satker di Mapolda Jambi. Tujuannya, agar semua pihak mengetahui betapa kerasnya kerja seluruh jajaran Polda Jambi demi penciptaan keamanan bagi masyarakat Jambi.
​Hari anev tiba. Kinerja tim PMS dan tim rutin masing-masing Satker dipaparkan oleh Biro Ops Polda Jambi. Saat paparan, Kapolda Jambi akan memotong pemaparan dengan pertanyaan-pertanyaan menjurus. Proses dan hasil diperdebatkan. Cek dan ricek dilakukan. Setelah semua terjawab, barulah pemaparan dilanjutkan hingga sore menjelang magrib.
​Situasi di dalam ruang rapat anev akan panas. Ketika ada satu Satker yang hasil kerjanya nihil, baik itu PMS atau gugus fungsi rutin, akan keringatan dan cemas-cemas.

Ada Masalah, Koordinasikan

​Ruang balai Siginjai Mapolda Jambi mulai ramai dipenuhi Satker jajaran Polda Jumat 9 Maret 2012 sekitar pukul 14.20. Masing-masing pimpinan Satker tampak menyiapkan alat tulis, berkas-berkas, dengan keriuhan suara-suara yang saling berebut bicara.
​Sekitar pukul 14.30, saya, didampingi Pak Wakapolda dan Irwasda masuk ke ruangan itu. Semua wajah tampak mulai tegang. Kegaduhan mulai hilang. Rapat analisa dan evaluasi (anev) mingguan tampaknya sudah siap dimulai. Pertama-tama saya mengabsen peserta rapat. Satu per satu. Bidang per bidang. Sampai saya yakin, bahwa semua orang telah siap dengan pemikiran masing-masing.
​Bagi yang berhalangan hadir, tak segan-segan saya sampaikan tentang pentingnya pertemuan mingguan ini. Selain rapat, forum ini juga berfungsi seperti sekolah, saling belajar dan saling memahami tugas dan fungsi-fungsi Polisi yang baik. Sesuai harapan Patroli Multi Sasaran (PMS). Proses, hasil dan dampak kegiatan perlu dibahas di forum ini. Semua Satker diminta mengerti dinamika yang dihadapi Polisi.
​Anev pun dimulai. Dir Intel mengawali pemaparan secara umum situasi politik, ekonomi, budaya dan segala yang terekam oleh Satuan Intel seluruh Satker Polda Jambi  sesuai yang dilaporkan. Sesekali saya memotong pemaparan Dir Intel, mempertanyakan hasilnya, lalu mempertanyakan prosesnya. Jika tak mendapat jawaban yang memuaskan dari Dir, pertanyaan itu dilemparkan ke Satker yang terkait.
​Setelah jawaban didapat, tinggal lagi memberi saran-saran dan masukan-masukan serta arahan-arahan agar Satker itu bisa bergerak sesuai konsep Polisi yang humanis. Pendekatan-pendekatan persuasif sangat disarankan dalam penanganan satu masalah di masyarakat – sengaja saya tidak menjelaskan detail pembahasan dalam anev, karena, sebagian besar pembicaraan masih bersifat rahasia untuk konsumsi internal Polda Jambi saja -.
​Salah satunya – ini bisa dijabarkan karena sudah dimuat di media massa – soal unjuk rasa di gedung DPRD Kota Jambi terkait pendirian salah satu Mall. Demonstrasi ini memicu kerusuhan, untung skalanya masih kecil. Kaca jendela gedung dewan pecah dilempar batu, beberapa orang terluka kena pecahan kaca. Tapi, semua pihak sigap dengan membawa para korban ke rumah sakit, dan mengondusifkan para demonstrans agar tak berbuat lebih jauh lagi. Saat inilah saya mengkordinasikan tentang langkah recovery , melakukan FGD dan giat lain untuk mendeteksi dan mencari solusi pemecahan masalahnya .
​Penekanan pada perekonomian yang berbudaya, dan semangat Polisi membantu pembangunan, saya tekankan pada persoalan semacam ini. Konflik antara masyarakat dengan investor, seperti yang sering terjadi, mestinya dicarikan pemecahan yang menenangkan dan memenangkan kedua pihak. Itulah pentingnya FGD, sebuah forum diskusi yang mempertemukan berbagai pihak dan memberi ruang kepada semua pihak membicarakan uneg-uneg masing-masing.
​Rapat anev ini pada dasarnya refleksi kegiatan selama seminggu oleh seluruh anggota Satker Polda Jambi. Siapa yang bekerja maksimal, siapa yang setengah-setengah, siapa yang tidak bekerja, bisa terlihat dalam rapat ini.
​Giliran Karo Ops memaparkan evaluasi, suasana jadi lebih seru dan hidup. Pelaksanaan PMS dikupas secara detail berdasarkan laporan seluruh Satker Polda Jambi. Penilaiannya masih sama, proses, hasil dan dampak kegiatan. Teknis pelaksanaannya juga sama, begitu dirasa ada yang mengganjal, akan saya pertanyakan sampai dapat jawaban pasti.
​Saya contohkan satu satuan kerja melaporkan tidak ada hasil giat PMS selama seminggu, alias nihil. Lalu, saya kejar ke Satker itu. Seorang petugas menjawab dengan alasan-alasan yang panjang tapi tak begitu jelas ujungnya.
​Nah, waktu inilah saya potong pembicaraannya. “Hasilnya gimana?” Dia jawab, “Siap, nihil Pak!”
​Lah, yang dijawab panjang lebar itu tujuannya apa kalau tak ada hasil. Inilah yang saya bilang kebohongan petugas yang bisa dideteksi ketika anev berlangsung.
​Anev bisa berjalan satu atau dua jam. Tergantung pemaparan dan banyak persoalan-persoalan internal yang harus dicermati dan dibahas. Tujuannya cuma satu, menumbuhkan semangat koordinasi yang erat dan mencatat dinamika yang terjadi di tiap Satker Polda Jambi. Makanya, rapat ini harus terus dilakukan.

The Ricing Strip

​Jangan pernah berbohong. Inilah yang ditekankan Kapolda Jambi Brigjen Pol Anang Iskandar kepada seluruh Satker di bawah pimpinannya. Sebab, jika berbohong, nantinya akan ketahuan juga. Alasannya, selain evaluasi, staf Irwas serta Biro Ops juga melakukan croscek atas laporan masing-masing Satker. Jika ada laporan Satker yang dicurigai berbau kebohongan, kebenarannya akan diburu.
​Selain itu, hasil akhir anev dituangkan dalam bentuk reward and punishment alias penghargaan dan hukuman. Bagi Satker yang berhasil menoreh grafik tertinggi pencapaian kinerja PMS, akan diberi penghargaan setiap minggu. Begitu pula dengan Kapolres, reward and punishment diberlakukan setiap satu bulan sekali. Itu artinya, ada Satker terbaik setiap minggu, dan ada pula Kapolres terbaik setiap bulan. Terbaik diberikan baik kepada tim PMS maupun tim fungsi rutin. Masing-masing Satker berprestasi diberi piagam dan dukungan lain.
​Perjalanan selama tiga bulan terakhir, rata-rata grafik kinerja tiap Satker bergelombang. Kadang menanjak dan kadang menurun. Ketika terjadi penurunan, Satker bersangkutan akan diberi pengarahan dan motivasi. Biasanya, minggu depan grafiknya langsung naik. Ini berhubungan langsung dengan punishment.
​Meski sampai saat ini belum ada Satker yang dihukum, namun hukumannya telah disiapkan. Yakni, dalam bentuk teguran keras sampai pencopotan jabatan di jajaran pimpinan Satker masing-masing. Bagi Satker yang di bawah diberi teguran dan motivasi, tapi bagi kesatuan yang tidak diunggulkan tapi juara, maka diberi gelar The Ricing Strip alias Zebra Juara karena mengalahkan Kuda Balap.
Sanksi keras wajar diberlakukan kepada Satker yang grafik kerjanya terus menurun. Soalnya, tiap tim PMS diberi anggaran sangat besar pada setiap operasi. Masing-masing personil diberi honor uang saku Rp 10000 per hari bahkan lebih bila dapat uang makan . Operasi dilangsungkan mulai Senin sampai Minggu, 7 hari kerja.
​Dengan dukungan dana yang sangat besar ini, maka wajar saja hasil yang didapat juga harus besar. Harus sesuai. Harus bisa dipertanggungjawabkan. Dan, tiap kali ada Satker yang nihil, Kapolda Jambi akan meminta pertanggungjawaban Satker bersangkutan soal penggunaan anggaran PMS. “Kapolda biasanya nanya, ‘uangnya sudah terima belum?’, terus dijawab ‘sudah’ oleh Satker. Lalu Kapolda akan bilang, ‘pertanggungjawabkan’,” ungkap Karo Ops Polda Jambi Kombes Pol Iskandar Mz.
​Selain didukung anggaran, tim PMS juga didukung kendaraan operasional. Itu artinya, Polda sudah sangat serius mendukung berjalannya operasi PMS di tiap-tiap Satker. Jadi, wajar kan jika sanksi berat diberlakukan jika Satker tak mampu membuahkan hasil?
​Sampai April 2012, untungnya belum ada Satker yang ditetapkan menerima hukuman keras seperti itu. Rata-rata Satker akan memperbaiki diri begitu grafiknya menurun. Kalau sudah begini, otomatis Satker tersebut terhindar dari ancaman hukuman berat.
​Logikanya, jika personil tidak “main-main” di lapangan, sudah tentu hasil PMS tidak akan nihil. Faktor malas biasanya hanya sementara, tapi faktor lain, semisal ada indikasi personil “bermain” dengan pelaku tindak kejahatan tanpa korban, otomatis hasil operasi PMS akan nihil. Nah, inilah yang harus dihindari seluruh jajaran Polda Jambi.
​Buntutnya, jika dalam beberapa bulan berturut-turut grafik kinerja PMS dan fungsi rutin terus menurun, dan tidak ada peningkatan sama sekali, itu bisa diindikasikan ada permainan di Satker bersangkutan. “Mungkin personilnya main, mungkin juga pimpinannya main, jadi seluruh jajaran Satker bersangkutan harus dipertimbangkan jabatannya,” jelas Karo Ops, lagi.

Banyak Dampak Positif Bagi Semua

Program Patroli Multi Sasaran (PMS) ternyata mulai terasa dampaknya oleh berbagai kalangan. Antara lain, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi, agen minyak dan pedagang minuman keras (miras).
Seusai paripurna LKPJ di gedung DPRD Provinsi Jambi, Selasa (3/4), Gubernur Jambi Hasan Basri Agus (HBA) secara terang-terangan mendukung program-program yang dilakukan Polda Jambi. Mulai dari FGD sampai PMS.
Meski dia mengaku belum tahu detail operasi PMS, namun HBA mengapresiasi gerakan-gerakan Polda sampai saat ini. “Saya berterimakasih dengan Kapolda, jajarannya semua bergerak, dari atas sampai bawah, Jambi jadi aman,” ungkap HBA, singkat.
Begitu juga dengan Sekda Provinsi Jambi Syahrasadin. Dia menilai langkah Kapolda Jambi dengan program-programnya sangat positif. Terkait dampak PMS terhadap kelancaran perekonomian Jambi, Sekda belum bisa berkomentar banyak.
“Dampak ekonomi harus dihitung dulu, belum bisa tahu,” tegas Sekda.
Pengakuan Frits, manajemen PT Karpotama Tanggang Jaya, agen minyak industri resmi Pertamina Depo Jambi, program PMS sangat baik. Dia merespon positif. Meski begitu, dia belum bisa menyimpulkan apa-apa saja efek bagi kelancaran distribusi minyak di Jambi dampak PMS. Yang jelas, omset perusahaannya meningkat drastis ketika operasi polisi berlangsung di seluruh SPBU dalam Provinsi Jambi. Jika sebelumnya hanya puluhan perusahaan mengorder minyak industri, kini ada ratusan perusahaan yang mengorder.
​Alasan Frits, operasi Siginjai Polda Jambi 2012 sejak sebulan terakhir, lebih terarah pada pemberantasan praktek penyimpangan minyak subsidi. Sehingga, operasi PMS jadi terbungkus operasi Siginjai. “Kita lihat April ini pasca operasi Siginjai, ada pengaruhnya apa tidak dengan minyak,” ungkapnya.
​Meski begitu, dia berharap PMS bisa digalakkan di SPBU-SPBU dalam Provinsi Jambi walau rencana kenaikan harga BBM telah berakhir. Pengamanan diharap bisa fokus pada SPBU yang berada di daerah kabupaten. Asumsinya, SPBU di luar Kota Jambi, sarat praktek penyimpangan minyak subsidi. “Contohnya kan jelas sebulan terakhir ini. Banyak pelaku penimbunan yang ketangkap,” jelasnya.
​Industri-industri seperti milik kontraktor jasa konstruksi, diakui Frits diduga paling sering mengambil minyak subsidi yang kemudian digunakan untuk melaksanakan proyek-proyek pemerintah. Selain itu, pemerintah daerah dinilainya kurang pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan yang berada di kawasannya. Semestinya, pemerintah daerah bisa mengaudit semua perusahaan yang beroperasi di wilayahnya agar tahu mana yang pakai minyak industri mana yang tidak.
​Bukti satu perusahaan memakai minyak industri, yakni adanya faktur pembelian di Pertamina. Selain itu, ada pula bukti pembayaran pajak BBM setelah membeli minyak di Pertamina. “Ini persoalan monitor Pemda. Jika Pemda pengawasannya jalan, dijamin kerjaan polisi bisa berkurang,” jabarnya.
​Di lapangan, pengaruh PMS sangat besar. Pedagang-pedagang miras ketakutan, cemas-cemas, sampai penuh kecurigaan. Beberapa pedagang ditemui, semua mengaku takut menjual miras.
​Seperti diakui seorang pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Simpang Rimbo Kota Jambi. Awalnya wartawan menyamar jadi pembeli miras, minta diambilkan beberapa merek miras berkandungan alkohol di atas 5 persen. Seperti vodka, topi miring. Pedagang itu langsung curiga, dan mendekati wartawan sambil bertanya, “Bapak Polisi ya?”.
​Di kawasan Simpang Karya Telanaipura begitu juga. PKL yang diketahui sering menjajakan miras takut-takut mengakui ada tidaknya miras beralkohol di atas 5 persen. “Kalau bir ado, bir bae dak,” ungkap pedagang yang tak mau menyebut namanya itu.
​Dengan polosnya dia mengaku takut sejak banyaknya Polisi berkeliaran di jalan raya. Disebut soal PMS, pedagang itu mengaku belum tahu apa itu PMS. Yang dia tahu, keberadaan Patroli Polisi sangat mengganggu aktivitasnya sebagai pedagang.
​“Lah banyak yang ditangkap jual miras. Aku dak mau masuk penjaro, biaklah jual bir bae, biasonyo dak apo-apo,” tuturnya.

PMS Bikin Polisi Makin Bergiat

Dampak adanya PMS juga dirasakan langsung jajaran di Polda Jambi. Semua serasa terpacu mengungkap berbagai kasus yang dibebankan. Hasilnya pun memuaskan, sangat tinggi dan terjadi perubahan hasil. Terbukti, kejahatan konvensional dan kejahatan yang tidak dilaporkan masyarakat bisa ditanggulangi secera cepat dan efisien. Ini diakui Karo Ops Polda Jambi Kombes Pol Drs Iskandar MZ.
Dia menjelaskan, desain tata cara kerja PMS adalah gabungan dari berbagai fungsi di Polda Jambi. Seperti, Reskrimum, Reskrimsus, Narkoba, Intel Provos, Sarpras dan Biro Ops. Jajaran ini menerima laporan tugas harian dari Polda, Polres, Polsek untuk kemudian dirangkum dalam laporan giat PMS yang nantinya sebagai bahan analisa dan evalusi (anev) di ruang Balai Siginjai Mapolda Jambi Thehok.
Langkah awal, setiap Kamis, semua Kapolres mengirim hasil PMS ke posko Ops Polda, untuk dibuat paparan pada hari Jumat. Harapannya, Intel memberikan produk kepada tim PMS untuk ditindaklanjuti. Dari hasil produk itu akan ditidaklanjuki oleh tim. Dengan adanya PMS ini, setiap Kamis, Polres mengecek hasil jajaran di bawah naungannya untuk dilaporkan ke Polda Jambi.
Mengenai anggaran untuk fungsi, Lantas, Sabara Pamovit dan Polair mempunyai tugas patroli, anggarannya berasal dari masing-masing Satker. Tetapi jajaran yang dari Ditreskrimum dan sus, Narkoba, Intelkam, Provos, Sarpras, Roops, anggarannya dari Dukops Spripim Kapolda Jambi.
Jika ada operasi khusus kepolisian, nama-nama yang ikut tim PMS tidak dilibatkan pada operasi supaya tidak tumpang tindih, sehingga operasi PMS jalan dan operasi khusus juga jalan. Sprint dibuat dua minggu sekali dari 1-15 dan 16-31 sesuai kalender bulanan. Begitupun dengan anggota yang dilibatkan, selalu bergantian dari masing-masing Satker.
Dan setiap anev pada Jumat, Katim PMS dan Wakatim harus hadir di Polda beserta Pejabat Utama, Kasup Satker, para Kasatwil jajaran Polda Jambi (Kapolres, Waka, Kabagop secara bergantian)
​Linda, seorang warga Kota Jambi memberi apresiasi tinggi atas pelaksanaan PMS ini. Sejak ada PMS, dia selalu melihat ada Patroli Polisi di mana-mana. Dengan begini, dia yakin pelaku kejahatan akan berpikir panjang untuk menjalankan niat buruknya. Dan dia juga yakin, dengan PMS, keamanan bisa kondusif, masyarakat merasa terayomi.
​Lalu, bagaimana tanggapan Satker Polisi yang pernah mendapat penghargaan atas pelaksanaan PMS? AKP A. Bastari Yusuf SH, Kapolsek Jelutung, dengan semangat bercerita. Katanya, keberhasilan PMS yang dikonsep Kapolda Jambi haruslah didukung semua jajaran, baik di tingkat Polda, Polres dan Polsek. Di Polsek Jelutung, menurutnya, pihaknya haruslah ada pemetaan potensi tingkat kerawanan di wilayah kerja. Kapan dan jam berapa kegiatan yang dilaksanakan masyarakat. Setelah terkumpul, Kapolsek akan menganalisanya dan memberi petujuk kerja kepada masing-masing bawahannya.
Kedua, wilayah penugasan anggota disarankan bisa membina dan bermitra dengan masyarakat. Apalagi dengan mengaktifkan kring serse, otomatis jaringan anggota makin meluas, sehingga masyarakat yang sudah baik dengan Polisi, dengan sendirinya memberi masukan soal apapun kegiatan yang mencurigakan. Usai itu, Polisi langsung bertindak. Dengan membina jaringan akan membuat simpati masyarakat sehingga Polisi tidak merasa terbebani selama bertugas.
“Bekerja itu bukan dengan orangnya, tetapi bekerja untuk kepentingan negara dan digaji rakyat. Jadi bekerja harus dengan keikhlasan,” tutur Bastari.
Selanjutnya, cara dia memenej personil anggota bisa lewat cara santai biasa pula lewat pancingan pemberian reward. Yang paling penting, Kapolsek harus tegas, tidak ada anak emas atau anak tiri, semua anggota diberlakukan sama. Semua anggota harus mampu bertugas dengan baik,  tinggal bagaimana menggali potensi di masing-masing anggota. Kuantitas dulu baru kualitas. Maka otomatis akan timbul kepercayaan kepada anggota dan masyaraka. Efeknya, PMS berjalan bukan lagi sebagai beban anggota tapi menjadi tanggungjawab anggota sehingga bisa bekerja dengan sendirinya.
Selain itu, dalam memotivasi, Kapolsek menggunakan cara pendekatan kejiwaan dan kekeluargaan. Ini berguna, agar tugas yang dibebankan anggota cepat terselesaikan dengan baik dan aman di semua pihak.
Begitu juga dalam bertugas, setiap minggunya dilakukan  briefing, sejauh mana target operasi yang sudah diungkap. Ini fungsi pengawasan dan pengendalian. Bahkan tak jarang dia harus berdebat dengan anggota. Nah, jika ada permasalahan dipecahkan bersama, argumen terbaik akan dipakai. Agar berjalan baik, ia menempatkan personil senior di tiap tim PMS agar jadi panutan.

PMS Berjalan, Berita Membanjir

​Sejak PMS digalakkan dan dilaksanakan, media massa di Jambi langsung kebanjiran berita. Ya, dalam satu hari, puluhan tindakan berlangsung di Polres/Polsek dalam tubuh Polda Jambi. Ini terekam pula di Humas Polda Jambi.
​Pengakuan Kabid Humas Polda Jambi AKBP Almansyah, dalam satu minggu jejak pemberitaan giat PMS di seluruh jajaran Polda Jambi mencapai angka 117 sampai 140. Angka ini terus meningkat seiring gencarnya dan berjalannya sistem PMS.
​Rekam giat Polisi diambil dari berbagai media massa. Seperti Jambi Independent, Jambi Ekspress, Posmetro Jambi, Tribun Jambi, Jambi TV, Jek TV dan berbagai media lain. Rekam giat ini selalu dipaparkan dalam anev tiap hari Jumat. Ada satuan yang prestasinya meningkat, ada yang tetap dan ada pula yang menurun. Semua ini jadi bahasan dalam anev.
​Tak hanya Humas Polda, di tubuh media massa pun efek giat PMS ini terasa. Beberapa redaktur media cetak mengaku, sejak adanya PMS, berita-berita dari kepolisian membanjir. Mulai hari Minggu sampai Kamis, puluhan berita masuk ke meja redaksi. Dalam Provinsi Jambi ada 11 kabupaten/kota. Tiap wartawan kabupaten/kota, mengirim 2 sampai 3 berita per hari. Jarang yang 1 berita.
Bayangkan, setiap hari, ada 30-an berita masuk ke redaktur halaman hukum dan kriminal. Ini membuat kerumitan tersendiri bagi redaktur. “Sampai bingung mau milih berita mana yang mau dinaikkan,” aku salah seorang redaktur halaman hukum dan kriminal media cetak di Jambi.
​Redaktur lain mengaku kaget dengan pergerakan berita-berita di tubuh kepolisian sejak PMS berjalan. Dulu, untuk mendapat 1 berita saja di satu satuan Polisi dalam jajaran Polda Jambi, susahnya bukan main. Tak jarang pula dalam satu hari hanya ada 4 sampai 5 berita saja dari kepolisian, sehingga kebutuhan berita pada halaman hukum dan kriminal tidak tercukupi. Akibatnya, redaktur terpaksa mengakali halaman dengan memuat foto yang besar dan meminta bantuan bagian iklan menambah iklan pada halaman tersebut supaya layak cetak dan tidak kosong.

Operasi yang Menguras Keringat

Kapolres Muarojambi AKBP Badarudin mengaku Patroli Multi Sasaran (PMS) adalah program yang melelahkan dan menguras keringat jajarannya.
“Pokoknya sangat bermanfaat, baik untuk anggota maupun masyarakat. Di mata masyarakat, Polisi kelihatan mengayomi dan melindungi, sedangkan bagi anggota, memicu memberikan layanan terbaik dan menimbulkan kepercayaan bagi masyarakat,” ungkap Badarudin.
Selama bulan Januari hingga Maret ini, tak sedikit petugas PMS berhasil menangkap penjahat-penjahat yang meresahkan masyarakat dan mengganggu kriminalitas di wilayah hukum Kabupaten Muarojambi. Dia mencontohkan, dari penimbunan BBM, premanisme, miras, judi, ilegal logging, disikat oleh tim PMS.
“Yang terbesar, terungkapnya pabrik pupuk ilegal di Kumpeh Ulu, Desa Muara Kumpeh, dan narkoba yang hampir setiap mingggu ada tersangkanya, termasuk bandarnya berhasil kami ringkus,” papar Badarudin bangga.
Untuk mencapai keberhasilan di setiap tugas PMS, banyak personil yang dilibatkan, dari mulai Intel, Sabara, Reskrim, termasuk petugas Lalu Lintas. “Dengan kekuatan penuh inilah, PMS beropreasi setiap harinya, baik siang atau malam. Tergantung situasi dan jam kerawanan,” tukasnya.
Di jajaran Polres, Badarudin menugaskan 54 personil PMS, di antaranya 2 tim di Polres dan 8 tim di Polsek. Anggarannya, dari DIPA Polres. Melalui team work ini, masing-masing personil saling mengisi guna mengungkap kejahatan yang tidak dilaporkan masyarakat.
Tak jarang dalam setiap tugas, tim PMS tidak berhasil menjaring tindak kriminal di tengah masyarakat. Namun, itu tak membuat petugas putus asa. Justru Kapolres dengan bijaksana, selalu memotivasi anggotanya agar tetap semangat. “Kegagalan itu suatu hal yang biasa, yang penting aksi PMS tetap bergerak, sehingga masyarakat menilai di mana-mana ada Polisi. Dengan begitu, penjahat dan aksi kriminal lainnya akan berpikir panjang untuk melakukan aksinya,” ungkap Badarudin.
Diakui Kapolres, agar kegiatan rutin PMS tetap berjalan dan bisa mempertahankan kamtibmas, harus memeras keringat dan pikiran serta kerja keras di lapangan. Karena itu, tidak jarang dia sendiri harus turun langsung ke lapangan bersama anggota menindak pelaku kejahatan. “Menindak kejahatan adalah tugas Polisi. Ada dan tidak ada pimpinan, Polisi harus bersikap seperti itu,” katanya.
Dia pun tidak segan-segan memberikan kepercayaan secara penuh kepada anggotanya tanpa pandang bulu. “Siapa pun yang diberi kepercayaan dan kewenangan harus bisa mengambil tindakan cepat dan akurat. Siapa pun bertindak kriminal, tangkap,” ujar Badarudin didampingi Kabag Ops Polres Muarojambi, Kompol Muhammad Ali.
Kapolres juga tak gegabah dalam menerima setiap laporan dari bawahannya. Agar tidak lengah, kros cek lapangan perlu dilakukan guna mengawasi anggotanya. Bahkan komunikasi dengan masyarakat sering dia lakukan di tengah-tengah kesibukan tugasnya sebagai pimpinan Polres.
Demikian juga dengan keberhasilan anggotanya yang selalu berkeringat dalam bertugas, Kapolres selalu memberi reward (hadiah) bagi anggota yang berhasil menjalankan tugas dengan baik dan berhasil mengungkap kasus dengan cepat. Reward diberikan setiap bulan usai upacara, langsung oleh dia.
Di balik keberhasilan tersebut, tak sedikit Kapolres dan jajarannya mendapatkan kendala dalam menjalankan tugas dan mengganggu kebijakannya, serta berbenturan dengan instansi lain. Namun semua itu dapat diatasi dengan bijaksana tanpa harus ada yang dikorbankan. Dalam benaknya, keutamaan intitusi Polri tetap dikedepankan, selain menjaga hubungan baik sesama komandan.
Sejak pelaksanaan giat PMS ini, hasilnya sangat dirasakan jajarannya. Bahkan sangat luar biasa. “Pihak Kejari Muarojambi saja sampai keteteran menerima hasil limpahan dari Polres, terutama kasus narkoba,” lanjut Kapolres.
Demikian juga acap kali, dia mendapatkan laporan keberhasilan dari anggotanya, ada kebanggaan tersendiri yang dirasakan. Terkadang, Badarudin harus memuji langsung anggotanya dengan mengacungkan jempol dan empat jempol untuk hasil yang luar biasa. “Sekecil apapun laporan anggota, harus mendapatkan apresiasi, agar jerih payah dan keringat mereka dihargai pimpinan,” katanya mengakhiri jawaban.

Sempat Terkaget-kaget
bedah anggaran 1
Tidak demikian dengan Kapolsek Jambi Selatan Kompol Ali Sadikin. Pada awalnya dia sempat terkaget-kaget mendengar program unggulan Kapolda Jambi Brigjen Pol Anang Iskandar, yakni Patroli Multi Sasaran (PMS). Menurutnya, selama ini, Polisi masih terbiasa dengan menunggu laporan dari masyarakat, untuk kemudian ditindaklanjuti. Padahal, permasalahan di luar banyak, multi komplek. Dari tindak pidana dan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di tengah masyarakat.
​“Polsek agak sulit menerapkannya. Namun, setelah dijalankan perintah Kapolda tersebut, saat ini baru menyadari peran serta tugas Polisi di mata masyarakat. Lebih terasa Polisinya dengan adanya PMS,” paparnya.
Meski agak kesulitan, sebagai pimpinan tertinggi di Polsek dia harus mensosialiasaikan ke anggotanya setiap saat apa itu kegiatan PMS? Dan bagaimana cara betindak terhadap sasarannya. “Karena selama ini anggota masih santai, menunggu perintah dan laporan masyarakat. Dengan adanya PMS, Polisi dituntut aktif mencari informasi dari masyarakat yang menyangkut tindak pidana dan pelanggaran dan secepatnya direspon langsung anggota,” kata Ali.
​Diakuinya, berawal ada giat out bound oleh Kapolda Jambi beserta jajarannya, wawasan kepolisiannya mulai terbuka. “Bagaimana kita mengambil dan memungut sampah. Sampah mana yang diambil, yang kering atau yang basah. Bagi Polisi,  sampah itu bisa diartikan dengan kasus, kasus mana yang diambil yang basah atau yang kering?” terang Kapolsek.
Mengenai perencanaan PMS, Polsek Jambi Selatan mengikuti DIPA dalam satu bulan, yakni lima personil dalam satu hari. Tim PMS ditargetkan dalam satu minggu harus dapat minimal dua sampai empat kasus. Caranya bermacam-macam, mulai dari kegiatan rutin razia-razia, dan pengungkapan kasus yang ditemukan anggota Intel. Setelah dilaporkan ke Kapolsek, dengan pengerahan anggota dari Reskrim, Sabara, Lalu Lintas, baru aksi dilakukan.
“Alhamdulillah, semua itu bisa berjalan dengan baik dan banyak berhasil. Anggota saya diminta selalu berpikir, berinovasi untuk mencari langkah apa agar giat PMS ini terus berhasil,” katanya.
Kapolsek mencontohkan, sewaktu dia berkeliling dengan kendaraannya, dia menemukan segerombolan pemuda lagi mabuk dan meresahkan warga. Selanjutnya di salah satu SPBU, ia mendapatkan mobil dengan tangki sudah dimodifikasi yang menyalahggunakan BBM.
Begitu juga Patroli Lalu Lintas. Setiap malam minggu petugasnya melakukan razia balapan liar di arena eks MTQ. Di sana petugas merazia knalpot yang tidak standar, karena ada komplin dari masyarakat akibat bunyi knalpot bisa memecahkan gendang telinga. “Saat ini sudah lebih 350 knalpot yang disita dari pemilik motor,” kata Ali Sadikin.
Yang menjadi perhatian sejak adanya giat PMS, saat mengamankan mobil bertangki modifikasi yang diduga digunakan untuk menimbun BBM dengan cara membeli solar di SPBU yang dilakukan oleh oknum satuan samping (TNI). “Itu, kami harus koordinasi antar pimpinan sehingga permasalahan tersebut berakhir dengan aman,” ujarnya.
Demikian juga saat menangkap gas LPG sebanyak 450 tabung. Kisah uniknya, TKP-nya menyangkut perbatasan wilayah antara Polsek Jambi Selatan dengan wilayah Polres Muarojambi. Warga di sana setiap ada kejadian selalu memberi informasi ke Polsek Jambi Selatan, karena kedekatan TKP. Ini terjadi karena ada perintah dari Kapolda, silahkan anggota Polres atau Polsek menangkap pelaku kriminal di luar wilayahnya. Namun, setelah dilaporkan ke Kapolres, Kapolres meminta agar tidak melakukan tindakan di luar wilayah. “Sekarang tidak boleh lagi, jadi kalau ada informasi langsung kita kabari ke wilayahnya. Saat ini, kasus tersebut telah diamankan dan langsung dilimpahkan ke Polres,” terangnya.
​Diakui Ali Sadikin, untuk mempertahankan keberhasilan PMS sangatlah berat. Dia harus memaksimalkan kerja anggotanya agar jangan bermalas-malasan dan menunggu laporan dari masyarakat. Selain itu, dia tidak keberatan turun langsung ke lapangan, tak hanya memerintah bawahan saja.
Dalam bertugas, dia dan anggotanya sangat termotivasi dengan grup blackbery message (BBM) Polresta Jambi. Setiap ada keberhasilan yang diperoleh masing-masing Polsek, langsung diposting di BBM. “Kalau ada hasil, pimpinan langsung merespon mantap. Namun, kalau belum berhasil, pimpinan memotivasi lagi agar lebih giat,” katanya, sembari mengungkapkan perasaan kalau tidak berhasil terbebani sendiri, “seperti ada utang.”
Selain PMS, Kapolsek juga mengaktifkan peran serta Babinkamtibmas di masyarakat. Jadi tokoh adat dilibatkan. “Tantangannya sangat positif. Kita menyadari kegiatan PMS sangat penting, untuk mengimbangi laporan minimnya pengungkapan kasus dari pelaporan yang disampaikan masyarakat,” tutur Ali.
​Dampak PMS dari internal merubah cara berpikir anggota yang selama ini cuma menunggu laporan dan tidak berusaha menggali informasi di luar, sekarang berupaya mencari informasi dan berpartisipasi membesarkan kesatuan.
Begitu juga dengan dampak kegiatan PMS, sangat besar sekali pengaruhnya bagi masyarakat, terlebih bagi anggota Polisi. “Masyarakat sekarang lebih berani memberikan informasi kepada Polisi. Dari adanya pasangan mesum, judi, ilegal BBM dan lainnya,” katanya. Ia juga mengakui semua itu tidak lepas dari semua media cetak dan elektronik yang memberitakan setiap hasil kegiatan PMS. “Jadi masyarakat berani memberikan informasi tanpa sungkan-sungkan dan takut lagi.”
Selain itu, dengan adanya PMS, membuat para oknum dan masyarakat menjadi ngeri berbuat yang ilegal. Selanjutnya, masyarakat jadi sadar, dan tidak lagi melakukan hal ilegal. “Takut setiap waktu menjadi sasaran PMS,” timpal Kapolsek.

Memperkecil Kemungkinan Bermain

​Sejak operasi PMS digulirkan, seluruh jajaran Polda Jambi dari atas sampai bawah bergiat. Tak ada kata berhenti. Lambat laun sistem akan terbentuk dengan sendirinya, dan, lama-lama operasi ini akan menjadi kebiasaan alias habit
​Data Biro Ops dari Januari hingga Februari 2012, sudah ribuan kasus terakomodir. Ada yang ditindak, ada pula yang dibina. Misalnya kasus miras, total penindakan sebanyak 219, Narkoba 59, Lahgun BBM 64, Judi 48 dan Ilog 35. Hingga Maret 2012, pelanggaran Lalu Lintas mencapai 5.913 kasus dan kasus lain mencapai 1.147. Angka penindakan yang fantastis, dan mungkin tak pernah tercapai di Polda manapun.
​Ada beberapa keuntungan yang didapat dari giat PMS semacam ini. Selain personil berhenti malas-masalan, juga memperkecil peluang Polisi bermain-main di wilayah kejahatan tanpa korban. “Ini sangat bagus bagi Polisi. Biar bersih, biar netral,” ungkap Karo Ops Polda Jambi Iskandar MZ.
​Efek lain dengan bergiatnya personil Polisi, membuat petugas tak ada waktu lagi mengurus hal-hal bersifat melanggar hukum. Polisi kini fokus bekerja, konsentrasi memperkecil angka kejahatan, dan terus menciptakan rasa aman bagi masyarakat Jambi. Semoga, dengan cara ini Polisi di jajaran Polda Jambi benar-benar menjadi Polisi yang ideal. Profesional.

Masyarakat Tersentuh, Senpi Dikembalikan Secara Sukarela
DIGITAL CAMERA
Patroli Multi Sasaran (PMS) dan pendekatan-pendekatan humanis yang
dilakukan Satker di jajaran Polda Jambi, menciptakan buah manis bagi
penegakan hukum. Bukti nyata, selain banyak operasi-operasi yang
berhasil mengungkap kejahatan di masyarakat, jajaran Polda Jambi juga
berhasil menyentuh hati masyarakat di bidang kepemilikan senpi ilegal.
Seperti di wilayah hukum Polres Sarolangun. Masyarakat setempat sudah
mengerti tentang bahayanya menyimpan senjata api ilegal di kediaman
masing-masing. Walaupun alasan kepemilikan senpi untuk keamanan
ladang, namun, masyarakat secara sukarela menyerahkan senpi rakitan
yang dimilikinya kepada Polsek-Polsek terdekat.
Pengakuan Kapolres Sarolangun AKBP Satria, per 9 Mei 2012, tercatat
sudah 103 pucuk senpi yang diamankan jajarannya. Terbanyak dari
Kecamatan Pauh, menyusul Singkut dan Mandiangin. “Masyarakat secara
sukarela menyerahkan senpi ilegal miliknya kepada kami,” ungkap
Satria.
Diakuinya, rata-rata pemilik senpi ilegal adalah masyarakat petani.
Tujuan masyarakat memiliki senpi, untuk mengusir hama liar di ladang
seperti babi, berang-berang dan berbagai hama lain. Tetapi, setelah
penyuluhan hukum yang dilakukan secara intensif oleh
Kapolsek-Kapolsek, masyarakat jadi sadar betapa bahayanya senpi bagi
diri mereka sendiri dan bagi masyarakat sekitar. “Akhirnya mereka
menyerahkan senpi mereka secara sukarela,” beber Kapolres Sarolangun,
lagi. Nanti, setelah didata dan dikumpulkan, seluruh senpi
ilegal tersebut akan diserahkan ke Polda Jambi untuk dimusnahkan.
Sementara dari data Direktorat Intelkam Polda Jambi, penyerahan
senpi ilegal oleh masyarakat ke Polres sudah banyak terjadi. Polres
yang paling banyak mengamankan senpi ilegal adalah Polres Sarolangun.
Selain itu, ada pula di Polres Merangin dan Polres Tebo.
Dir Intelkam Polda Jambi Kombes Pol Bagus Kurniawan mengaku senang
atas kerelaan masyarakat menyerahkan senpi ilegal. Menurutnya, ini
bisa dikatakan keberhasilan jajaran Polri dalam melakukan pendekatan
kepada masyarakat. Penyuluhan-penyuluhan yang dilakukan Polres
setempat, dinilainya sudah menyentuh langsung hati masyarakat.
Sehingga, itu membuat masyarakat sadar betapa berbahayanya menyimpan
senpi baik bagi diri sendiri, maupun bagi masyarakat sekitar.
Apalagi kebanyakan pemilik senpi adalah petani yang mengatasnamakan
suku anak dalam (SAD). “Tapi sekarang tiap Polres hampir setiap hari
berhasil mengamankan senpi milik masyarakat,” tuturnya.

Pengurusan Izin Ketat, Tiap Tahun Diperpanjang

Mendapat izin resmi kepemilikan senjata api ternyata cukup ketat.
Kemudian, tidak sembarang orang bisa mendapat izin tersebut. Menurut
Direktur Intelijen dan Keamanan (Intelkam) Polda Jambi Kombes Bagus
Kurniawan, izin penggunaan senpi untuk bela diri dikeluarkan langsung
oleh Mabes Polri.
Sementara itu, satuan kerja setingkat Polda dan jajarannya hanya
bertugas mengawasi peredarannya di tengah masyarakat. “Setiap satu
tahun pemiliknya harus memperpanjang izin ke Mabes Polri melalui
rekomendasi Polda,” katanya.
Bagus menjelaskan, sebelum memperoleh izin, harus mengikuti aturan
cukup ketat yang telah ditetapkan Polri. Untuk kepentingan bela diri
misalnya, aturannya dituangkan dalam SK Kapolri tahun 2009.
Menurutnya, pemohon izin harus memiliki ketrampilan dan skill
menembak. Kemampuan ini, kata dia, harus dibuktikan dengan sertifikat
yang dikeluarkan oleh Institusi Pelatihan Menembak yang sudah mendapat
izin Polri, seperti Perbakin.
“Syarat lainnya harus berkelakuan baik dan belum pernah terlibat dalam
suatu kasus tindak pidana yang dibuktikan dengan SKCK. Untuk soal
usia, sang pemohon harus sudah dewasa, namun tidak melebihi usia 60
tahun,” katanya.
Izin kepemilikan senjata api juga harus memenuhi syarat medis dan
psikologis tertentu. Secara medis, kata dia, pemohon harus sehat
jasmani dan tidak cacat fisik. Kemudian, untuk syarat psikologis,
haruslah orang yang tidak cepat gugup dan panik, tidak emosional dan
tidak cepat marah. “Syarat ini harus dibuktikan dengan hasil psikotes
yang dilaksanakan oleh Dokter Polri,” katanya.
Kepemilikan senpi bagi warga sipil ini, menurut Bagus, sudah diatur
dalam UU Nomor 8 Tahun 1948, tentang pendaftaran dan pemberian izin
kepemilikan senjata api.
Di bagian lain, warga sipil atau pejabat yang memiliki senpi juga
harus taat aturan. Salah satunya harus memperpanjang izin kepemilikan
tiap tahun. Namun, dalam prakteknya sebagian pejabat enggan
memperpanjang izin kepemilikan senpinya dengan berbagai alasan.
Sementara itu, jenis senjata api pabrikan, menurut Bagus, biasanya
dipasok dari luar daerah, salah satunya Bandung. Selain itu, ada juga
yang diselundupkan dari beberapa negara yang tengah berkonflik,
misalnya Thailand Selatan. Pihaknya kesulitan mengungkap kasus
peredaran senpi ilegal di masyarakat, karena senjata tersebut dapat
dimiliki semua orang dengan mudah.
Menurut dia, aksi kejahatan di Jambi, khususnya pencurian dengan
kekerasan, banyak menggunakan senpi ilegal. “Kalau jumlahnya cukup
banyak. Kita tidak punya data konkret di lapangan. Kondisi daerah kita
memang sangat rentan dengan penyelundupan senjata api. Saat ini kami
masih dalami,” katanya.
Senpi yang digunakan pelaku kejahatan, kata dia, banyak dibeli dari
Bandung. Karena di sana banyak senpi dijual secara industri rumahan.
Untuk meminimalisir peredaran senpi ilegal tersebut, kata Bagus,
pihaknya sudah melakukan operasi. “Kami sudah sering lakukan operasi
peredaran senpi ilegal. Dalam waktu dekat akan kita lakukan
pemusnahan,” katanya.
Bagus menegaskan, ke depan Polda akan melakukan upaya pemberantasan
senjata ilegal secara maksimal. Misalnya dengan memperketat
arus keluar masuk barang di wilayah Provinsi Jambi. Dia juga
mengimbau, agar masyarakat yang memiliki senjata tanpa izin supaya
diserahkan kepada Polisi. “Karena menguasai senpi tanpa izin merupakan
pelanggaran hukum Undang-Undang Darurat,” tambahnya.
Selain itu, pihaknya berusaha menggelar patroli rutin pada saat
jam-jam rawan dan berjaga di tempat-tempat yang dinilai marak aksi
kejahatan. Dia menambahkan, kepolisian terus memantau cara tepat dan
akurat agar ada perhatian dalam proses antisipasi kasus-kasus dengan
senpi. “Bagi siapapun yang terlibat, akan ditindak tegas. Termasuk
mereka yang kedapatan memiliki, apalagi menggunakan senpi ilegal
tersebut,” tegasnya.
Lalu, bagaimana dengan senjata yang memiliki izin resmi? Mabes Polri
merilis, saat ini sedikitnya 18 ribu senjata api (senpi) resmi yang
dizinkan beredar di kalangan warga sipil. Senpi yang masih ada
izinnya, yakni senjata dengan peluru tajam sebanyak 3.000 pucuk,
peluru karet 9.800 pucuk serta senpi yang menggunakan peluru gas 5.000
pucuk.
Dari jumlah itu, senpi yang diizinkan beredar di kalangan warga sipil
Jambi sebanyak 153 pucuk.  Rinciannya, senpi peluru karet 145 pucuk
dan senpi peluru gas delapan pucuk. Jenis senjata api itu antara lain
adalah Revolver, kaliber 22/25/32.
Menurut Bagus Kurniawan, dari total 153 pucuk Senpi yang beredar di
Jambi, 54 di antaranya sudah ditarik. Menurutnya, pemilik senpi resmi
berdasarkan profesi, yakni anggota TNI-Polri 23 pucuk, Bupati dan
anggota Legislatif 23 pucuk, pengusaha 34 pucuk dan PNS tujuh pucuk.
“Yang masih beredar sekitar 90-an, sisanya sudah ditarik,” ujarnya.
Penarikan senpi tersebut, kata dia, disebabkan karena ada perintah
dari Mabes Polri. Selain itu, banyak senpi yang masa berlaku izinnya
habis (expired), namun tidak dilakukan perpanjangan, sehingga wajib
dilakukan penarikan. “Hari ini kami baru menerima perkap yang isinya
perintah untuk menarik senjata jenis Airsoft,” pungkasnya.

Success Story Milik Anak Buah
Kapolda salaman
Selama memimpin satuan, saya selalu memberi kewenangan lebih kepada anak buah saya untuk mengurusi success story yang sudah ditorehkan oleh mereka. Anak buah diberi kesempatan berbicara tentang kinerjanya  sendiri. Diberi reward, khusus Kapolsek dilatih dan diberi kebebasan mengukir prestasinya sendiri, diberi kesempatan mengekspose prestasinya sendiri, dan diberi penghargaan bagi yang paling berprestasi. Reward saya berikan per bulan kepada lima Satker terbaik.
​Ada rasa bangga dan bahagia, ketika tugas yang diemban dari pimpinan berhasil dengan sukses, bahkan di luar deadline. Berikut ungkapan beberapa satuan saya ketika berhasil mengungkap kasus.
Kanit Buser Polresta Jambi Ipda Gita Suhandi Achmadi merasa bangga saat berhasil mengungkap kasus pencurian mobil rental dengan menggunakan kunci duplikat.
Apalagi, menurut mantan Kepala SPK Polresta Jambi ini, keberhasilan tersebut, ketika dirinya baru masuk di Unit Reskrim. Saat menjabat dua hari kerja, ia sudah dipercaya pimpinan untuk mengungkap kasus tersebut.
Bagaimana tidak, sementara deadline kasus yang harus diungkap harus satu pekan sudah selesai. Diakuinya, sempat terbebani dengan tugas pertama tersebut, lantaran tingkat kasus curanmor di Kota Jambi cukup meningkat. “Alhamdulillah, hanya tiga hari, tim kami sudah berhasil mencokok pelaku pencurian mobil rental yang berada di Banyulincir, Palembang,” kata mantan Pengasuh PPSS di AKPOL Semarang ini di ruang kerjanya.
Selain itu, ada kepuasan batin yang tidak bisa diungkap dengan kata-kata dan tidak tergantikan oleh materi. “Pokoknya senang sekali, apalagi terungkap lebih cepat tiga hari dari deadline pimpinan,” ungkapnya bangga seraya menambahkan, “Anggota saya juga merasa lega, atensi dari pimpinan bisa dilaksanakan dengan hasil yang memuaskan.”
Yang lebih penting menurutnya, apa yang kita kerjakan dan bagaimana hasilnya tidak lepas dari do’a kita kepada Allah SWT. “Saya bersyukur sekali kepada Allah SWT, karena tugas berat yang diembannya dipermudah oleh Allah, sehingga berhasil dengan cepat.
Dari hasil yang dicapai tersebut, tidak sedikit ucapan dari anggota, rekan mendarat di ponselnya. Temasuk dari pimpinannya, yang memotivasi agar lebih semangat lagi dalam menjalankan tugas.

Kikuk dengan Kamera Wartawan

Di balik kesuksesan Ipda Gita, begitu rekan dan kawannya menyapa, terdapat kisah lucu dan unik yang selalu terbayang di benaknya, yakni saat penangkapan pelaku pencurian mobil rental di salah satu rumah makan Simpang Raya di Banyulincir, Pelembang.
Saat itu, menurutnya, dia dan anggotanya menyamar menjadi pelayan rumah makan. Salah satu anggotanya melakukan penyamaran dengan memakai handuk, yang tugasnya selalu mengelilingi rumah makan tersebut, guna memonitor pelaku.
Sementara, dirinya dan beberapa anggota buser lainnya, menyamar menjadi pelayan rumah makan. Dalam tugas undercover tersebut, Gita dan anggotanya harus melayani pembeli yang banyak datang. “Mau minum dan makan apa pak? Jadi kami dengan pihak rumah makan seolah-olah tidak terjadi sesuatu yang dirahasiakan,” katanya yang pernah ikut  Misi perdamaian di Sudan sebagai Motor Transfor Oficer (MTO) FPU Indonesia III.
Tidak ada gading yang tak retak. Gita dengan rendah hati mengaku kikuk saat pertama kali berhadapan dengan banyak kamera kawan-kawan media saat mengekspos keberhasilan mengungkap kasus pencurian mobil. “Maklum tidak biasa dengan kamera dan tidak pernah diekspos media,” ungkapnya.
Namun, karena program Kapolda Jambi Brigjen Pol Anang Iskandar adanya succes story harus dimuat media, ia pun harus tampil apa adanya, karena disorot media.
Sayangnya, saat media elektronik menampilkan hasil wawancara keberhasilannya, Gita tidak sempat menontonnya, akibat kesibukan tugas dari pimpinannya yang harus diselesaikan sebagai rasa tanggunggjawab.
Beruntung Gita memiliki istri yang dicintainya, yakni Marissa Hafizah Yuzas Apt, yang mengabadikannya melalui ponselnya. Sesampainya di rumah, hasil ekspos di televisi tersebut menjadi bahan tertawaan istrinya. “Abang tampangnya aneh di TV, tidak cocok jadi selebritis Polisi,” ujarnya yang mengidolakan Jenderal Hugeng, mantan Kapolri jadi panutannya.
Sebenarnya, kata Gita, dirinya enggan masuk di TV atau surat kabar, dikhawatirkan para pelaku kejahatan memonitor wajahnya yang selalu memburu pelaku tindak kriminal.
Succes story ini menurutnya, sangatlah bagus bagi anggota Polisi sebagai wujud hasil kerja yang maksimal. “Bahkan, bagi anggota yang berhasil di lapangan dengan catatan succes story cukup berprestasi, bisa menjadi perbandingan untuk mereka melanjutkan sekolah dan bisa diprioritaskan pimpinannya,” harapannya.
Selain itu, program PMS dan FGD yang dimotori Kapolda Jambi, temasuk pemberian reaword kepada anggota yang berhasil sangat memotivasi Gita untuk menjadi Polisi yang lebih baik lagi, baik di mata pimpinannya, anggota dan termasuk di mata Allah.
“Program Kapolda ini, sangat bagus dan wajar. Jika suatu saat kelak dipercaya menjadi seorang pimpinan Polisi, saya akan mencontoh program Pak Anang, karena sangat efektif untuk mengantisipasi tindak kejahatan,“ tuturnya yang saat ini fokus mengungkap kasus curanmor dan curat dengan modus memecahkan kaca mobil di Kota Jambi.

About anangiskandar

sabar itu indah sabar itu tanpa batas sabar itu jimat menghadapi ujian dunia sabar itu mata hati dalam menjalani kehidupan
This entry was posted in Hukum, Inspirasi, Kepolisian, Leadership. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s